Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
ISTRI KUH YANG MANJA EPSD 1


__ADS_3

"Mas aku kangen." Serra istriku, melingkarkan tangannya di leherku.


"Ra, ini di kantor. Jangan seperti ini," kataku. Aku tidak mengerti mengapa istriku ini tidak pernah tahu tempat. Main-main peluk di kantor. Padahal pernikahan aku demgannya tidak diketahui oleh orang kantor. Aku menikahi Serra sebab dijodohkan oleh Mami dan Papi. Ya, di zaman modern seperti ini kedua orang tuaku masih menjodoh-jodohkanku.


Sebagai anak, tentu saja aku mau berbakti kepada kedua orang tua. Yaitu salah satunya dengan menerima perjodohan ini. Menikah dengan Serra, perempuan manja yang pernah kutemui.


"Ini kan di ruangan kamu Mas, jadi nggak bakalan ada yang lihat. Pintunya juga sudah aku kunci." Serra menyengir, tangannya masih melingkar di leherku.


"Mas," rengeknya bak anak kecil.


"Apa?"


"Kangen .."


"Yaudah, mau apa?" tanyaku, biar cepat saja. Biar dia segera kembali bekerja. Jadi, Serra ini bekerja di perusahaan yang aku pimpin.


"Mau peluk," ucapnya sangat manja.


"Oke." Aku menariknya ke dalam dekap. Memeluknya sangat erat. Pernikahanku dengannya sudah berjalan dua bulan, dan satu bulan terakhir aku baru tahu jika Serra ini benar-benar manja. Suka tiba-tiba minta peluk dan minta cium.


"Mas ..."


"Hm?"


"Mas kangen aku nggak?" Dia menatapku.


"Biasa aja. Kan setiap hari kita bertemu."


"Kok kamu jawabnya gitu, sih." Serra cemberut.


"Iya, aku juga kangen kok sama kamu," ucapku sambil memaksakan senyum.


"Nah, gitu dong." Seketika wajah dia berubah berseri.


"Pulang kerja nanti makan di luar, yuk," ajaknya.

__ADS_1


"Makan di mana?"


Serra masih menatapku dan terlihat sedang berpikir. Sedang aku hanya menghela napas pelan.


"Kamu yang nentuin. He he."


Aku mendengkus tipis. "Kan kamu yang ngajak makan di luar berarti kamu yang nentuin dong, Ra."


"Ya, Mas aja. Iya? Mas yang menentukan kita makan di mana." Serra membenamkan kepalanya di dadaku. Dua tangannya melingkar di pinggang ini.


"Iya, Ra, nanti aku yang tentukan," ucap diri ini akhirnya.


"Ye, makasih suamiku." Dia mendaratkan kecupan ringan di pipiku.


"Nggak cium balik?" tanyanya memberengut.


Hhhhh, dia selalu seperti ini. Jika aku tak menciumnya balik pasti akan cemberut.


Cup.


Aku mengecup keningnya dalam detik yang lama.


"Aku balik kerja, ya."


Bagus, memang itu yang harus segera wanita ini lakukan.


"Iya."


"Dah, Mas Devan."


"Iyaa, Dah, Serra," balasku.


Ketika istriku telah pergi dari ruangan, aku langsung menjatuhkan tubuh ini di kursi lalu mengembuskan napas berat. Sabar Devan, sabar. Mempunyai istri manja itu, ya, memang harus banyak bersabar.


Selang beberapa menit pintu ruangan kerjaku kembali diketuk. Aku membulatkan mata, jangan-jangan Serra datang lagi. Aku menepuk jidat, eh tapi kalau itu Serra tak mungkin mengetuk pintu dulu biasanya dia langsung menerobos masuk. Selain manja, Serra memang kadang bertingkah tidak sopan.

__ADS_1


Aku menengakkan posisi dudukku, lalu, "Masuk."


Pintu terbuka, dan muncul sosok wanita yang kini tengah tersenyum ke arahku. Berjalan dengan anggun menghampiri mejaku, tanpa lupa dia menutup pintunya terlebih dulu.


Gita. Ya, wanita yang ada di hadapanku sekarang ini adalah Gita. Mantan kekasihku. Dia yang memutuskanku lima bulan lalu, tapi dia sendiri yang akhir-akhir ini mendekatiku lagi. Bahkan tak jarang dia sering berkunjung ke kantorku, seperti sekarang ini.


"Siang, Van," sapanya lembut. Senyumnya yang masih menghiasi wajahnya.


"Siang," sahutku. Datar.


"Boleh aku duduk."


"Silakan."


"Ada apa?" tambahku.


"Ya, kangen aja mau ketemu kamu."


Aku mendecih, apa dia tak malu mengatakan itu. Setelah dia memilih pria lain dan meninggalkanku. Dan, parahnya pria itu adalah teman dekatku. Hingga sekarang pertemananku harus renggang gara-gara wanita ini.


"Kamu tidak merindukanku?" tanyanya.


"Tidak," jawabku tegas.


"Van, ayolah jangan berpura-pura. Kamu pasti merindukanku. Aku tahu kamu juga pasti masih mencintaiku," ucapnya percaya diri sekali.


"Permisi Pak Devan, ini ada berkas ..."


Aku dan Gita menoleh ke arah pintu.


Serra.


Aku membulatkan mataku.


Dia menatapku tajam, sebelumnya akhirnya dia pergi tanpa kata.

__ADS_1


Aku pasrah setelah ini dia pasti marah dan akan mendiamkanku seperti waktu itu. Kala itu aku dan Gita tak sengaja bertemu denganku di sebuah kafe ketika aku sedang bersama Serra.


Waktu itu saja dia mendiamkanku selama tiga hari. Dan, sekarang entah lah.


__ADS_2