
Hari udah pagi.
"Bangun tukang tidur, kamu kapan sehatnya kalo tidur melulu," kata Kak Elvin sambil membuka korden.
Gue masih ngriyip-ngriyipin mata, gue masih ngantuk banget. Kak Putra ngedeketin gue, dia nyolek gue. "Kamu ya yang semalam selimutin kita?" tanya Kak Putra ke gue sambil berbisik di telinga gue.
"Enggak," jawab gue di deket telinga Kak Putra.
"Masa?" tanya Kak Putra balik.
"Dihh, jadi orang ga percayaan banget. Aku kan nga boleh turun dari tempat tidur, gimana aku bisa nyelimutin kalian," kata gue.
Dia cuma senyum, dia bilang di dekat telinga gue kalo dia sayang sama gue, dia ngecup gue terus pergi. Kak Putra emang gitu orangnya, dari semua kakak-kakak gue, Kak Putralah yang paling dekat sama gue.
Suster yang kemarin lagi meriksa keadaan gue, gue ngedipin mata ke suster. Gue bilang makasih. Gue minta tolong suster buat nyelimutin kakak-kakak gue setiap mereka jaga gue, susternya mau. Alhamdulillah, susternya enak diajak kompromi.
Gue diajak jalan-jalan sama kakak-kakak gue, ga enak banget tapi, soalnya gue pake kursi roda. Kita keliling rumah sakit nyari udara segar. Gue udah balik ke kamar lagi, gue nanya ke suster kapan bisa pulang. Gue ternyata baru bisa pulang 3 hari lagi, gue udah bosen banget di rumah sakit, gue kangen sekolah. Kakak-kakak gue jaga gue bergantian selama 2 hari, hari ketiga gue dijaga Kak putra sama adik gue, kebetulan malam Minggu jadi dia bisa ikut ke rumah sakit soalnya besok libur.
Gue udah keluar dari rumah sakit. Kakak-kakak pada balik ke luar kota besok hari Senin. Hari ini Rizki sama temen-temen jengukin gue di rumah.
__ADS_1
Temen-temen gue nanya, "Za, besok lo sekolah pa kagak?" tanya Ifi.
"Gue sih pengennya sekolah, tapi kalo emang belum sembuh bener, gue kayaknya belum boleh sekolah," kata gue manyun.
"Kita baru tau kalo lo punya banyak saudara," kata Una.
"Gue emang ga pernah cerita ke kalian kalo gue punya kakak banyak," kata gue.
Kita bercanda-bercanda. Rizki yang dari tadi ngobrol sama kakak-kakak gue malah nyamperin gue. Temen-temen gue pergi.
"Lo besok kalo mau sekolah, mau gue anterin ga?" kata Rizki.
"Kenapa?" tanya dia.
"Ga pengen aja, besok kakak-kakak gue pulang. Sebelum pulang mereka mau nganterin gue, mereka pengen tau sekolah gue," kata gue.
"Ouh," kata dia cuek.
"Lo waktu itu kok tau kalo gue pingsan terus lo langsung bawa ke rumah sakit?" kata gue.
__ADS_1
"Gue ga tau, gue dapat telepon dari Fian. Fian bilang dia ngelihat lo pingsan di pinggir jalan, dia langsung share lokasi. Terus gue langsung ke sana dan bawa lo ke rumah sakit. Dan lagi keadaan lo waktu itu bisa dibilang ... mengenaskan," kata Rizki.
"Fian?" tanya gue.
"Iyah, Fian," kata Rizki.
"Fian tau ga orang yang ngelukain gue itu siapa?" kata gue.
"Lo tanya aja sama dia," kata Rizki.
Gue ngobrol sama dia lama banget. Temen-temen gue pamit pulang, Rizki juga ikut-ikutan pulang.
"Sedih ya, ditinggal pulang sama cowok yang kita suka," kata Kak Mia yang tiba-tiba udah ada di samping gue.
"Apaan sih Kak, enggak yahh," kata gue.
"Jangan bohong kamu, kakak nih juga pernah suka sama orang lo," kata Kak Mia.
"Bukan hanya suka, malahan udah nikah," cibir gue. Kita ketawa bareng.
__ADS_1