Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng

Keserempet Cinta Si Arwah Ganteng
20. Syukurlah


__ADS_3

"Alhamdulillah. Dok, kita boleh masuk?" tanya gue ke dokternya.


"Boleh-boleh, silahkan!" kata dokternya.


"Makasih, Dok," kata gue sambil senyum.


Kita masuk, dan melihat kalau Fian udah sadar. Cepet amat sadarnya, jangan-jangan dia cuma pura-pura pingsan lagi.


"Yan, gimana lo sekarang, lo baik-baik aja, kan? Gue minta maaf, gue nyebrang nga lihat-lihat dulu, harusnya tadi gue yang ketabrak, bukan elo. Lo tenang aja, soal—"


Perkataan Marisa terpotong oleh jari telunjuk Fian yang tiba-tiba menempel di bibir Marisa. Fian menggeleng-gelengkan kepala. "Lo nga salah kok, gue tau lo buru-buru. Mungkin gue juga akan ngelakuin hal yang sama kayak yang lo lakuin. Lo ga perlu ngelakuin apa-apa buat gue, ngelihat lo di sini, gue udah seneng kok," kata Fian.


"Tapi gue ga bisa lama-lama di sini, gue harus pergi. Gue nanti bakal hati-hati kok, lo jangan khawatirin gue. Lo jaga diri baik-baik. Besok gue kesini," kata Marisa penuh keyakinan.


"Ya udah, apa lo mau dianter Devan atau Rizki, biar ada yang jagain lo?" kata Fian.


"Makasih, tapi gue sendiri aja! Gimana kepala lo, apa masih sakit?" tanya Marisa.


"Enggak kok, ini udah mendingan," kata Fian.


"Bagus kalo gitu. Ya udah, gue langsung pergi ya!" kata marisa.


"Kalau ada apa-apa lo jangan ragu buat nelepon gue atau yang lain," kata gue ke Marisa.

__ADS_1


"Iya, pasti. Makasih ya, ya udah gue—" kata Marisa sambil nunjukin kalau dia mau pergi.


"Oke!" kata gue.


Marisa pergi ninggalin kita. Kita akhirnya bercanda-canda sama Fian, buat ngehibur dia. Devan ngajak pulang, gue sama Rizki juga ikutan pulang.


Saat kita mau keluar, kita papasan sama keluarga Fian. Pas banget, kita pulang, keluarganya Fian pada datang.


Gue udah sampai di rumah, gue dianter pulang Rizki. Gue cerita ke orang tua gue, tentang apa yang sebenarnya terjadi dan tuntutan keluarga gue ke polisi. Gue ngomong kalau gue mau tuntutan itu dibatalkan.


Mereka awalnya marah sama gue, tapi akhirnya mereka ngerti. Mereka bangga sama gue. Bokap cerita ke kakak-kakak gue, kakak gue juga bangga sama gue, bahkan mereka ngedukung banget pendapat gue.


Jam 8 malam, Marisa nelpon gue, dia curhat ke gue. Ternyata bener papahnya Marisa terlibat korupsi di kantornya. Semua aset-aset telah disita, bahkan rumah Marisa juga kesita. Dia bingung mau tinggal di mana, untuk sekarang dia nginep di mushola.


Gue nawarin dia buat tinggal di rumah gue, tapi dia ga mau. Gue cerita ke Rizki, Rizki juga udah tahu dari papanya. Papanya Rizki itu temen Papahnya Marisa. Bokapnya Rizki udah coba bujuk Marisa buat tinggal bareng mereka, tapi Marisa ga mau. Canggung kan, kalau harus tinggal cuma satu rumah yang ceweknya cuma dia seorang.


"Lo kenapa ga nginap aja di rumah Faza, Faza sama keluarganya juga ga keberatan," kata Fian ke Marisa.


"Iyah, lo nga papa nginep di rumah gue. Orang tua gue juga ga keberatan, mereka malah seneng kalo lo mau tinggal di rumah kita," kata gue.


"Tapi ...." Perkataan Marisa belum selesai, tangan Fian megang tangan Marisa.


"Udah, lo ngikut aja. Semuanya pasti akan baik-baik aja," kata Fian nenangin Marisa. Marisa ngangguk tanda persetujuan.

__ADS_1


"Ya udah, nanti lo beresin barang-barang lo dan kita langsung berangkat ke rumah gue," kata gue. Marisa cuma senyum. "Ya udah, nanti lo bantuan Marisa ya, gue masih ada urusan," kata gue ke Rizki.


"Emang lo mau ke mana?" tanya Rizki.


"Ke kantor polisi, buat nyabut tuntutan," ucap gue sambil berbisik, "Gue titip ya, soalnya nanti gue langsung balik. Yan, Sa ... gue pulang dulu, ya," kata gue sambil ninggalin mereka.


Gue pergi ke kantor polisi dengan bonyok gue. Gue pulang duluan naik ojek, bonyok gue pergi berdua, gue ga tau mereka ke mana, kencan mungkin. Adik gue udah ada di rumah, gue langsung masuk dan istirahat.


Tidak lama kemudian, Marisa sama Rizki datang. Gue bantuin mereka buat ngeletakin barangnya Marisa. Rizki langsung pulang.


Gue cerita-cerita sama Marisa.


Marisa cerita. "Mungkin habis ini, gue udah ga lanjutin kuliah lagi," kata Marisa.


"Loh kenapa?" tanya gue.


"Lo tau sendiri kan, gue sekarang numpang di rumah lo, gimana gue mau lanjutin kuliah, buat makan aja ga ada," kata Marisa.


"Kalo soal makan, lo ga perlu khawatir," kata gue.


"Makasih ya, gue udah banyak berhutang budi sama lo," kata Marisa.


Gue cuma senyum buat nanggepin Marisa. Gue udah ngantuk banget soalnya. Marisa tahu kalo gue ngantuk, dia nyuruh gue tidur. Gue tidur, gue ga tahu apa yang dilakukan Marisa tanpa gue.

__ADS_1


Gue udah bangun, bonyok gue udah pulang. Marisa lagi bantuin nyokap gue masak, kelihatannya Marisa udah mulai berubah. Gue seneng.


Besoknya gue ke sekolah, Marisa bener dia ga kuliah. Gue ke sekolah. Gue cerita ke Rizki, Rizki bilang kalo Marisa ga mau masuk kuliah dia bakal didatengin sama dosennya. Soal biaya, bokap Rizki yang biayain. Buat uang jajan, bokap Rizki juga yang ngasih. Gue mau cerita ke Marisa, tapi sama Rizki dicegah, biar surprise katanya. Gue nurut aja. Dan bener Marisa emang didatengin sama dosen, gue pura-pura ga tahu soal itu. Gue sama Rizki diam aja.


__ADS_2