Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng

Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng
25. Pregnant?


__ADS_3

Faza baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk di sebelah suaminya yang sedang mengecek email kantor. Rizki meletakkan handphone yang dipegangnya dan beralih menatap Faza.


“Gimana?” tanya Rizki.


Faza menggelengkan kepala dan menunduk.


“Ga papa kok. Nanti kita coba lagi,” kata Rizki sembari merangkul bahu istrinya. “Mana testpack-nya?” Tangan Rizki menengadah di atas paha Faza. Faza mendongakkan kepala menghadap wajah tampan suaminya, dia mengerutkan keningnya bingung.


“Siniin testpack-nya!” Karena dirasa tidak ada pergerakan, akhirnya Rizki merebut testpack yang dipegang Faza dan segera membuangnya.


“Kok dibuang?” marah Faza.


“Jangan disimpen! Lihatin itu barang cuma bikin kamu sedih, mending dibuang.”


“Ya udah deh.” Ia tidak lagi memberontak, karena memang menyimpan benda itu akan membuatnya bersedih.


“Gimana kalau kita jalan-jalan, udah lama lho kita ga jalan berdua. Gimana? Mau ga? Mau yaaaaa,” Rizki menampakkan puppy eyes-nya.


“Dih, maksa!”


“Harus nurut sama suami!”


“Ya udah. Aku ganti baju dulu.”


Saat Faza mengambil pakaian dan akan pergi ke kamar mandi sebelah, tangannya diraih oleh Rizki. “Eh, eh. Mau ngapain?” kata Faza kaget.


“Ganti baju sini aja.”


“Nga mau ih. Apaan coba?”


“Nyenengin suami dapet pahala lhooo,” ucap Rizki dengan alis naik turun. Bibirnya tersenyum merekah.


“Itu mah, maunya kamu.”


Rizki menutup akses ke kamar mandi dan mengunci pintu keluar. “Udah, ganti di sini aja,” ujar Rizki dengan senyum kotaknya.


“Ish!” Faza mencebik kesal. Setelah berganti pakaian mereka pergi jalan-jalan berdua.


...****************...


Satu bulan kemudian.


Rizki baru saja menyelesaikan meeting-nya dengan para investor besar Indonesia. Pria itu memasuki ruangan dan mendudukkan pantatnya di kursi putar nan empuk kebesarannya, saat sebuah telepon mengganggu kegiatan santainya.


"Papi ngapain nelepon? Spam lagi, tumbenan!" katanya pada dirinya sendiri saat melihat panggilan masuk yang terpampang di layar gadgetnya. Memang saat meeting tadi, Rizki men-silent handphonenya. Setelah menerima telepon dari papinya, Rizki langsung membereskan berkas-berkas yang tadi dipakainya untuk meeting. Rizki keluar dari kantornya dengan tergesa-gesa dan wajah khawatir yang mengiringinya.

__ADS_1


...***...


Seorang pria memasuki rumah sakit dengan wajah tak slow miliknya. Dia mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari penghuni rumah sakit tersebut. Di sana ia melihat papinya sedang duduk tenang di kursi tunggu. Pria itu menghampiri papinya dengan langkah besar.


"Pi. Istri aku kenapa, Pi?" tanyanya setelah sampai di depan papinya.


"Kamu tenang aja, istri kamu bakalan baik-baik aja kok," kata seorang paruh baya yang menjabat sebagai papinya sambil tersenyum.


"Papi gimana sih? Orang istri aku masuk rumah sakit, kok papi malah nyuruh tenang," todong pria itu pada papinya.


"Tunggu kejelasan dokter aja!" Davi menepuk pelan bahu putranya seraya tersenyum misterius.


"Papi aneh, deh!"


Davi mengangkat bahunya tak acuh, pura-pura tak mendengar ocehan putranya itu.


Sesaat kemudian, dokter perempuan dengan name tag Minatozaki Sana keluar dari ruang pemeriksaan.


"Dengan keluarga Ibu Faza?" tanya dokter itu dengan ramah.


Pria itu berdiri dan berkata, "Saya suaminya, Dok."


Dokter itu tersenyum dan berkata, "Mari ikut saya."


"Istri bapak baik. Istri bapak hanya kelelahan saja, ini faktor alamiah karena saat ini Ibu Faza tengah berbadan dua."


Wajah pria itu, yang semula cemas berubah berseri-seri akibat penjelasan dari dokter tadi.


