Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
ISTRI KUH MENJADI KUPU KUPU MALAM BAB 10


__ADS_3

KUPU-KUPU MALAM PRIBADI🦋


Bab. 10.


_________


Dirga Pov...


Siang ini, aku sedang sibuk berkutik dengan laptopku. Entahlah, pekerjaan ku saat ini sedang menumpuk. Apa ini karena aku sering pulang awal ya?


Semenjak keberadaan Aira, entah kenapa aku selalu menduakan pekerjaanku ini. Aku selalu pulang disaat jam makan siang, karena aku selalu mengantar Aira untuk menjemput Dira. Sisanya kita akan menghabiskan waktu bersama.


Selain itu, ahh kalian pasti sudah tau sendirikan? Apa yang selalu aku dan Aira lakukan?


Tentang Aira ya?


Aku menghentikan pergerakan tangan pada laptop didepanku. Aku tersenyum kecil.


Gadis yang akhir-akhir ini selalu ada dibenak pikiranku. Pertemuanku dengannya sangatlah tidak tepat. Andai saja Tuhan mempertemukan kita jauh lebih baik lagi.


Aira Asha Yanandra, gadis yang menggodaku beberapa waktu lalu disebuah club. Sebelumnya, aku sudah mencari informasi tentang gadis itu, aku menyuruh salah satu pesuruhku.


Sungguh, aku pertama kali singgah ditempat haram itu. Tapi entah kenapa malam itu membuatku untuk pergi kesana.


Ku kira, Aira sudah mahir dalam hal ini. Jadi aku bermain-main sedikit. Dan tak ku sangka lagi, ternyata akulah pria yang menjamah tubuhnya. Pantas saja saat melakukannya Aira sedikit bergemetar diseluruh tubuhnya.


Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


Jadi aku dengan diam-diam membeli Aira. Sengaja mengajaknya kerumahku untuk mempertemukannya dengan Putriku yang selalu merengek meminta seorang ibu.


Beruntung, Dira menyukai Aira. Aku juga takjub dengan sikap Aira pada Dira yang terlihat sangat menyayangi putriku. Entah itu tulus atau tidak.


Yang penting itu sudah mengobati rasa rindu Dira pada kasih sayang seorang ibu.


"Hei-heii es kutup ini tersenyum?! Oh My Goddd!!" Suara seseorang yang tiba-tiba mengejutkanku.


Sialan, itu si Roy. Sekretaris sekaligus sahabatku mulai dari kami duduk dibangku SMA.


"Apa?" Tanyaku sewot.


"Hei kau tadi sedang tersenyumkan? Aku tidak salah. Aku melihatmu yang sedang melamun dan menarik 0,5 senti bibirmu itu. Senyumman yang sangat langka! Spil dong, apa yang membuat bosku ini tersenyum-senyum!" Roy menatapku dengan tatapan menggoda sembari menaik-naikkan alisnya yang tebal itu, menjijikkan.


"Diamlah Roy! Kau kesini mau apa?" Tanyaku kesal padanya.


Roy terkekeh, "Saya hanya bercanda boss! Aku kesini mau nganter formulir yang tadi pagi kau minta nih!" Roy memberikan sebuah map berwarna merah padaku.


"Mm, terima kasih. Kau boleh kembali." Pintaku.


Bukannya pergi, Roy malah duduk dikursi yang ada didepan mejaku. Aku mengerutkan keningku.


"Yaelah santai dong.. lagi pula aku sudah nggak ada kerjaan kok. Daripada gabut godain karyawati ya kan, mending kau spill cerita deh padaku."


Aku mendengus kesal, "Cerita apa sih Roy? Iya kau memang nggak ada kerjaan. Tapi lihat? Kerjaanku masih banyak."


"Woy tumben kau bicara banyak?" Ujarnya lagi membuatku ingin menonjok wajahnya.


"Iya-iya bercandaa Dir, astaga tegang mulu hidupnya."


Aku mengabaikannya dan kembali bekerja, pekerjaannya yang sempat tertunda karena hal tadi.


"Hei, gimana j4l4n9 cantik yang ada dirumahmu itu?" Tanyanya. Itu membuatku menoleh dan menatap kearahnya.


"Jangan sebut dia seperti itu." Tekanku. Entah kenapa aku tidak terima dengan ucapan Roy yang menyebut Aira dengan sebutan itu.


