
"Mi, bagaimana ini? Orang yang menjual tas yang sudah Ibu pesan ini sudah menelfon dan minta transfer sekarang juga."
Ibu Mertua menatap Mas Fahmi dengan ekspresi khawatir, aku hanya diam saja dan meneruskan kegiatanku seperti tidak terjadi apa-apa disini.
"Aku tidak mau mengurus kebutuhan rumah tangga sendiri Nad dan kamu sekarang harus mengambilkan uang untuk Ibuku," teriak Mas Fahmi kepadaku.
Geram sekali aku mendengar teriakannya yang seolah aku ini adalah babunya yang bisa diperintah kapan saja. Emosiku terpancing begitu saja.
Aku langsung menatap wajah Mas Fahmi yang sudah merah padam menahan amarah, aku sekarang tidak takut lagi dengan amarahnya itu.
"Sudah aku katakan bahwa aku tidak akan mengeluarkan uangku sepeserpun," jawabku tak kalah keras kepadanya.
"Kamu jadi istri harus nurut apa kata suami Nad, semua uangku juga untukmu. Jadi sekarang kalau Ibuku minta belikan sesuatu seharusnya kamu membelikannya," ucap Mas Fahmi dengan suara meninggi.
Aku sedikit terkekeh mendengar penuturan Mas Fahmi, semua uangku hanya untukmu? Apa tidak salah dia mengatakan itu semua kepadaku?
Kebenarannya adalah semua uangnya hanya untuk keluarganya. Aku bahkan tidak diberi separuh gajinya karena memang dia tidak ikhlas aku mengatur uangnya itu.
"Apa kamu tidak salah mengatakan itu? Semua uangmu hanya untukku? Nafkah 700 rivu dan aku harus mengemvalikannya lagi kepada Ibumu satu juta itu yang dinamakan semua uangmu hanya untukku? Hah? Jawab?" teriakku mengeluarkan semua emosiku.
"Nadia jaga bicaramu!"
__ADS_1
"Kenapa Mas? Memang kenyataanya begitu kan? Kamu hanya memberiku uang 700 ribu untuk perbulan. Kamu fikir semua itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ini?" ungkapku keras kepadanya.
Mas Fahmi hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali karena mungkin terkejut ketika aku berani membantah semua ucapannya kali ini.
Semenjak aku menjadi istrinya aku tidak pernah bertengkar atau membantah ucapannya karena terbuai dengan sikap baik yang ditunjukkan dia dan keluarganya.
"Ayo kita bayar saja Bu, ATM Nadia ada yang ada padaku. Kita gunakan itu saja," ucap Mas Fahmi penuh penekanan kearahku.
Deg! Aku begitu terkejut saat mendengar ucapannya karena aku tidak tahu kalau ternyata dia diam-diam mengambil ATM milikku.
"Kembalikkan ATM milikku," ucapku keras kepadanya.
"Tidak! Ayo Bu, kita pergi saja darisini," ucap Mas Fahmi yang langsung mengajak Ibunya pergi.
*
Drrt! Drrt! Drrt!
Terdengar suara ponselku berbunyi saat aku sedang rebahan di kamar untuk memulihkan energiku setelah bertengkar dengan Mas Fahmi.
"Halo Nad, kenapa ini atmmu tidak bisa digunakan? Jangan buat malu aku Nad," teriak Mas Fahmi dibalik telfonnya.
__ADS_1
Aku hmterkekeh mendengar suaranya yang begitu panik kali ini.
"Kalau tidak bisa beli tas pakai uangmu sendiri ya jangan memaksakan diri, mau beli kok pakai uang orang lain, rasakan ini," ucapku dengan suara tertawa keras dan langsung mematikan panggilan telfonku saat ini juga.
Aku yakin sekali Mas Fahmi dan Ibu Mertua sekarang sedang kebingungan tentang uang yang alan mereka gunakan. Ah biarkan saja, salah sendiri tidak punya uang kok banyak gaya.
***
"Fahmi! Fahmi! Dimana mobil Ibu? Dimana mobil Ibu?" Terdengar teriakan Ibu Mertua saat aku bersiap-siap untuk keluar kamar.
Aku langsung berlari kedepan, disana sudah ada Ibu Mertua dan Mas Fahmi yang terlihat dalam keadaan begitu panik.
"Dimana? Dimana mobil Ibu? Apakah mobil Ibu hilang? Disana ada tas Ibu yang ada uangnya, Mi," teriak Ibu Mertua keras. Mereka berdua langsung berlari keluar untuk mencari mobilnya.
"Tidak..."
Brugh!
Brugh!
Aku hanya mendengarkan suara itu tanpa membantu sedikitpun.
__ADS_1
"Tidak mau! Kenapa semua barangku hilang, aki tidak mau hidup miskin, Mi," teriak Ibu Mertua yang membuatku tersenyum tipis. "Ini baru permulaan untuk kalian