
Aku merebahkan diriku diranjang milik Dirga setelah aku menidurkan Dira yang merengek untuk dibacakan dongeng. Aku menghela nafas, kemudian tersenyum kecil.
Seperti ini ya rasanya menjadi seorang ibu? Aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Memang sangat melelahkan, karena Dira terus-terusan selalu minta disampingku dan harus menuruti semua permintaannya. Walau begitu, aku senang.
Dira adalah anak yang cerdas dan pintar, aku yang bukan Ibu nya saja sangat bangga mempunyai putri seperti dirinya. Dira seperti tak mau jauh dariku.
Buktinya saja, tadi dia merengek memintaku untuk tidur bersamanya. Tapi sialnya si tuan Dirga itu membicarakan tentang rencana membuat 'Adik' untuk Dira.
Hei ayolah, aku ini bukan ladang pembuatan bayi. Apalagi aku dan Dirga tak ada ikatan apapun. Melainkan hanya seorang 'Patner'.
'Patner' yang ku maksud, kalian tau kan?
Aku bingung, sampai kapan sih ini? Aku seperti jatuh dalam lubangku sendiri. Andai jika aku tak kabur dari panti, mungkin aku tak akan jadi seperti ini. Apa yang kulakukan ini adalah salah satu hal yang 'menjijikan' bukan?
Menjual Diri dan memberikan Mahkota yang seharusnya ku jaga untuk masa depan, malah ku berikan begitu saja hanya demi uang.
Tapi Nasi sudah menjadi bubur, aku sedikit menyesal dengan perbuatan yang sudah ku perbuat ini.
Tapi tak ada cara lain, aku sudah putus asa karena tak menemukan pekerjaan apapun dengan keterbatasan pendidikkanku dan dengan seenak jidat memutuskan kehendak sendiri tanpa berpamitan dengan ibu panti yang selama ini sudah merawat dan menyayangiku dengan tulus.
Aku merasa bersalah padanya. Setelah insiden kabur dari panti, pasti ibu khawatir denganku dan mencari-cari juga. Rasanya aku tak punya muka jika bertemu dengannya nanti. Karena aku yang tak tau diri ini.
Saat aku sibuk melamun, terdengar suara deretan pintu yang sedang dibuka oleh pemilik kamar. Entah dari mana, saat aku menidurkan Dira, Dirga tiba-tiba pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Dirga duduk disampingku sembari menyandarkan tubuhnya dan menghela nafas. Sepertinya dia ada masalah, aku pun mencoba untuk mendekatinya. "Ada apa tuan?"
__ADS_1
Dia hanya melirikku sekilas, dan menggelengkan kepalanya.
"Tuan, tuan kenapa? Sepertinya tuan ada masalah, biasanya tuan tak pernah seperti ini." Ujarku.
Setelah aku bersuara, Dirga menatapku. "Memangnya kelihatan ya?" Tanya nya, aku pun mengangguk dengan Jujur.
Tiba-tiba keningnya mengernyit dengan tak nyaman, tatapannya berubah menjadi sedikit sendu walaupun raut mukanya tetap pada pendirian seorang Dirga, yaitu datar dan dingin.
Dirga memejamkan matanya, "Aku merasa jadi Ayah yang buruk untuk Dira." Ujarnya lirih membuatku mengernyitkan keningku.
"Kenapa tuan berkata seperti itu?" Tanyaku.
"Apa kau tidak ingat saat Dira berkata dia tidak ingin berpisah dengan Dirimu?" Dirga bertanya balik padaku, aku sempat terdiam, hingga akhirnya kepalaku mengangguk pelan.
"Dan aku tak menyangka jika Dira berkata seperti itu. Aku sudah membohonginya karena Mamanya itu pergi bekerja, padahal kan Mamanya sudah tidak ada."
"Dira itu tak pernah ku ceritakan tentang Mamanya, bahkan aku tidak memperlihatkan wajah Mamanya." Ujar Dirga, aku menatapnya bingung. Bisa-bisanya dia melakukan itu pada Dira.
"Dira juga hanya pergi 1 kali ke makam Mamanya saat dia berusia 3 bulan. Setelahnya, aku tak pernah membawanya lagi." Lanjut Dirga, sungguh aku tak menyangka apa yang di lakukan oleh Dirga. Kenapa dia tega sekali melakukan itu?
"Kenapa tuan melakukan itu? Kenapa tuan tega sekali?" Ujarku yang tak menyukai apa yang dilakukan oleh Dirga.
"Aku terpaksa Ai, aku melakukan itu karena aku tak mau membuatnya sedih. Aku tidak sanggup melihat wajahnya itu sedih. Kau ingat kan saat kita mengantarkannya disekolah. Dia di olok-olok karena tidak memiliki ibu. Selama ini aku tak tau tentang hal itu, karena Dira tak pernah menceritakannya padaku." Ujar Dirga sendu.
Aku menarik kata-kata Dirga yang tega pada Dira. Yang dikatakan Dirga ada benarnya juga, tapi dia tetap tidak bisa melakukan itu, tetap saja Dira harus tau tentang Mamanya.
__ADS_1
"Tapi tuan, dengan seiringnya waktu, Dira pasti akan mengetahui sendiri nanti. Kau juga tidak usah mengelak, dan kau harus terima itu." Ujarku yang sedikit memberinya solusi.
Dirga menggeleng, "Tidak, aku tak sanggup jika itu terjadi. Aku tidak mau di cap sebagai ayah yang buruknya untuknya. Aku takut Dira akan membenciku nanti." Ujar Dirga yang tampak ketakutan.
Dibalik sifatnya yang dingin dan datar, ternyata Dirga adalah seorang penyayang. Dia tampak sangat menyayangi Dira.
Aku tersenyum dan mencoba menggenggam tangannya, "Tuan tidak usah takut. Dira tidak akan melakukan itu, dia pasti mengerti. Walau pun pasti dia akan kecewa, ketahuilahh Dira tidak akan pernah membencimu. Percayalah tuan." Ujarku menatapnya, Dirga pun sama halnya denganku.
Sedetik kemudian Dirga mengangguk dengan pelan, "Terima kasih karena telah menenangkan hatiku Ai."
Aku mengangguk dan tersenyum, sungguh aku sangat ceria saat melihatnya lebih banyak bicara saat ini. Meskipun wajahnya tetap saja datar, aku masih bisa sedikit melihat wajahnya yang terlihat sedih.
Dan kemudian kami tersadar apa kami lakukan, kami pun melepaskan tangan yang tadi saling bertautan. Kami pun sekarang dilanda dengan canggung. "M-maaf tuan, aku tak bermaksud." Ujarku yang tak enak hati.
"Ng-nggak papa." Ujarnya yang entah kenapa sedikit gugup. Keheningan kembali menyelimuti kami.
"Mau tidur sekarang?" Tawarnya padaku. Aku pun mengangguk dengan pelan. Kami pun merebahkan diri kami. Entah kenapa hari ini suasananya menjadi canggung seusai Dirga msnceritakan kegelisahannya.
Hari ini Dirga jauh berbeda dari sebelumnya. Aku merasa bersyukur karena bisa menjadi pendengar curhatannya. Aku tak yakin jika selama ini dia tak pernah sekali menceritakan kisahnya pada siapapun. Tapi padaku... ahh entahlah.
Aku memiring tubuhku dan membelakangi Dirga. Tiba-tiba ada yang melingkar di bagian perut yang membuatku sedikit tersentak.
"Stthh diam dan tidurlah." Bisik Dirga yang membuatku sedikit merinding.
Bersambung...
__ADS_1