"Loh kenapa? Ucapanku kan memang benar?"


Aku menghela nafas, "Dia tidak seperti yang kau bayangkan Roy."


"Oh oke-oke. Perihal karena kau adalah Pria yang pertama menjamahnya kan?" Ujarku. Memang sebelumnya aku sudah menceritakan semua tentang Aira pada Roy.


"Baiklah aku minta maaf, lalu? Dia sekarang dijuluki apa? Apa sebagai pengasuh princess?"


Princess itu adalah panggilan Roy pada Dira.


Aku terdiam dengan ucapan Roy. Entah kenapa ini sedikit membuatku tertohok.

__ADS_1


"Ahh sudahlah. Apapun julukannya. Sebagai pengasuh pun.. nggak ada yang namanya pengasuh selalu di 'tiduri' oleh majikannya sendirikan?"


Aku memejamkan mataku. "Roy, sudah hentikan bicaramu itu sebelum tanganku melayang diwajahmu itu. Lagi pula, kenapa kau ingin tau sekali tentang Aira hah?".


Roy meringis, "nggak, dia cantik sekali sih. Aku juga mau kok menjadikannya sebagai kekasih. Gak papa walau bekas Sahabat sendiri."


Aku berdiri menghampiri roy dan mencekram kuat bajunya. "Apa kau bilang hah?!"


"Eh, ehhh bercanda woy! Bercanda!"


"Sekali lagi kau bicara yang tidak-tidak tentangnya. Habis kau!" Ancamku. Mulut Roy yang sialan. Bisa-bisa dia menyebut Aira begitu.


"Iya nggak ak--"


"Papaaa!!"


Atensiku beralih kearah pintu yang terbuka menampakkan putriku dan sedang digandeng seorang gadis-- ahh kok daritadi gadis si? Maksudku wanita yang akhir-akhir ini selalu ada dipikiranku.


"Loh? Papa kenapa narik bajunya om Roy?" Ujar polos Dira. Aku segera melepaskan cengkeramnya dengan sedikit mendorong Roy.


Roy menghela nafasnya lega, "Huuuufftt selamat. Untung ada princess yang datang." Gumam Roy yang masih terdengar olehku.


"Masuklahh." Perintahku pada Aira yang masih berada di ambang pintu sembari menggandeng Dira.


"Halo princess! Tumben princess kesini? Dan halo juga Aira yang cantik." Sapa Roy pada Aira. Entah kenapa ucapannya membuat mual.


"Papa hari ini nggak anter Mama jemput aku disekolah om. Mangkanya setelah pulang sekolah aku kesini" Celoteh Dira. Ahh iyaa, karena pekerjaan yang sangat banyak, aku melupakan Dira yang selalu ku jemput sekolah saat jam Makan siang.


"Whatt? Mama?" Ujar Roy terkejut.


Dira mengangguk, "Iya om Mama. Ini Mama aku, om belum tau ya?"


Wajar saja Roy terkejut, kalau soal yang ini aku belum memberitaunya. Roy menatapku dengan menyipitkan matanya.


"Kau punya hutang cerita padaku kawan. Nanti aku akan menagihnya. Diraa om pergi dulu ya? Aira, saya permisi." Pamit Roy.


"Iya t-tuan" ujar Aira yang kikuk.


"Akhirnya hama itu pergi." Gumamku.


Aku menghampiri Dira dan menjajarkan tinggiku padanya. "Maafkan Papa sayang. Kerjaan Papa banyak sekali. Jadi lupa deh jemput Dira sekolah."


"Iya Dira maafin. Tapi jangan ulangi lagi ya pa?" Aku mengangguk dan mengelus pucuk kepalanya.


"Dira tumben kesini? Ada apa?" Tanyaku.


"Dira nanti pengen jalan-jalan pa.. ayo nanti kita jalan-jalan." Rengeknya padaku.


"Iyaa nanti. Tapi papa selesai in Pekerjaan papa dulu ya?" Pintaku. Dira mengangguk dengan semangat.


"Oke Papa. Oh iya, Mama bawain Papa makanan lo Pa! Mama sendiri yang masak! Enak banget, tadi Dira udah makan dirumah!" Ujarnya dengan semangat. Aku melirik ke arah Aira, dan benar dia sedang menenteng sebuah rantang. Wahh kebetulan sekali ini jam makan siang.