"Maksud dokter istri saya hamil?"


Dokter itu menaikkan sudut bibirnya. "Betul sekali. Selamat kepada bapak karena sebentar lagi akan memiliki momongan."


"Terimakasih, Dok." Pria itu tersenyum tulus.


"Usia kandungan Ibu Faza saat ini masih dua minggu dan ini kehamilan pertamanya, benar bukan?"


"Betul, Dok."


"Jadi, istri bapak harus dikontrol kegiatannya, jangan terlalu capek karena Ibu Faza akan mudah drop. Karena usia dua minggu masih tergolong rawa , apalagi kandungan istri bapak lemah. Untuk pola makannya sekarang dijaga ya, jangan makan sembarangan serta hindari junk food dan soda. Banyak kan makan sayur dan buah serta proteinnya jangan sampai tertinggal. Makanan yang baik akan mempengaruhi perkembangan calon buah hati bapak. Oh iya, saya sudah resepkan penguat kandungan serta vitaminnya," jelas dokter itu memberi pengertian. Kemudian memberikan secarik resep yang harus Rizki tebus.


"Iya Dok, terimakasih. Saya permisi."


"Silakan!"


Pria itu kembali ke ruangan di mana istrinya berbaring. "Loh, Pi? Kok diluar, kenapa ga masuk?" tanya pria itu saat melihat papinya masih di luar ruangan, sementara dokter yang memeriksa telah keluar.

__ADS_1


"Kamu aja, Papi mau cari makan dulu."


Pria itu hanya mengangguk saja kemudian berlalu masuk. Sebenarnya Davi tidak lapar, hanya saja ia ingin memberikan waktu pada anak dan menantunya untuk berdua.


Pria itu memasuki ruangan dan melihat istrinya tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Pria itu mendekat dan mengusap pipi gembul istrinya.


"Sayang, bangun ...," kata pria itu lirih lalu mengecup kening sang istri.


Setelah beberapa saat wanita yang biasa dipanggil Faza itu membuka matanya. Begitu membuka mata ia dihadapkan oleh mata tampan, damai, tentram milik suaminya. Pria itu kembali mengecup wajah sang istri yang baru membuka mata dan terakhir mengecup bibirnya sekilas.


"Makasih, ya," ucap pria itu di sela-sela kecupannya.


Istrinya menautkan alis bingung, setahunya tadi ia sedang memasak, kenapa tiba-tiba ada di RS. Lalu berterima kasih untuk apa pula?


"Terimakasih untuk apa, hm?"


Pria itu membisikkan sesuatu pada istrinya sambut mengusap perut rata sang istri dan itu membuat sang istri meneteskan air mata.


"Ja–jadi, aa–aku hamill?" ucap wanita itu di sela tangisannya. Pria itu menganggukkan kepala.


"Udah dong, jangan nangis lagi." Pria itu mengusap lembut air mata sang istri lalu mel*mat lembut bibir sang istri. Mereka melepaskan pag*tan bibir tersebut setelah kesekian menit.


Saat mereka ingin menyatukan kembali bibir, sebuah deheman mengejutkan mereka.


"Ekhem!"


"Papi ganggu aja," kata pria itu pada seorang paruh baya yang barusan mengganggu kesenangannya.


Wanita itu menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya, karena terciduk oleh mertuanya. Satu kata. Malu! Wajah wanita itu merona.


"Ini masih di rumah sakit, lanjutin aja di rumah!"


Wanita itu bertambah merona karna perkataan mertuanya.


"Papi cari istri lagi sana!"


Davi memukul pelan pundak putranya, enak saja berbicara seperti itu. "Papi harusnya gendong cucu bukan gendong anak, ya kan Sayang?" kata Davi pada menantunya. Faza hanya tersenyum malu.


"Kan cari istri ga harus buat gendong anak, Pi. Kan buat nemenin Papi juga bisa. Emang Papi betah nyolo terus?" kata Rizki sambil tersenyum jahil.


"Rizki! Ini lagi di rumah sakit, jaga bicara kamu!" Mata Davi menyorot tajam ke arah putra satu-satunya. Rizki memang kurang ajar! Lain dengan Faza, ia terkekeh pelan, sudah biasa ia melihat suami nakalnya ini menjahili ayahnya.


"Iya, Pi." Rizki memperlihatkan wajah cemberut pada istrinya, karena lagi-lagi kupingnya menjadi mangsa tangan papinya.


...FIN...

__ADS_1


__ADS_2