
Ana tengkurap sambil membaca novel yang dibelinya sepulang sekolah, memang tadi sebelum kembali ke rumah ia meminta pada supir untuk berhenti di toko buku sebentar. Novel terbaru dari penulis favoritnya, Asma Nadia.
Suara ketukan pintu terdengar, diikuti suara bass yang menyebut namanya. Ana mengambil pembatas novel, lalu menutupnya. Gadis itu beranjak, berjalan membukakan pintu. "Sebentar, Kak."
Pintu terbuka, menampilkan Ervan yang berdiri menggunakan piyama. "Kenapa, Kak?" tanya Ana sambil menaikkan alis.
"Kakak boleh masuk? Kakak pengen bicara di dalam sama adek," ucap Ervan sambil menatap manik jernih Ana.
"Boleh," jawab Ana singkat, gadis dengan rambut terurai tersebut kembali menaiki kasur, meninggalkan Ervan yang masih menutup pintu.
"Mau bicara tentang apa?" tanya Ana ketika Ervan sudah duduk di hadapannya.
Ervan menatap Ana tulus, tangan besarnya meraih tangan Ana yang lebih kecil darinya. "Dek, kakak mau minta maaf masalah satu minggu yang lalu," Ervan menggeleng ketika Ana akan memotong ucapannya, gadis itu kembali mengatupkan bibir.
__ADS_1
"Kakak keterlaluan banget malam itu, ngehina kamu cuma karena gengsi. Kakak emang udah pernah minta maaf, tapi itu karena terpaksa. Ayah mergok kakak lagi balapan liar di jalan Rinjani, jalanan sepi belakang RS Sukma Jaya. Kakak balapan sama temen SMA lama. Ayah marah banget ketika tahu, katanya, mereka itu bawa pengaruh buruk buat kakak dan itu memang benar.
"Kakak dibawa Ayah naik mobil, sementara motor kakak disuruh ambil salah satu bodyguard Ayah. Kita diam-diaman di mobil yang dikendarai sampai rumah, Ayah suruh kakak masuk kamar dan di situ Ayah nasehatin panjang lebar. Kakak ga boleh berteman sama mereka lagi. Ayah tahu kalau kakak belum minta maaf sama kamu soal malam itu, akhirnya kakak minta maaf dengan paksaan Ayah. Sekarang kakak mau benar-benar minta maaf sama kamu, Dek. Dan terima kasih, karena permintaan sederhanamu bikin kakak jadi orang yang lebih baik."
Ana tersenyum, matanya berkaca-kaca mendengar cerita Ervan. "Aku udah maafin kakak, aku senang akhirnya kakak bisa melawan ego. Aku juga mau minta maaf, malam itu aku kesel banget. Aku pengen mukul kakak saat itu juga, tapi masih ada Ayah dan Ibu, jadinya gak jadi."
Ervan melepas genggamannya, mengusap rambut Ana pelan. "Kamu emang adik paling pengertian. Kalau gitu kamu pukul Kakak sekarang aja."
Ervan terkekeh, remaja yang menjabat sebagai kakaknya tersebut menceritakan hari-harinya yang berat selama satu minggu di sekolah. Karena sikapnya yang abai, Ervan tidak disenangi oleh teman sekelasnya.
Tapi pagi ini, seorang gadis meminjaminya topi dengan tulus, sangat berbeda dengan saat di sekolahnya dahulu. Mulai hari ini, Ervan bertekad untuk membangun kembali circle pertemanannya yang baru dan belajar untuk menghargai siapa pun.
Ana senang keinginannya untuk memiliki teman yang tulus akhirnya terwujud, ditambah dengan ia berbaikan dengan Ervan, kebahagiaannya tumbuh dua kali lipat. Ia juga tidak menyangka, perubahan sikap kakaknya tergolong baik. Kakaknya lumayan cepat beradaptasi, padahal aslinya kakaknya sangat menentang ide pindahan mereka. Meskipun di minggu pertama, Ervan masih belum berkembang. Tapi melihat bagaimana kakaknya berlaku pada temannya siang tadi, membuat dirinya cukup bangga.
__ADS_1
"Dek, kok ngelamun?" Ervan menyenggol lengan adiknya yang tengah tersenyum-senyum sendiri. "Pasti, nemu gebetan baru, ya?"
Ana seketika terkesiap dengan ledekan kakaknya, pipinya bersemu agak merah meski tuduhan itu tidak benar. "Nga kakak, kakak mungkin yang punya gebetan baru," balasnya.
"Ngaku aja kali! Kakak tadi lihat kamu merhatiin lama temen Kakak. Kamu suka kan, sama salah satu dari mereka?"
Rona di pipi Ana semakin tampak karena ulah jahil Ervan. Keseluruhan wajah Ana memerah karena ledekan Ervan. Ia menatap Ervan cemberut dan bersiap dengan tangan memegang guling—bersiap memukul Ervan.
"Kakak, ish! Nyebelin!! Siapa juga yang ngelihatin temen Kakak?"
Remaja laki-laki itu nampak tidak bersalah, ia hanya menatap adiknya yang nampak kesal. Rasanya senang bisa kembali berbaikan dengan gadis itu dan menjahilinya kembali.
...FIN...
__ADS_1