Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
ISTRI KUH MENJADI KUPU KUPU MALAM BAB 6


__ADS_3

_


"Eh?" Pekikku saat tiba-tiba Dirga merebahkan dirinya dipahaku. Duhh nggak aman buat jantung nih.


Dirga menghela nafas dan memejamkan matanya. "Sebentar saja."


"Emm Dira sudah berangkat ke sekolah?" Tanyaku yang basa-basi karena aku tak tahan dalam keheningan yang menyelimuti kami berdua.


"Bukannya tadi sudah berpamitan denganmu? Jika belum berangkat pasti dia akan merencokimu terus." Jawabnya.


Lohh iya, kenapa aku bisa jadi oon begini sih?


Keheningan kembali menyelimuti kami berdua. Duhh kenapa Dirga ini tipe-tipe Pria yang garing sih?


Jantungku semakin berdetak dengan kencang saat tiba-tiba Dirga memiringkan badannya dan memeluk perutku. "T-tuan jangan begini..."


Ujarku sembari sendikit mendorong tubuhnya. Bukannya melepaskan, malah Dirga semakin erat memelukku.


"Tuan... kita tak boleh begini.." ujarku dengan lirih.


Dirga mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan dingin, "Kenapa?" Tanyanya.


Aku menghela nafas, "Entahlah tuan. Aku sendiri tak tau dengan posisiku ini. Aku masih bingung kenapa kau membeliku. Karena Dira? Jawabanmu sama sekali tak membuatku puas... jika karena Dira berarti aku adalah baby sitternya Dira kan?"


Dirga bangkit dari pembaringannya dan memposisikan badannya untuk duduk. Dia menatapku dengan tatapan tetap, yaitu datar. "Oh ya? Selain mengurus anak kecil, apakah seorang baby Sitter melayani tuannya di ranjang?"


Ujar Dirga membuatku terdiam, lantas? Sebagai apa aku disini?


"Kau mau tau posisimu saat ini kan?" Ujar Dira yang membuatku mengangguk pelan.


Dirga perlahan mendekat kearah wajahku, lebih tepatnya ke telingaku. "Saat ini kau masih menjadi pemuas nafs*ku.." Ujarnya berbisik dan menjauhkan wajahnya dariku. Aku langsung menatap matanya dengan bibir yang sedikit menyeringai.


Pemuas nafs*? Ahh iya, memang itu kan awal pekerjaanku. Tapi kenapa aku sedikit... yahhh entahlah.


"Awalnya aku hanya mencoba-coba saja. Dan tak kusangka jika dirimu itu masih perawan. Sayang sekali jika tidak ku ambil." Ujarnya membuatku terkejut, heii kenapa bibirnya itu berbicara berbeda? Saat itu dia bilang membeliku karena bentuk pertanggung jawaban, yah meskipun aku tak memintanya.


"Dan aku memberimu tips karena kau itu sangat memuaskan, padahal kau belum melakukan itu kan?"


"Dan aku sangat beruntung mendapatkan itu. juga karena sikapmu yang membuat Dira sudah jatuh hati padamu. Jadi, aku tak akan melepaskan sedikit pun dirimu Aira... ambil lah kesempatan ini, ini akan sangat menguntungkanmu." Ucap Dirga dengan tersenyum sinis.


,,,


"Maa minum." Pinta Dira padaku yang sedang menyuapinya makan. Aku pun mengambilkan gelas yang telah terisi air putih itu.


"Mau nambah lagi?" Tawarku."


Dira menggeleng dan menyenderkan tubuhnya dikursi makan, "Dira udah kenyang banget maa." Ucapnya sembari mengelus-elus perutnya yang sudah terisi makanan.


Aku terkekeh pelan, "Yaudah nunggu susunya dingin ya? Nanti diminum setelah itu tidur."


Gadis kecil itu mengangguk, "Iya maa."


"Pa.." panggil Dira pada Dirga yang telah menyelesaikan makannya. "Iya sayang?"

__ADS_1


"Tadi temen Dira yang namanya Sisil itu cerita pada Dira." Ujarnya yang sepertinya akan menceritakan tentang kejadian di sekolahnya.


"Cerita apa memangnya?" Tanya Dirga sembari mengelap sisa makanan di sekitar bibirnya.


