Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
TINGKAT ANEH ISTRI KUH BAB 1


__ADS_3

“Desa Bagan Batu?“ ucap tukang ojek itu sembari menggeleng. “Gak, Mas, yang lain aja.“


Jaka menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lima orang ojek sudah dia tanyai untuk mengangkut dirinya menuju Desa di mana kampung halamannya berada. Tak satupun ada yang mau ke sana walau ia sudah menawarkan lebihan ongkos.


Senja mulai terbit di ufuk barat. Maghrib hampir menjelang. Sayup-sayup suara mengaji terdengar dari surau terdekat. Hanya tinggal tiga kilometer lagi perjalanannya.


“Kenapa, sih, Mas? Saya lebihin kok, ongkosnya.“ Jaka mencoba penawaran terakhir.


“Mas orang mana? Orang baru mau ke Desa itu?“ Penawarannya diberi pertanyaan oleh si tukang ojek.


“Saya orang asli Desa, udah dua tahun gak pulang kampung. Ini rindu sekali dengan rumah, Mas. Bisa, gak, tolongin saya?“


“Pantesan,” gumam si tukang ojek yang masih terdengar jelas oleh Jaka.


“Pantesan gimana, Mas?“


“Enggak.“


Alis Jaka bertaut, wajah sang tukang ojek terlihat ketakutan.


“Gini aja deh, Mas. Saya bakal antar, tapi sampai depan tugu aja, ya. Selebihnya saya gak bisa. Biar deh ongkosnya dikurangin saya gak masalah.“


“Yah, nanggung atuh Mas. Lima ratus meter lagi itu ke rumah saya.“


“Duh, saya gak berani. Kalau Mas nya gak mau juga gak apa-apa, deh.“


Jaka berdecak. “Yaudah deh, Mas gak apa.“


“Oke, naik!“


Jaka mengangkut tas besarnya. Naik ke atas motor dan menaruh di pangkuan. Motor itu melaju di tengah jalan terjal bebatuan.


Melaju di antara langit yang hampir gelap. Jaka memperhatikan sekitar, pinggir jalan yang biasanya ditumbuhi banyak pohon sawit, kini sudah berubah menjadi pepohonan karet. Bahkan, tak jarang ia menemukan satu atau dua rumah yang berdiri sejajar di sepanjang jalan.


Desanya tak sesepi dulu. Namun, entah kenapa tukang ojek yang ia datangi tadi rata-rata tak ada yang berani ke sana. Dulu, ia bersama Gito sahabatnya saat jam sepuluh juga berani jalan kaki keluar dari Desa.

__ADS_1


“Sampai sini aja, Mas.“ Tukang ojek memberhentikannya di depan tugu bertuliskan Desa Bagan Batu.


Jaka menghela nafas, turun dari motor dan membayar ongkos. Tukang ojek itu buru-buru pergi dari hadapannya. Bahkan sebelum Jaka sempat mengucapkan terima kasih.


Sayup-sayup suara adzan maghrib terdengar. Jaka menenteng tas di tangan dan membenarkan letak tas sandang di punggung.


Suasana Desa sangat sepi maghrib ini. Begitu jalan masuk ke dalam, sisi jalan masih dipenuhi pohon karet. Namun, seratus meter setelahnya mulai nampak rumah-rumah warga. Jaka bernafas lega.


Jaka berjalan dengan penuh semangat di jalanan berbatu yang cukup terjal. Wajah Asih, istrinya yang cantik itu mulai terbayang dalam benaknya.


Dulu, satu tahun lalu saat ia memutuskan untuk pergi merantau ke luar kota. Istrinya tengah hamil lima bulan. Kebutuhan yang semakin sulit dan biaya persalinan yang dibutuhkan Asih karena bayi mereka dinyatakan sungsang membuat persalinannya harus melakukan operasi caesar.


Tentu memakan biaya yang tidak sedikit sementara pekerjaannya yang hanya seorang penoreh getah karet tak mencukupi kebutuhan itu. Bahkan untuk memenuhi gizi istrinya saja ia tak mampu.


Maka, atas persetujuan Asih ia pergi merantau. Menitipkan istrinya itu pada Mak Ida, Ibunya yang memang tinggal bersama mereka.