"Maaf, aku bawain k-kamu makanan. Kamu mau nggak?" Tawar Aira padaku. Aku pun berdiri dan menganggukkan kepalaku.


"Taruh saja dimeja. Aku mau menyimpan file dulu." Perintahku, Aira mengangguk dan meletakan rantang itu dimeja.


"Paa ayo makan... Dira lapar lagi! Ayo kita makan sekarang." Dira menarik-narik tanganku.


"Sebentar sayang, Papa mau nyimpan file dulu. Sini, Dira sama Mama. Dira lapar lagi ya?" Ujar Aira dengan lembut. pantas saja Dira sayang sangat pada Aira. Tak sia-sia juga aku sudah membelinya.


Dira menghampiri Aira dan Aira segera menata makanannya. Sedangkan aku pun segera menyimpan File dokumen. Aku juga ingin segera makan, bau makanan itu sudah membuat penghuni perutnya meronta-ronta.


Aku pun menghampiri keduanya.


"Mau makan sama apa?" Tawar Aira. Yang ku lihat disana ada lauk nasi goreng Cumi, Nasi putih, tumis jamur, ayam crispy+sambel tomat trasi kesukaanku!. Wahh sungguh menggoda iman sekali.


"Aku coba dulu." Sebenarnya aku agak ragu sih sama rasanya. Aku tidak tau juga bahwa perempuan seperti Aira bisa memasak. Aku mengambil sendok dan mencoba memasukkan Nasi goreng cumi itu kedalam mulutku. Wahh, sesuai ekspetasi! Sangat enak. Aku pun juga mencicip sambelnya, enak. Sangat enak, cocok juga dilidahku.


"Aku mau semuanya." Ujarku membuat Aira sedikit terkejut. Tapi akhirnya dia mengangguk dan mengambilkan semua itu padaku.


Kami pun akhirnya makan bersama. Dira disuap oleh Aira, anak itu tadi sudah nambah nasi. Tak hanya Dira, aku juga menyukai masakan Aira. Kalau setiap hari makanan ini ada di meja makan. Bisa-bisa perut sixpack ku hilang.


"Maa mau sambelnya juga dong."


"Ehh nggak boleh sayang, sambelnya itu pedas. Dira nanti sakit perut jika memakan itu. Mama bawa saos kok khusus untuk Dira. Dira pakai saos aja ya?"

__ADS_1


Aku menatap kedua perempuan yang ada dihadapanku. Kedua sudut bibirku sedikit tertarik ke atas. Pemandangan yang selalu ku inginkan dan ku tunggu.


***


Sesuai permintaan Dira tadi, aku mengajak Dira serta Aira berjalan-jalan di Mall. Aku dan Aira menemani Dira yang sedang bermain. Dan terkadang kita juga yang bermain. Jika dilihat, kami seperti sepasang seorang suami istri yang sedang menemani putrinya bermain.


Setelah puas bermain, kami pun membeli berbagai ciki-cikian. Tentu saja tanpa es krim. Aku melarang keras Dira untuk memakan itu. Aku memberinya jadwal seminggu sekali untuk memakan es krim. Karena aku trauma beberapa bulan yang lalu saat Dira terkena sakit.


Setelahnya kami pun pulang kerumah sekitar jam 08 malam. Aira langsung menuntun Dira untuk membersihkan diri. Sedangkan aku langsung saja juga membersihkan diriku, karena aku sudah risih dengan tubuhku yang sedikit plikat.


Sekitar 15 menitan, aku sudah menyelesaikan ritual ini. Aku mengambil handuk kimono berwarna putih itu untuk ku pasangkan pada tubuhku. Aku pun langsung membuka pintu kamar mandinya dan keluar.


Aku mengerutkan keningku kala melihat keadaan kamarku yang sangat gelap. Perasaan, aku tak pernah mematikan lampu kamarku kecuali aku kalau tertidur. Aneh, siapa yang mematikannya? Apa Aira? Tapi Aira kan sedang ada dikamar Dira.


Aku pun memutuskan untuk mencari saklar lampu yang ada didekat pintu. Oh sial, gelap sekali, hanya ada sedikit pencahayaan yang berasal dari kamar mandi.


Aku berjalan perlahan untuk menekan saklarnya.


