
Tiba-tiba Marisa datang ke kita. Mukanya lesu, gue ga tau kenapa. Tiba-tiba dia ngedeketin gue. "Gue minta maaf sama lo," kata Marisa.
Gue ga tau apa yang dia maksud. "Maksud lo apaan ngomong kek gitu?" tanya gue.
"Gue udah dua kali buat lo hampir celaka, tolong maafin gue," kata Marisa.
"Celaka gimana maksud lo?" kata Rizki angkat bicara.
"Sebenarnya gue ...," kata Marisa.
Marisa jelasin semua, semua diceritain secara rinci, detail dan nga ada rekayasa sedikitpun. Dia bener-bener ngomong tulus dari hati. Dia nangis.
"Apa?! Nggak mungkin, lo pasti bohong. Tadi lo itu mau nabrak Faza, iya kann?" kata Rizki.
"Enggak, gue udah sadar. Gue tadi ga bisa nyegah orang yang bawa mobil, kebetulan orangnya lagi emosi. Akibatnya Faza jadi korban gue buat kedua kalinya. Gue bener-bener minta maaf," kata Marisa.
"Ohhhh, jadi setelah lo ngebuat Faza hampir meninggal, lo masih berani minta maaf, nga ada artinya permintaan maaf lo. Lo tau, dia itu koma dua minggu gara-gara lo. Gue bener-bener nga nyangka. Gue kira lo ga sejahat itu, ternyata gue salah," kata Rizki.
"Tolong maafin gue, gue bener-bener ga bisa berfikir jernih saat itu. Pikiran gue udah kalut, gue ga tau apa yang gue lakuin. Gue khilaf. Kayaknya gue terobsesi sama lo, Riz. Gue ga bisa ngendaliin diri gue, waktu itu, gue hanya berpikir, gimana caranya Faza jauh dari lo ... selamanya," kata Marisa sambil sesenggukan.
"Keterlaluan lo!" kata Rizki dengan emosi dan akan menampar Marisa. Tapi dicegah oleh Fian.
"Lo kenapa, kenapa lo ngalangin gue?" kata Rizki.
"Biar pun dia salah, tapi gue ga akan ngebiarin lo nyakitin Marisa. Lo bisa tampar gue!" kata Fian ke Rizki.
"Gue ga akan ngelakuin itu. Tapi, gue mau dia dihukum dengan hukuman yang setimpal," kata Rizki.
__ADS_1
"Ya, gue setuju," sambung Devan.
"Enggak, nga akan ada yang akan dihukum," kata gue.
"Maksud lo?" kata Rizki.
"Enggak, Za. Lo bisa hukum gue, gue udah siap," kata Marisa.
"Siap apa? Gue ga nyuruh lo ngapa-ngapain," kata gue sambil senyum miring.
"Za, lo lupa dengan ini?" ucap Devan sambil menunjukkan sebuah vidio.
Marisa mulai keringatan ketika Devan nunjukin video itu. "Enggak, gue masih ingat, ingatan gue malah fresh banget. Mungkin ingatan kalian yang terganggu. Kalian lupa tentang kesepakatan kita hari itu," kata gue sambil senyum kecut.
"Tunggu-tunggu, ada apa sebenarnya di antara kalian?" tanya Marisa.
"Akan gue ceritain. Gini ceritanya ...."
Hari Sabtu, Rizki jemput gue buat berangkat bareng ke rumah Fian. Setelah sampai di sana, ternyata ada Devan, gue nga tau kenapa Devan ada disitu. Fian ngejelasin kenapa Devan ada disitu, dia ngejelasin juga kalau dia sama Devan udah sering banget ngintai Marisa dan mereka dapat video saat gue diserang waktu itu.
Mereka bilang, dengan video itu mereka bisa melihat sosok Marisa ada dibalik jeruji besi. Sebegitu bencinya mereka terhadap Marisa. Gue berfikir untuk memperbaiki semua. Gue ga mau mereka tambah benci sama Marisa. Akhirnya kita set drama, Devan yang ngatur semua adegannya. Devan tau tempat tongkrongan Marisa di mana.
Setelah musyawarah, kita bikin kesepakatan, yang isinya: bahwa kita tidak akan memenjarakan Marisa, selama Marisa bisa ngerubah sikapnya, menjadi pribadi yang lebih baik. Dan selama Marisa, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, video itu ngak boleh bocor. Kalau sampai video itu bocor, orang yang bocorin video itu bakalan dikasih hukuman yang setimpal.
"Ngak adil dong kalo kayak gitu. Masa orang yang ngasih tahu tentang kebenaran malah dapat hukuman!" protes Devan.
"Iya gue setuju. Lo lupa dengan apa yang udah dia lakukan ke elo? Peristiwa itu hampir aja buat lo hampir mati!" sambung Rizki.
__ADS_1
"Za, lo yakin dengan keputusan lo itu? Meskipun gue ada rasa sama Marisa, gue tahu kalo dia salah dan lo tahu sendiri kan, orang yang salah itu harusnya diapakan?" kata Fian.
"Gue tau kok, gue yakin. Gue siap kalo harus nyabut tuntutan gue di pengadilan, gue udah siapin alasannya kok, hakim pasti bakalan ngerti, gue udah pikirin matang-matang. Gue udah tau konsekuensinya jika semua ini nga terjadi sesuai harapan gue, gue tau mau ngapain," kata gue.
Mereka bertiga cuma diam ketika mendengar perkataan gue.
"Van, lo bisa ga ganti adegan pas lo nyelametin, Faza. Biar gue aja dahhh," kata Rizki.
"Kenapa? Lo cemburu? Tenang, gue udah ada cewek," kata Devan santai.
"Udah, ga papa, Ki. Ntar kan lo bisa bikin dia bonyok," kata Fian.
Rizki menatap Devan dengan senyum miringnya.
"Udah, ngapain lo ngelihatin dia kek gitu. Ntar muka lo berdua juga sama-sama bonyok kok," kata gue.
"As*m lo!" cibir Devan ke gue.
"Kan lo yang bikin rencananya, so ... jangan salahin gue," kata gue.
"Kenapa lo yakin banget kalo Marisa bisa berubah?" tanya Rizki.
"Dia butuh kesempatan, kenapa kita nga kasih dia kesempatan untuk berubah. Semua orang butuh kesempatan itu, termasuk gue! Kita harus kasih dia waktu dan kalo waktu yang kita kasih habis, tapi dia belum bisa ngerubah sikapnya, maka kita terpaksa pakai jalur hukum. Gimana, apa kalian sependapat dengan gue?" tanya gue.
"Oke, gue setuju," kata Fian.
"Gue juga," kata Devan.
__ADS_1
"Kali ini gue setuju sama lo," kata Rizki.
"Oke! Gue pegang omongan kalian semua," kata gue. Setelah ada kesepakatan bersama, kita lanjutkan makan-makan, soalnya kita pada kelaparan.