
Rizki sama Kak Putra ngelihatin gue, gue langsung buka HP buat lihat tanggal. Ternyata hari ini tanggal kelahiran gue. Gue kok bisa lupa, ya? Gue ngelihat Rizki sama Kak Putra, gue lihat mereka bergantian sambil meringis.
"Lo mikirin gue ya, sampai lupa hari besar lo," kata Rizki.
"Dihh, PD amat lo," kata gue jutek.
"Ya udah, kita langsung balik aja ya, soalnya semua anggota keluarga udah pada nungguin," kata Kak Putra.
"Anggota keluarga? Emang mereka kenapa, kok nungguin kita segala?" tanya gue yang heran bercampur ngelag.
Kak Putra sama Rizki cuma diam, ya udah, gue ikut ikutan diam. Sesampainya di sana gue kaget, semua anggota keluarga berkumpul.
Kak Putra nyuruh gue duduk di dekat dia. Papa mulai ngomong. "Ternyata anak Papa udah besar, Papa yakin kamu pasti bisa memilih mana yang baik dan buruk buat kamu. Hari ini usia kamu genap 23 tahun, selamat ulang tahun, Sayang," kata papa sambil ngecup gue. Iya, jadi gue duduk di antara papa sama Kak Putra.
Papa mimpin doa atas berkurangnya umur gue. Selesai doa, bokapnya Rizki ngomong sesuatu ke gue. "Nak Faza!" kata papahnya Rizki.
"Iya, Om," jawab gue.
"Mungkin ini terlalu cepat buat kamu. Om yakin, kamu pasti bingung dengan semua ini. Jadi, inti dari acara ini Om mau melamar kamu untuk menjadi calon istri dari anak saya, Rizki. Jadi, apa kamu bersedia menjadi calon menantu saya?" kata papahnya Rizki.
__ADS_1
Gue kaget begitu mendengar perkataan bokapnya Rizki. Gue bingung mesti gimana, gue diam aja. Semua orang juga ikut-ikutan diam.
"Kak, jangan diam dong. Tinggal bilang bersedia aja susah amat," kata adik gue memecah keheningan. Gue melototin dia, dia langsung diam.
"Kak, gimana dong ...," kata gue ke Kak Putra dengan berbisik. Kak putra cuma ngelihatin gue.
"Orang kamu yang ditanya, kamu malah nanya kakak kamu," kata mama.
Gue ga hiraukan perkataan mama, gue ngelihatin Kak Putra. Dia mulai risih gue lihatin, dia akhirnya ngomong. "Kamu ikuti kata hati kamu, kakak yakin kamu pasti udah tau mau jawab apa," kata Kak Putra.
Rizki yang sebelumnya duduk di samping bokapnya, dia malah ngedeketin gue. Bikin nervous aja ini anak! "Gimana, lo mau kan terima lamaran gue?" tanya Rizki.
"Kalo gue ga mau gimana?" tanya gue balik.
"Lo nga mungkin ga tau apa jawaban gue, lo ga perlu bertanya lagi sama gue. Gue yakin lo pasti tau jawabannya, apa yang lo yakini, itu jawaban gue," kata gue sambil natap dia.
Dia akhirnya senyum, memandang berbinar ke arah papanya. "Pah, lamaran kita diterima," kata Rizki kemudian.
Sedangkan gue meluk Kak Putra, gue malu coyy.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kita akhirnya bisa jadi besan juga," kata papahnya Rizki ke papa gue.
"Bukan besan kali Om, tapi masih calon," kata Kak Kirana.
"Ya, maksud Om juga gitu," kata papahnya Rizki. Kita semua ketawa.
"Eum, gimana kalo pernikahannya satu bulan lagi?" tanya papanya Rizki ke papa gue.
"Saya sih terserah anak-anak aja," kata papa gue.
"Kamu gimana, Ki?" tanya papa Rizki ke Rizki.
"Aku oke, Pah," kata Rizki sambil menatap gue mantap dan setelah itu ngelihat papanya lagi.
Gue melotot ke arah dia. Dia malah ngelus rambut gue. "Ga kecepatan kok, kasian elonya kalo ga segera diresmikan. Nganggur lama-lama juga ga enak," kata Rizki berbisik ke gue.
Gue melotot untuk yang kedua kalinya, yang ini malah diketawain sama orang-orang. Gaje bet dah mereka.
"Ikut gue!" kata Rizki.
__ADS_1
Gue dongak ke dia, gue natap dia. Dari tatapan itu mengatakan 'apa?'.
"Ikut aja yuk! Lo pasti suka," kata Rizki lagi. Gue pun ngangguk. "Semuanya, saya izin bawa pergi Fazanya sebentar!" kata Rizki yang diangguki oleh semuanya.