"Happy birthday to youu~ happy birthday to you~"


Aku mematung kala mendengar seseorang tengah bernyanyi. Dari arah pintu, kulihat seseorang membawa kue yang lilinnya sudah dinyalakan. Perlahan kue itu menghampiriku.


"Happy birthday To you~!!"


Ahh ternyata Aira dan Dira ya? Aku terkejut, karena banyaknya pekerjaan, aku sampai lupa dengan hari ulang tahunku sendiri.


"Tiup lilinnya pa!" Perintah Dira dengan semangat.


"Berdoa dulu." Aku mengangguk kala Aira menyuruhku untuk berdoa terlebih dahulu. Aku pun memejamkan mataku dan meramalkan doa.


'Semoga kebahagian selalu menyertai kami. Dan tolong jangan jauhkan Aira denganku dan Dira'


Setelah itu aku pun meniup lilinnya. Aira dan Dira pun bersorak ria. Aku menggelengkan kepalaku dan segera menyalakan lampunya. Terlihat Aira memegang kue Coklat beserta hiasannya dan lilin angka yang berbentuk '26'. Heii, bagaimana Aira bisa tau?


"Ayo potong kuenya." Aira memberiku pisau kue. Aku pun memotong kuenya. Dan akan menyuapi kue itu pada Dira, tapi aku urungkan. Aku pun menyuapi Aira terlebih dahulu. Aira terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dengan perlahan dia membuka mulutnya dan melahap kue itu. Dan yang kedua yang mendapatkannya adalah Dira.


"Wahh kue buatan Mama enak banget! Mama pinter banget sihh?" Puji Dira. Ahh ternyata ini semua pasti ide Aira kan?


"Enakan pa?" Tanya Dira. Aku pun mengangguk. Aku tidak bohong, kue buatan Aira memang enak. Tak kusangka dia bisa memegang alat dapur.


"Kalian merencanakan ini?" Tanyaku. Aira dan Dira saling menatap dan meringis.


"Iya, Putrimu ini dengan antusias membahas ini dari kemarin. Karena Dira bilang ulang tahunmu cuman kamu rayakan hanya beberapa kali. Jadi, aku ingin membuat ide ini bersama Dira." Jelas Aira.


Aku pun menjajarkan tinggiku pada Dira. "Terima kasih ya putri papa yang cantik."


"Emm! Sama-sama pa!" Dira menangkup pipiku dengan tangan mungilnya. "Selamat ulang tahun Papaku yang ganteng~"


Aku tergelak, dan memeluk tubuh mungil itu kedalam dekapanku. "Terima kasih banyak sayang."


"Papa jangan terima kasih padaku aja dong. Kan Mama juga capek-capek bikin ini semua." Ujar Dira. Aku sempat terdiam. Hingga akhirnya aku berdiri dan menghampiri Aira yang masih memegang kue buatannya.


"Terima kasih." Ujarku singkat. Dan entah kenapa bibir ini reflek mencium kening Aira. Yang kulihat Aira terlihat membeku.


****


"Sudah tidur dia?" Tanyaku pada Aira yang membuka pintu kamar setelah menidurkan Dira.


"Iya tuan sudah."


Aku pun menghampiri Aira, dan menariknya untuk berbaring diranjang. Aku mengukung tubuhnya di bawahku.


"Kenapa kau bisa tau ini hm?"


Aira menatap mataku. "Dira, aku tau dari Dira. Mangkanya aku antusias membuat ini semua."


"Kenapa? Kenapa sangat antusias?" Tanyaku. Aira terdiam dan tak menjawab. Aku pun mencium pipi kanannya.


"Terima kasih, tidak usah jawab pertanyaanku, itu tak penting. Aku senang dengan kejutannya." Ujarku. Aku tidak berbohong, aku sangat senang sekali hari ini. Baru pertama kali ada yang memberiku kejutan dihari spesialku.


Tiba-tiba Aira mengalungkan tangannya pada leherku. "Selamat ulang tahun tuan, dan Happy valentine day~"


Dan yang membuatku terkejut, Aira tiba-tiba menc!um bibirku. Padahal selama ini dia tak pernah melakukan ini. Tak mau menyiakannya, aku pun membalasnya dengan menggebu-gebu. Aku terus menuntunnya untuk ke 'hal' yang lebih menikmatkan.


Bersambung...

__ADS_1


tamat .....


__ADS_2