
"Kenapa semua barang-barangku hilang, mobil itu juga sekarang tidak ada," teriak Ibu Mertua keras dengan membanting beberapa barang yang ada di sampingnya.
Mobil Ibu Mertua memang ditaruh diluar pagar rumahku karena halaman rumahku sudah ada satu mobil yang terparkir.
Mas Fahmi dengan keadaan panik kini juga terlihat mengecek keluar lagi untuk memastikan kalau Ibu Mertua lupa menaruh mobilnya.
"Apa Ibu tidak lupa dimana Ibu menaruhnya?" tanya Mas Fahmi keras.
Ibu Mertua hanya bisa terdiam, mungkin saja dia masih begitu terkejut dengan semua yang terjadi begitu cepat didepan matanya.
Aku tersenyum puas melihat semua yang tersaji didepan mataku. Itu mobil dibeli menggunakan uangku jadi aku berhak mengambilnya kembali kan?
Beruntung aku menyimpan kunci cadangannya sehingga aku bisa menyuruh temanku untuk membawa mobil itu.
"Apa kamu yang membawa mobil Ibu pergi, Nad?" tanya Mas Fahmi yang membuatku langsung terhenyak dari lamunan.
"Dari kemarin aku di rumah tidak keluar kemanapun, kamu masih menuduhku? Lagi pula itu tidak rugi untuk kalian kan? Aku yang seharusnya rugi karena itu menggunakan uangku," tanyaku balik yang membuat mereka berdua langsung melotot sempurna.
Tertawa kecil kini mulai terpampang dari bibirku, aku tahu mereka merasa begitu terainggung saat aku mengatakan demikian langsung didepan mereka.
"Kamu kok sekarang perhitungan begini Nad? Kemarin tas pun tidak kamu belikan dan sekarang kamu mengungkit masalah mobil itu," ucap Mas Fahmi dengan wajah merah padam.
"Punya menantu kok sukanya mnegungkit-ungkit, bukan malah dibelikan baru ini malah di ungkit terus menerus. Tidak diajari sopan santun orang tuanya mungkin."
__ADS_1
Emosiku memuncak seketika kala mendengar penuturan Ibu Mertua. Dia membawa-bawa orang tuaku yang tidak tahu apa-apa dalam masalah ini.
"Memang kenyataannya begitu kok, semua juga pakai uangku. Kamu juga hidup dengan uangku kan Mas?" tanyaku datar mencoba menekan emosi yang sudah ingin meledak sekarang juga.
"Cukup Nad! Cukup! Aku tidak mau tahu, kamu harus membelikan Ibuku mobil baru lagi secepatnya," ucapnya enteng ditengah kemarahannya.
Enak saja dia mau memerasku lagi meski aku sudah tahu semuanya. Tidak akan aku keluarkan uang sepeserpun untuk mereka lagi.
"Kamu yang kehilangan kenapa aku yang disuruh ganti."
"Nadia."
"Sekali tidak mau, tetap akan tidak mau. Dan satu lagi Mas, dan jangan lupa kalau mau makan urus kebutuhan rumah tangga karena aku sudah tidak mau lagi mengurusnya hanya dengan uang 700 ribumu itu," ucapku yang langsung berjalan kembali ke kamar meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam tanpa bicara apapun.
"Ah, senang sekali akhirnya aku bisa berbelanja," gumamku saat melihat beberapa tas belanjaan yang ada di tanganku.
Setelah puas berbelanja, aku pulang kerumah. Terlihat Mas Fahmi dan Ibu Mertua sedang menungguku didepan pintu dengan wajah murung.
Aku mengeluarkan barang belanjaanku dengan santai, seakan-akan aku tidak melihat keberadaan mereka disana. Wajah Mas Fahmi terlihat merah padam. Ibu Mertua juga terlihat bengis menatapku.
"Bagus. Suami lagi kesusahan, kamu malah belanja banyak." Teriakan Mas Fahmi tidak aku hiraukan, aku masih santai masuk ke rumah dan melewati mereka bertiga.
"Nad, suamimu sedang berbicara. Hargai anakku," ucap Ibu Mertua keras.
__ADS_1
Kubalikkan badanku seketika, memasang wajah datar untuk menghadapi mereka. Wajah mereka sudah terlihat merah padam penuh amarah.
"Aku belanja pakai uangku sendiri, apa ada yang salah denganku?" tanyaku dengan nada datar namun aku yakin mampu membuat mereka semakin terluka dengan pertanyaanku.
"Ibuku juga kemarin kehilangan uang yang ada di mobilnya, bukannya mau ganti uang itu kamu malah belanja dan menghabiskan uang seperti ini," teriaknya kearahku.
"Itu bukan urusanku, seharusnya kamu dong sebagai anaknya yang harus bertanggungjawab bukan aku," jawabku tak kalah keras.
Pyar!
Mas Fahmi langsung melempar gelas ke lantai. Aku sekarang tidak takut lagi dengan semua kemarahannya.
Aku mengambil handphoneku cepat. Menghubungi orang-orang kepercayaanku dari usaha air minum yang aku punya di setiap cabang.
[Mulai sekarang kalau Pak Fahmi minta uang, izin dulu ke saya] pesan kukirim ke semua orang kepercayaanku.
Balasan balasan mereka membuatku semakin bersemangat. Aku tidak akan membiarkan Mas Fahmi mengambil uangku lagi.
[Setiap bulan, jangan transfer uang apapun ke rekening Pak Fahmi. Langsung transfer keuntungan ke rekening saya saja] chatku pada mereka.
"Lihatlah Mas, seberapa berpengaruhnya aku terhadap keuanganmu." Sudah tidak sabar rasanya melihat reaksi Mas Fahmi saat mengetahui uang usahaku tidak dikirim lagi padanya. Ah, pasti sangat menyenangkan. 'Baru begini saja kamu sudah kalang kabut, Mas. Bagaimana nanti kalau aku bertindak lebih dari ini?'
#TAMAT TERIMAKAIH TELAH MEMBACA NOVELKUH.
__ADS_1