"Sisil katanya mau punya adek pa, Mamanya sisil katanya hamil. Itu lo paa yang perutnya nanti ada dedek bayi." Tutur Dira dengan polos, entah kenapa aku sedikit was-was kali ini.


"Iyaa terus?"


"Dira juga mau dedek bayi Paa..." Ujarnya membuat tersedak lidahku sendiri.


"Mama kenapa?" Tanya Dira yang tampak panik melihatku, aku hanya menggeleng dan tersenyum padanya.


"Nggak papa sayang..."


"Maa, Dira mau dedek bayi juga dong. Mau dedek bayi di perutnya Mama..." rengeknya padaku. Aduhh ada-ada saja sih. Dedek bayi apaan? Lawong aku aja belum nikah, tapi udah kawin sihh.


"Dira mau dedek bayi?" Tanya Dirga tiba-tiba. Duhh si Dirga kenapa bawa topik ini lagi sih?


"Iya paa mau! Mau adek laki-laki!" Serunya membuat jantungku berdebar tak karuan.


Dirga tersenyum sinis dan menatap kearahku. "Boleh, nanti Papa akan kasih."


"Wahhh beneran paa?!" Serunya, dan diangguki mantap oleh Dirga. "Iya sayang.."


"Yeay~!! Makasih Papa~" Ucap Dira yang tampak sangat senang sekali. "Mama malam ini tidur sama Dira ya? Terakhir tidur sama Mamakan waktu aku sakit." Dira menyerucutkan bibirnya lucu.


Entah kenapa aku sedikit lega karena Dira memintaku untuk tidur dengannya. Lantas aku pun mengangguk deng--


"Lohh katanya mau dedek bayi? Kalo mau dedek bayi Mama nggak boleh tidur sama Dira, harus tidur sama Papa." Aku lemas seketika, yang ada dipikiranku ternyata benar. Duhh apa-apaan Dirga itu.


"Iya Nak..." Dirga tersenyum manis memperlihatkan 2 lesung pipitnya. Ahh baru 2 kali aku melihatnya tersenyum.


"Kalau begitu, aku mau ikut juga bikin adeknya dong!" Netraku langsung membola seketika. Astaga Dirga, kau telah menodai otak milik putrik-- maksudnya putrimu.


"Ehh jangan sayang, t-tidak boleh." Aku melototi Dirga yang tengah menatapku dengan tatapan jahil.


"Loh kenapa Maa? Dira juga pengen lihat Mama sama Papa bikin dedek bayi..." raut muka Dira berubah jadi cemberut.


"Ehem." Dirga berdehem, "Dira kan masih kecil, anak kecil kan tidak boleh tidur malam-malam. Nahh, Mama sama Papa nanti itu bikin dedeknya malam banget..." Haha oke, alibi yang bagus Dirga.


"Kan bisa bikin juga waktu siang setelah Dira pulang sekolah Paa." Dira terus banyak bertanya, rasanya aku kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Dira.


"Nanti kalau bikin siang takut nggak jadi, kan--"


"Dira sayang, ayo tidur. Mama temani, Dira nggak boleh tidur malam-malam nanti bangun terlambat, bisa telat nanti sekolahnya." Ujarku memotong ucapan Dirga. Semakin lama aku yakin dia akan menjelaskan rinci-rinci nya juga, ohhh sungguh tuanku yang sangat goblok.


"Gendong Maa..." Dira merentangkan tangannya kearahku, aku pun segera menggendongnya dan membawanya ke kamar meninggalkan Dirga yang ku lihat wajahnya sedikit cemberut-- wahh kemana wajahnya yang datar nan dingin itu?


,,,,


Aku menyelimuti tubuh Dira yang sedang terlelap tidur setelah ku bacakan dongeng tadi. Beginikah menjadi seorang ibu?


Tiba-tiba aku merasa sedih melihat wajah damai milik gadis kecil ini. Pasti dia sangat ingin memiliki sosok ibu sendari kecil. Dia kehilangan ibunya saat dia baru saja lahir, aku tau rasanya. Karena diriku juga tak pernah mendapatkan sosok kasih sayang dari seorang ibu.

