Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
TINGKAT ANEH ISTRI KUH BAB 2


__ADS_3

Jaka melepas pelukan dari Asih, menatap wanita itu sekilas. Sama sekali tak mendengar bisik lirih wanita itu tadi. Pandangannya beralih ke dalam rumah yang terasa kosong dan sunyi.


“Ayo masuk ke dalam, Mas!“


Jaka mengangguk, mengambil tas yang tadi ia taruh di sampingnya. Asih ikut membantu membawa tas yang lebih kecil.


Begitu masuk ke dalam ruangan, mata Jaka menelisik menatap dinding papan yang terlihat kotor dan kumuh. Di sudut-sudut ruangan terdapat tumpukan pasir yang seperti tak tersapu.


Jaka duduk di atas tikar yang terbentang. Menyapu bagian tempatnya ingin duduk lebih dulu. Sangat berpasir.


Ia kini menatap lampu yang menyala diatas sana. Beberapa kali berkelip-kelip dan juga redup. Seperti sudah terlalu lama menyala dan tak pernah diganti.


Kenapa sekotor ini? Apa istrinya itu tak pernah bersih-bersih?


Ia melihat Asih yang tengah menutup pintu dengan tas kecil miliknya di tangan wanita itu.


“Di mana anak kita, Dik?“ tanya Jaka pada akhirnya.


“Dia di kamar sedang tidur.“


“Tidur, ya? Mas rindu sekali padanya. Dari lahir tak pernah bertemu. Mas ingin lihat, Dik.“


“Jangan!“


Alis Jaka bertaut, tubuhnya yang terangkat hendak bangkit dari duduk seketika berhenti mendadak. Merasa heran melihat tingkah istrinya itu.


“D—dia baru saja tertidur, soalnya tadi sempat rewel.“


“Maghrib begini tidur?“


“Iya, nangis terus dari tadi, Mas, susah dieminnya. Jadi jangan ganggu dulu.“


“Ya sudah kalau begitu.“ Jaka mengitari sekeliling ruangan itu lagi. “Kalau Mak Ida di mana? Mas juga ingin bertemu dengan Emak.“


“Mak ke Desa sebelah, tempat temannya. Lusa baru pulang.“


Jaka mengangguk-angguk. Ia bangkit dari duduknya. Sementara Asih pergi ke kamar mereka guna meletakkan tas suaminya.


Teringat Jaka ia belum shalat maghrib. Ia beranjak menuju kamar mandi. Melewati dua kamar sebelumnya. Satu kamar tempat dirinya dan Asih biasa tidur dan di sebelahnya kamar berisi Mak Ida.


Saat Jaka melewati kamar yang terbuka sedikit itu. Ekor matanya tak sengaja melihat sesuatu yang … aneh.


Langkahnya terhenti, seketika ia menoleh. Menatap dari celah kecil pintu yang tak tertutup dengan rapat. Ada seorang wanita tua berambut putih panjang dengan rok kain sedang menyisir rambutnya. Perawakannya seperti Mak Ida.


Tapi, bukannya tadi Asih bilang Mak Ida sedang pergi ke Desa sebelah?


Sejenak, Jaka terpaku. Hendak membuka pintu itu perlahan.


“Ngapain, Mas?“


Ia tersentak, menoleh, dilihatnya sang istri sudah berada di belakangnya.


“Anu, Dik, tadi ada….“ Jaka membuka pintu kamar Mak Ida dengan lebar. Menatap ruangan yang tak berpenghuni. Hanya ada lemari dan ranjang Mak Ida.


“Ada apa?“ Asih melongokkan kepala, tak melihat apapun.


“Tadi, Mas lihat ada Mak di sini.“


“Mak? Tadi, kan, Asih bilang kalau Mak ke Desa sebelah, Mas. Gak mungkin ada di sinilah.“

__ADS_1


“Iya, makanya Mas juga heran.“ Jaka menggaruk-garuk kepalanya. Tapi tadi ia benar-benar melihat Mak Ida. Apa cuma halusinasinya saja?


“Mas kecapean mungkin, karena perjalanan jauh. Ditambah rindu sama Mak, jadi terbayang-bayang. Sudah sana mandi dulu!“


“Iya mungkin,” tukas Jaka mengangguk. “Ya sudah, Mas mandi dulu. Kebetulan juga belum shalat maghrib.“


Raut wajah Asih tiba-tiba saja berubah, matanya menatap tajam ke arah Jaka.


“Kenapa, Dik? Kamu udah shalat?“


Asih menggeleng, kini matanya tampak kosong dan tak bersahabat.


“Kamu gak bisa shalat?“


“Iya,” jawab wanita itu datar.


“Ya sudah.“ Jaka meninggalkan Asih yang masih terus menatapnya hingga hilang di balik pintu dapur.


Laki-laki masuk ke dalam kamar mandi. Hampir kepeleset karena lantai yang berlumut. Untungnya ia sempat berpegangan pada bak air.


Licin sekali seperti tak pernah di sikat.


Ia mengambil sikat yang tergeletak di sudut kamar mandi. Mengangkatnya dan kemudian menyikat sisi-sisi yang terasa licin.


Lamat-lamat ia memperhatikan, ada sesuatu yang keluar dari sikat itu saat Jaka menyikat lantai. Matanya memicing, sesuatu yang menggeliat dan bergerak-gerak itu sukses membuatnya bergidik ngeri.


Jaka membalik sikat tersebut. Puluhan, ah tidak! Mungkin ratusan belatung itu memenuhi sikat hingga membuatnya mual seketika.


Ia buru-buru menyiram sikat itu dengan air dari bak. Entah apa yang terjadi pada sikat itu hingga dihuni banyak belatung.


