
Hari Senin, gue jadi ke sekolah dengan diantar kakak-kakak gue. Habis nganter gue mereka mereka lihat-lihat lingkungan sekolah gue. Setelah dari sekolah, mereka jalan-jalan sebentar ke SLG (Simpang Lima Gumul), setelah itu baru pulang dan istirahat.
Jam 11 baru mereka pulang ke kota mereka lagi. Gue kesepian lagi deh. Polisi masih belum nemuin orang yang ngelukain gue siapa. Selama 1 Minggu gue dijemput sama Rizki.
Gue nelpon Fian.
"Halo?" kata Fian.
"Lo tau ngak orang yang ngelukain gue waktu itu siapa?" tanya gue.
"Gue ga tau, gue nyampe orangnya udah pergi. Gue sempet lihat sedikit, orangnya itu pake jubah hitam, serba hitam," kata Fian.
"Ya udah, makasih," kata gue langsung matiin telepon.
Selama satu Minggu ini, gue dijagain ketat sama Rizki. Gue harus extra hati-hati terhadap orang yang ada di dekat gue. Gue ga bisa kayak gini terus, gue coba mengingat sesuatu, tapi gue tetep ga bisa.
__ADS_1
Temen-temen gue datang menghampiri gue yang sedang menyendiri. Mereka tahu kalo gue coba mengingat-ngingat kejadian itu.
"Lo jangan maksain diri lo, gue yakin lo pasti bisa ingat lagi. Tapi lo jangan maksain diri, semua itu butuh waktu. Biarlah waktu yang menjawab," kata Ifi.
Dua hari kemudian perkataan Ifi menjadi kenyataan. Saat pelajaran olahraga di sekolah, temen gue ga sengaja dorong gue, gue kejedot, nabrak tembok. Gue pingsan.
Setelah pingsan gue akhirnya mulai mengingat sesuatu. Gue cerita ke temen-temen gue. Gue langsung nelpon papa sama mama gue, mereka ngajak gue bersaksi di kantor polisi.
Gue masih mikir, kayaknya ada sesuatu yang penting terus gue lewatin. Gue mulai mengingat ingat, gue ingat. Gue langsung nelpon Rizki sama Fian, gue VC mereka, dan kedua-duanya tersambung.
"Serius lo?" tanya Fian.
"Serius lah gue, gue minjam tempat lo lagi. Tenang aja, ini bukan masalah pribadi. Pertemuan ini menyangkut kepentingan kita," kata gue.
"Maksud lo apaan? Kita masih ga ngerti," Kata Rizki.
__ADS_1
"Gini, kalian cukup ikutin gue aja. Gue mau pertemuan kita itu, besok! Kalian bisa kan kalo besok, gue tau kalian ga ada kuliah besok. Lebih cepat lebih baik! Mungkin ini sedikit menyakitkan, terutama buat lo, Yan!" kata gue.
"Maksud lo apaan?" tanya Fian dengan emosi yang tiba-tiba meledak. Wajah yang sedari tadi santai langsung berubah emosi.
"Gue ga bermaksud apa-apa. Gue tegasin sekali lagi, ini buat kepentingan kita, bukan kepentingan pribadi gue. Gue tau lo marah, tapi kita lihat aja besok. Kalian setuju, kan?" tanya gue.
Rizki sama Fian sama-sama setuju. "Apapun yang terjadi, kita harus tetap konsisten, kita udah sepakat," kata gue.
"Lo nga mau ngasih tau kita, setidaknya lo ngasih tau tentang tujuan kita membuat kesepakatan kayak gini itu apa!" kata Rizki.
"Enggak, gue ga bisa ngasih tau sekarang. Ya udah, gue mau nyiapin rancangan dulu buat besok," kata gue.
"Ya udah, terserah lo," kata Rizki.
"Iyah," sambung Fian.
__ADS_1
Gue matiin telepon. Besoknya kita jadi ngumpul, kita bahas rancangan yang udah gue buat dan mereka setuju.