__ADS_1


Tapi Dira lebih beruntung daripada aku, bukan hanya kasih sayang ibu, tapi juga Ayah. Entah dimana keberadaan mereka, aku sendiri tak tau mengapa aku harus tinggal dipanti Asuhan. Apa mereka membenciku? Atau mereka juga menyesal telah memilikiku.


Dan Dira masih beruntung memiliki seorang ayah yang penyayang seperti Dirga. Meskipun raut mukanya tidak mencerminkan menyayangi seseorang, tapi yang ku tahu Dirga sangat menyayangi putrinya.


Buktinya saja Dira sampai rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk menuruti semua keinginan Dira. Entah bisa dikatakan beruntung atau tidak, aku lah yang dipilih oleh Dirga.


Aku menghapus air mataku yang tiba-tiba menetes, aku mencium pucuk kepala Dira. Sepertinya aku sudah sangat menyayangi gadis kecil ini, aku jatuh dalam pesonanya.


"Hei.." Aku sedikit tersentak dengan suara Dirga yang sedang berada dibelakangi.


"Astaga tuan, kau membuatku terkejut." Bisikku agar tidak mengganggu tidur Dira yang tampak sangat nyenyak.


"Kau menangis?" Tanya nya dengan datar, aku buru-buru menggelengkan kepalaku untuk mengelak.


"T-tidak tuan, sepertinya aku sudah sangat mengantuk." Jawabku bohong, Dirga tak hanya diam dan terus menatapku. Itu membuatku sangat risih.


"Tuan kenapa kesini? Kau tidak tidur?" Tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


Dirga menggelengkan kepalanya, "tentu aku ingin menjemputmu."


Tentu aku tau dengan maksud pernyataan Dirga tadi, tapi aku akan berpura-pura untuk tidak mengerti saja. "Menjemput?"


"Ya. Sekarang jangan berlagak akting tidak tau maksud dari perkataanku. Ayo segera kekamarku." Yahh kenapa bisa setau itu sih? Apa dia itu sebenarnya cenayang?


"Tapi kan aku sudah berjanji untuk tidur bersama Dira." Elakku.


"Janji apa? Kau tidak membuat perjanjian dengan Dira. Tidak usah banyak alasan, ayo segera pergi kekamar. Jika tidak, aku akan memberimu pelajara." Ujarnya tegas, entah kenapa itu membuatku meneguk ludahku kasar.


Dirga mendahuluiku berjalan, mau tak mau aku pun membututinya dibelakang untuk menyusul.


Sampai dikamar, tiba-tiba Dirga mengunci pintunya. Dia berjalan menuju kearahku. "Bagaimana? Kau siap?" Tanya Dirga dengan menyeringai.


"S-siap apa tuan?" Aku mendadak gugup sekarang.


"Kau lupa dengan permintaan Dira hm?" Suara deepnya yang mampu menghipnotisku.


"A-apa harus?"


Dira terkekeh sinis, "Tentu saja, aku akan menuruti semua kemauan princes kecilku itu selagi aku mampu."


"Tuan, tapi ini tidak benar..." ujarku lesu.


Dirga memegang Dahuku, dia menatap tajam kearahku. Aku sedikit ketakutan dengan sikap Dirga saat ini. Dia serasa ingin menelan ku hidup-hidup.


"Tidak usah banyak bicara Aira. Ikuti semua kemauanku dan jangan banyak bicara.


Dan saat itu juga rasanya tubuhku remuk semua. Mengapa tidak? Dirga terus-terus saja menggempurku setelah sekian dia akhirnya menyentuhku lagi karena Dira yang sakit.


Aku menatap kearah Dirga yang sedang tertidur nyenyak tanpa beralaskan baju karena kegiatan kami tadi. Perlahan aku turun dari ranjang dengan hati-hati.


Sebelum pergi kekamar mandi, aku mengambil sesuatu dari tasku, yaitu sebuat botol obat pencegah. Aku pun membawa botol itu kekamar mandi.


Seperti biasanya, aku tidak minum dengan air. Aku langsung menelannya. Aku menghela nafasku dengan sedikit lega.

__ADS_1


"Semoga saja tidak jadi.." ujarku sembari mengelus perutku yang datar.


Bersambung


__ADS_2