Jaka mengurungkan niat untuk menyikat kamar mandi itu pada akhirnya. Mungkin, nanti ia akan beli sikat baru lebih dulu.


Selesai mandi, Jaka dan beranjak menuju kamarnya. Dilihatnya Asih tengah berbaring dengan anaknya dalam dekapan wanita itu.


Jaka menghela nafas, memilih menunaikan shalat maghribnya terlebih dahulu sebelum waktunya benar-benar habis. Mungkin wanita itu kecapekan.


Ia mencari sajadah, namun tak menemukannya di kamar ini. Mau bertanya sudah pasti Asih tak akan menjawab. Dipanggili untuk bangun juga susah.


Akhirnya Jaka membongkar tasnya dan mengambil sajadah dari sana. Membentangkannya menghadap sebuah lemari dengan kaca di tengah.


“Allahu Akbar.“


Jaka membaca Al-fatihah dengan khusyu'. Namun entah kenapa merasa seperti ada yang memperhatikannya. Ujung matanya melirik seseorang tengah duduk menekuk lutut di sudut ruangan.


Jaka memilih tak menggubris hal itu, shalatnya ia lanjutkan.


Masuk ke ruku, sujud, duduk tasyahud awal dan bangkit kembali.


“Allahu Akbar.“


“Allahu Akbar.“


Degh


Jantung Jaka berdebar keras saat mendengar suara lirih seperti bisikan dari belakangnya. Al-fatihah nya terucap dengan bibir gemetar.


Ia meneguk ludah dengan susah payah. Tepat di hadapannya shalat ada cermin dari lemari tengah. Sesosok putih mengenakan mukena tampak ikut ibadah di belakangnya.


Mulutnya lirih mengucapkan untaian kalimat shalat. Sosok itu mengikuti suaranya. Tak terdengar jelas, hanya berupa bisikan yang terasa ribut di telinga.

__ADS_1


Shalat Jaka terganggu, ia tak lagi khusyu'. Namun tetap berusaha melanjutkan. Saat ia sujud, terdengar suara lutut yang terbentur lantai dari arah belakangnya. Sosok itu mengikuti gerakannya.


Menetralisir rasa takut. Sesekali Jaka memejamkan mata. Hingga sampai di duduk tasyahud akhir. Jaka bernapas lega karena suara bisikan itu tak lagi terdengar.


Ia membuka mata. Tepat di depan sajadah sosok wanita tua tengah bergerak dan merangkak ke arahnya.


Jaka memejamkan mata kembali. Jantungnya bertalu seiring dengan mulutnya komat-kamit mempercepat bacaan. Begitu salam berakhir ia cepat mendongak ke depan.


Tak ada.


Tak ada siapapun di sana.


Ia menghembuskan nafas lega, terduduk dengan lemas.


“Ya Allah!“ ucapnya kaget saat dilihatnya Asih tengah duduk sembari menimang bayi, namun dengan mata melotot ke arahnya.


“Dik, bikin kaget saja.“ Jaka mendekat, ia tertegun sejenak menghentikan gerakannya yang ingin mendekati Asih. Wanita itu sama sekali tak bergerak dari posisinya.


Malam semakin larut, maghrib telah habis. Bunyi-bunyian suara binatang dari kebun sebelah rumah agak terasa menyeramkan bagi Jaka. Apalagi dihadapkan posisi aneh seperti ini.


“Asih!“ panggilnya lagi dengan tangan terulur menyentuh tangan Asih yang masih terasa sangat dingin seperti es batu. Jaka bahkan menggigil saat memegangnya.


Ada apa dengan istrinya itu?


“Dik!“


Mata Asih berkedip. Pandangannya lurus ke depan dengan ekor mata melihat ke arah laki-laki. Seketika bulu kuduk laki-laki itu berdiri.


“Mas,” panggil Asih dengan posisi yang sama.


“Y—ya.“


“Tutup sajadahmu, Mas!“


Alis Jaka terangkat, buru ia menutup sajadah dan melipatnya. Meletakkannya dengan asal di jemuran kamar beserta sarung yang ia pakai. Ia menoleh menatap Asih yang ternyata juga sedang menatapnya.


Situasi aneh apa ini? Jaka merasa terintimidasi.


Jaka kemudian duduk di sebelah Asih. Wanita itu masih tetap pada posisi yang sama. Anak mereka tidur dalam pangkuan sembari seluruh tubuhnya ditutup kain jarik. Merasa aneh, Jaka tergerak untuk membuka kain tersebut.


Namun, seketika tangannya ditahan oleh Asih.


Asih menggeleng. Telunjuknya terangkat di depan bibir. “Sst… dia masih tidur jangan diganggu!“


“Mas … cuma ingin lihat.“


Asih menggeleng, mencengkeram tangan Jaka dengan kuat. “Aku baru saja menidurkannya.“


“Tapi wajahnya ketutupan kain, nanti dia gak bisa nafas.“


“Memang begitu dia tidur. Kalau gak, nanti bangun.“


Jaka menatap sekilas pada Asih.


“Lebih baik Mas ikut Asih ke luar,” ucap Asih sembari meletakkan anak mereka di atas ranjang.


Laki-laki itu tak menjawab, ia masih terus menatap anaknya. Agak aneh karena melihat kain jarik itu tak bergerak naik turun. Seolah anaknya tak lagi bernafas.


“Mas!“ Kali ini Asih memanggil penuh penekanan. Mencengkeram tangannya kuat dengan mata melebar.

__ADS_1


TAMAT


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA NOVE SAYA


__ADS_2