
Sekarang gue udah kelas XII, gue udah mau lulus. Semua terasa begitu cepat.
Hari ini Rizki ngajak gue jalan, gue ga tau mau di ajak ke mana, gue ngikut aja. Kita udah sampai di lokasi, tempatnya rilex banget, gue betah di tempat ini. Kita duduk di pinggir danau.
"Lo tau gak, kenapa gue ngajak lo ke tempat ini?" tanya Rizki. Gue geleng-geleng.
"Lo ingat ga, gue lagi cerita sama lo, terus lo tinggal tidur?" tanya Rizki lagi.
"Iya-iya, ingat. Yang di rumah Fian itu, kan?" tanya gue.
Rizki cuma senyum. "Lo tau ga, gue waktu itu cerita apaan ke lo?" kata Rizki.
"Ya enggak lah, orang gue tidur. Gimana bisa tau," kata gue.
Rizki terkekeh. "Eh, lo itu kalo tidur lucu tau nggak," kata Rizki.
"Lucu dari mananya, orang tidur kok lucu," kata gue.
"Ya ... lucu aja. Gue boleh cerita ga?" tanya Rizki.
"Enggak," jawab gue cuek.
"Lohhh, kok enggak?" tanya Rizki sambil nyolek hidung gue.
"Ihhh, apaan sih. Pokoknya lo ga boleh cerita, nanti kalo gue tidur lagi gimana, ntar susah lo ngebanguninnya," kata gue.
Rizki gelitikin gue, gue gelii. "Ihhh ... ampun-ampun, gue geli tau!"
Dia tetep gelitikin gue, apa sih maunya ini anak. "Ok-ok, lo mau cerita apa?" tanya gue. Dia baru mau berhenti gelitikin gue. Dasar, nyebelin!!
__ADS_1
"Lo tau gak, kalo nyokap gue udah ga ada. Lo pasti udah tau, dikasih tau Fian kan lo??" kata Rizki nyerocos.
"Gimana sih lo, tadi nanya, terus dijawab-jawab sendiri. Tau gitu ga usah nanya," kata gue sebel.
Rizki cuma ketawa. "Lo tau nggak kalo ternyata yang mindahin gue ke rumah sakit itu ternyata nyokap gue," kata Rizki.
"Hah?? Bukannya nyokap lo udah meninggal?" tanya gue.
"Benar. Gue masih ga percaya kalo orang itu nyokap gue. Setelah gue balik ke tubuh gue, gue nanya ke pihak RS. Mereka bilang orangnya itu kek nyokap gue, namanya aja sama. Awalnya gue juga ga percaya, tapi akhirnya gue percaya. Gue nganggep itu permintaan maaf dari nyokap gue," ungkap Rizki, yang membuat gue semakin penasaran.
"Are you kidding me?" tanya gue.
Rizki menggeleng pelan. "Gue serius. Udah, lupain. Lo tau nga kalo gue itu benci banget sama cewek," kata Rizki.
Gue kaget. "Apa?! Lo benci sama cewek? Jadi, lo artinya benci dong sama gue," kata gue ceplas-ceplos, muka gue berubah mendung.
"Biasa aja kali mukanya, cemberut gitu!" kata Rizki.
"Iya, itu emang bener. Tapi itu dulu!" kata Rizki.
"Dulu?" tanya gue.
"Iya, dulu. Setelah nyokap gue meninggal, gue jadi benci sama cewek," kata Rizki.
"Benci? Kenapa? Apa alasannya?" tanya gue nyerocos.
"Nyokap gue meninggal waktu gue masih kecil. Sebelum meninggal dia pernah janji ke gue, kalo dia ga bakalan ninggalin gue, tapi ternyata nyokap malah pergi untuk selamanya. Sejak saat itu, gue mulai benci sama cewek, gue pikir semua cewek itu sama, pembohong. Tapi, gue nemuin sesuatu dari lo yang udah buat gue sadar, kalo keyakinan gue selama ini itu salah.
"Gue awalnya ga percaya sama lo, tapi gue ngeyakinin diri gue sendiri dan terbukti kalo keyakinan gue selama ini itu salah. Dan gue nganggep kejadian di rumah sakit sebagai permintaan maaf nyokap gue, akhirnya gue bisa maafin dia. Dari situ gue belajar untuk mengikhlaskan kepergian nyokap gue, gue sadar kalo kepergian nyokap gue itu bukan keinginannya, tapi ... kehendak Tuhan," kata Rizki sambil mengusap air matanya yang akan menetes.
__ADS_1
Gue lihat Rizki mau nangis, gue langsung meluk dia. Entah berapa lama gue meluk dia, pokoknya sampai dia ga sedih lagi. "Dengerin gue, lo nga boleh sedih, lo nga boleh nangis. Lo ga mau kan kalo nyokap lo ikut-ikutan sedih, karena anak kesayangan nangisin dia. Hapus air mata lo! Kita ke makam nyokap lo, yuk! Kata bokap lo, lo udah lama ga ke sana. Pasti nyokap lo kangen! Nanti kita beli bunga di deket pintu masuk, pasti banyak penjual bunga di situ," kata gue sambil senyum.
Rizki ngelihat gue, dia ngelepas pelukan gue. Dia langsung berdiri. "Ayuk," ajaknya.
"Ke mana?" tanya gue.
"Kan tadi lo ngajak ke makam nyokap gue," kata Rizki.
Gue senyum dan langsung berdiri. "Ayuk," kata gue sambil senyum.
Kita pergi dari tempat itu dan langsung menuju makam nyokapnya Rizki. Setelah markirin sepeda motor, kita beli bunga yang deket sama area parkir. Habis itu kita langsung menuju tempat nyokapnya Rizki disemayamkan.
Kita berdoa di sana, baca surat-surat pendek. Setelah kita selesai berdoa, kita langsung pulang. Rizki nganterin gue pulang. "Makasih ya buat hari ini," kata Rizki.
Gue senyum. "Kalo lo butuh temen buat ke makam, lo bisa ajak gue," kata gue.
"Pasti! Gue ga tau mesti ngajak siapa lagi, Papa selalu sibuk dengan urusannya, dia kalo pergi ke makam selalu pagi. Padahal, gue waktu pagi selalu sibuk. Gue juga ga mungkin ngajak Fian," kata Rizki.
"Lo tenang aja, kalo gue bisa, pasti gue temenin," kata gue sambil senyum.
Rizki narik gue ke pelukannya, dia nyandarin kepala gue di dada bidangnya, mengingat gue yang lebih pendek dari dia. "Thank you so much, baby. Ya udah, gue pulang dulu ya," kata Rizki sambil melepaskan pelukannya yang sebelumnya nyium kening gue.
"Ga usah malu-malu, toh pada akhirnya lo juga akan jadi milik gue," kata dia yang ngelihat rona merah di pipi gue.
"PD gila!!" kata gue.
"Udah takdir!" kata dia dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Katanya tadi mau pulang? Kok ga jadi?" peringat gue.
__ADS_1
"Mengalihkan pembicaraan, hm? Gue pulang dulu yaa," kata dia setelah ngacak rambut gue bentar.
"Ok, hati-hati ya," kata gue. Rizki pergi.