Dua hari sejak kepulangannya dari luar kota. Ia baru bisa sampai ke Desa pada hari ketiga. Entah apa kabar istri dan Maknya. Rasanya rindu sekali mengingat enam bulan lalu ponselnya sempat hilang dan ia hilang komunikasi dengan Asih.


Bahkan kirimannya juga enam bulan sebelumnya tak bisa ia berikan mengingat tak tahu harus menyampaikannya kemana akibat ponselnya hilang. Semua data yang ia perlukan ada di sana. Termasuk nomor Gito yang sering ia titipi uang untuk diberikan pada istrinya.


Terakhir kali ia dengar, istrinya sudah melahirkan. Dan anak mereka terlahir normal dengan jenis kelamin laki-laki.


Hanya tinggal beberapa ratus meter lagi.


Melewati beberapa rumah, beberapa warga yang tampak asing di matanya. Entahlah, mungkin warga baru dan Mereka menatap Jaka dengan pandangan yang aneh seperti ketakutan.


Menghindarkan kecanggungan, sesekali ia tersenyum. Bukannya membalas, orang-orang itu malah lari terbirit-birit dan menutup pintu rumah mereka.


Ada juga yang mengintipnya dari balik jendela. Saat kepergok, mereka buru-buru menutup tirai. Sangat aneh sekali, hingga membuat perasaannya tak enak.


Jaka mempercepat langkah. Hingga sampai di depan rumah berdinding papan yang masih belum berubah. Rumahnya terletak paling ujung Desa. Sebelah kanannya adalah kebun kelapa milik tetangga dulunya. Entah kenapa sekarang berubah jadi ladang tebu.


Jaka celingukan, karena sepertinya tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah. Cukup lama ia berdiri, hingga akhirnya lampu depan rumah itu mulai hidup.


Ia tersenyum sumringah, melangkah maju sembari mengetuk pintu.

__ADS_1


“Assalammu'alaikum, Asih!“ panggilnya pelan. Maghrib tengah berlangsung. Sayup-sayup suara adzan dari surau Desa mulai terdengar. Dengungan nyamuk di telinga sedikit mengganggu. Dan Asih


tak kunjung menjawab salamnya.


“Assalammu'alaikum,” salamnya kembali. Kali saja Asih sedang menunaikan shalat maghrib.


Krieeet….


Pintu rumah terbuka sedikit, menimbulkan bunyi yang agak membuat bulu kuduk meremang. Jaka terpaku di tempat saat tak ada sosok yang muncul.


“Asih.“ Lelaki itu maju satu langkah. Membuka lebih lebar pintu tersebut.


“Astaga!“ serunya kaget seraya memegang dada yang berdegup kencang. Lastri berdiri di balik pintu dengan pandangan kosong seraya menatapnya. Wanita itu berdiri kaku dan tak bergerak sama sekali.


“Asih,” panggil Jaka pelan.


Asih berkedip, matanya kini menatap hangat ke arahnya, mengembun dengan air menggenang di pelupuk mata.


“Mas pulang,” lirihnya dengan air mata menetes di pipi.


Jaka melangkah mendekat, hendak memeluk. Namun Asih menahan tubuh laki-laki itu dengan tangannya.


“Kenapa Mas baru pulang sekarang?“ ucapnya sedih. “Asih rindu Mas Jaka.“


“Maaf Asih.“


“Setiap malam menunggu Mas Jaka pulang. Duduk di bawah jendela sambil menunggu tapi Mas gak pulang-pulang.“


“Maafkan, Mas, Asih. Ada beberapa kendala yang membuat Mas tertahan di luar kota.“


“Orang itu bilang Mas sudah tiada.“ Tangis Asih belum reda. Jaka tergerak memeluk istrinya itu dengan penuh rindu. Dinginnya kulit Asih menyentuh kulitnya.


“Siapa yang bilang Asih? Buktinya Mas di sini sekarang, ada di hadapanmu. Sekarang Mas tidak akan pernah pergi lagi. Mas janji Asih, Mas sudah mengumpulkan uang cukup banyak di perantauan. Insya Allah cukup untuk hidup kita dan buka usaha ke depannya.“


Jaka memeluk erat tubuh Asih. Dinginnya kulit wanita itu semakin terasa, sejenak membuat alisnya bertaut seiring dengan tangis Asih yang masih belum reda.

__ADS_1


Patah-patah mulut wanita dengan rambut panjang itu berucap, “mas terlambat….“


lanjut prat 2


__ADS_2