
Waktu terus berjalan.
Kalian tahu, Marisa udah ga tinggal bareng gue lagi. Rizki, Fian sama Marisa udah lulus S1 di jurusan masing-masing.
Fian sama Marisa udah married, mereka pindah ke luar kota. Ya, pada akhirnya Fian berhasil mendapatkan hati Marisa setelah berjuang cukup sulit. Banyak sekali ujian yang harus dihadapi Fian.
Fian tidak mau membuang-buang waktu lagi. Fian melamar Marisa dalam waktu dekat dan dilanjutkan dengan akad. Tiga hari kemudian, resepsi yang diadakan di gedung Mulya Sakti berjalan lancar, resepsi itu sangat mewah mengingat orang tua Fian adalah orang berpengaruh di dunia bisnis. Mereka juga tidak menghiraukan bahwa Marisa merupakan putri dari koruptor, mereka malah senang dengan pernikahan keduanya. Fian meneruskan bisnis orang tuanya yang di luar kota.
Sekarang gue udah masuk fakultas yang gue inginkan, di Kediri ini. Tapi gue sedih, Rizki harus ke luar kota, tepatnya di Bandung buat ngelanjutin study S2-nya. Dia pulang pas semesteran aja.
...****************...
Kuliah gue udah selesai, tapi Rizki belum. Gue pengen kerja, tapi ga dibolehin sama dia, akhirnya gue terusin impian gue buat menerbitkan sebuah novel.
Dua tahun kemudian.
Harusnya Rizki udah balik ke Kediri, tapi nyatanya dia malah ga ada kabar. Gue khawatir kalau Rizki udah punya cewek. Gue sebenernya nggak yakin, tapi kan Rizki ga pernah bilang ke gue secara langsung kalau dia itu suka sama gue.
Dia cuma ngasih surat ke gue, tapi itu dulu. Dia emang bilang kalau gue adalah miliknya, tapi apa gue bisa percaya gitu aja? Oke, gue coba buat ngelupain dia, tapi ga bisa, dia udah masuk ke hidup gue terlalu dalam.
Weekend, semua kakak gue tiba-tiba secara bersamaan datang ke rumah. Ada apa ini? Mereka ngajak gue ke suatu tempat, tapi gue ga dikasih tahu tempatnya di mana. Orang tua sama adik gue juga ikut, mereka pada rapi-rapi semua.
__ADS_1
Kita sampai di sebuah resort terbesar di kota. Gue bingung banget!
Kak Putra tiba-tiba narik tangan gue, gue kaget! Dia ga ngomong apa-apa, dia cuma diam. "Ada apa sih, Kak. Sakit tau!" kata gue ngeluh. Ini kakak gue tumben-tumbenan ke gue kagak pakai perasaan. Udah kayak orang PMS aja!
"Udah, ngikut aja. Anak kecil jangan banyak tanya," kata Kak Putra cuek.
Gue cemberut, sebelumnya dia ga pernah kayak gitu ke gue, lah ini tiba-tiba kayak gini. Kesambet apaan dia?
Kak Putra ngehentiin langkahnya. "Za, aku hitung sampai tiga ya, terus kamu balik badan," kata Kak Putra.
"Kenapa emang?" tanya gue.
Gue takut kalau Kak Putra udah kayak gitu. "Iya, Kak," kata gue sambil tertunduk.
Kak Putra mulai menghitung, pada hitungan ke tiga gue langsung balik badan. Begitu gue balik badan, gue kaget banget.
Gue langsung balik lagi ke arah Kak Putra. "Kak ...," kata gue sambil nunjuk ke suatu tempat. Ada seseorang di ujung sana yang tengah memandang gue sembari tersenyum lebar.
"Iyaa, kenapa ga disamperin?" kata Kak Putra sambil senyum.
"Jadi, ini kakak yang merencanakan?" tanya gue.
__ADS_1
"Bukan-bukan, kamu salah besar kalau mikir kakak yang ngerencanain. Tapi ini semua idenya dia, kita cuma ngikutin kata dia aja," kata Kak Putra.
Sumpah! Rizki ganteng banget, gue ga pernah lihat dia seganteng ini. Gue lihat Rizki sekali lagi. "Kak, kok aku merasa kalo Rizki mau nyamperin kita, ya?" kata gue. Anjr*t, gue deg-degan tahu, pengen teriak sekencang-kencangnya
Kak Putra nengok. "Itu bukan mau nyamperin lagi, tapi dia emang mau ke sini," kata kak Putra.
Deg-degan gue makin parah. Gue berbalik! Damn! Jackpot apa ini Tuhan? Dari Deket makin ganteng parah! Gue menahan senyum. Terharu, Anj! Gue kira dia udah ngelupain gue.
Rizki udah ada di depan gue. Gue cuma diam, ga tahu harus ngomong apa.
"Heyyy, kayaknya lo nggak peduli banget sama gue," kata Rizki tiba-tiba.
Gue masih diam.
"Za, diajak ngomong tuh, kok diam aja," kata Kak Putra berbisik ke gue.
Gue natap Rizki, gue langsung meluk dia, gue nangis ketika meluk dia. "Gue kira lo ga bakalan balik lagi, gue kangen sama lo," kata gue sambil ngelepas pelukannya.
Dia juga menatap gue dalam. Rizki ngehapus air mata gue, Kak Putra cuma diam ngeliatin gue sama Rizki, mungkin dia lagi mengenang masa lalunya. "Nggak semudah itu buat ngelupain lo, lo itu terlalu berharga buat dilupakan. Happy Birthday, Faza," kata Rizki sambil ngeluarin sebuah coklat dari jasnya.
Gue ambil coklat yang berada di tangan Rizki. Gue senyum. "Wait-wait, Happy Birthday? emang gue ulang tahun apa?" tanya gue bingung.
__ADS_1