
[Suruh istrimu transfer uang 1 juta ke Ibu, ini sudah tanggal 5 kok belum ditransfer juga. Dia itu lupa atau pura-pura lupa? Kalau pura-pura lupa, Ibu doakan hilang ingatan sekalian]
[Ibu tidak mau uang hasil kerja keras anak Ibu jatuh ke perempuan selain Ibu, uang anak Ibu adalah uang Ibu, bukan orang lain]
Deg! Kubaca pesan Ibu Mertua yang nampak di layar ponsel Mas Fahmi. Mataku memanas seketika kala membaca pesan Ibu Mertua berulang kali.
[Tenang saja Bu, nanti Nadia pasti akan mentransfernya dan nafkah yang Fahmi berikan akan beralih lagi ke tangan Ibu. Fahmi juga tidak mau kalau uang Fahmi jatuh ke tangan orang lain selain Ibu]
Tubuhku lunglai seketika kala membaca balasan dari Mas Fahmi kepada Ibu Mertua. Aku tidak mengira bahwa suamiku yang selalu bertutur lembut kepadaku itu ternyata begitu menjijikkan.
Aku memang sengaja mengintip kata sandi Mas Fahmi untuk bisa mengotak-atik ponselnya tapi aku tidak mengira sekalipun bisa menemukan percakapan seperti ini.
[Bagus begitu dong anak Ibu, pintar sekali. Nanti minta juga rumah kepada istrimu itu]
[Pasti Bu, cepat atau lambat aku pasti akan memintanya]
Air mataku rasanya tidak bisa tertahan, selama ini aku selalu menyukupi semua yang mereka mau karena perlakuan mereka yang begitu baik tapi nyatanya ini yang aku dapatkan selama ini.
__ADS_1
Rasanya memang aku adalah orang paling b*doh di dunia ini, hanya melihat perlakuan mereka yang begitu manis tanpa melihat sifat asli mereka yang hanya memanfaatkanku.
Aku memang bekerja selama ini sehingga aku tidak pernah menuntut nafkah kepada Mas Fahmi, ternyata selama ini mereka merencanakan memberiku uang nafkah dan kemudian diminta kembali dengam cara ditransfer ke Ibu Mertua.
Aku mengusap air mataku saat gemercik air tidak terdengar lagi bunyinya. Kriet! Pintu kamar mandi dibuka.
Kuusap air mataku yang tersisa dengan cepat agar dia tidak mengetahui semuanya, aku tidak boleh ceroboh karena masih banyak hakku yang ada padanya.
"Sayang kamu sudah ada disini?" tanya Mas Fahmi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku hanya diam saja karena malas sekali menjawab orang munafik seperti dirinya.
"Iya Mas," jawabku singkat.
Ini kali terakhirnya aku akan menjadi istri penurut untuk Mas Fahmi, setelah ini aku tidak akan mau lagi dimanfaatkan olehnya dan keluarganya.
***
__ADS_1
"Nad, ini tas mewah yang sudah Ibu pesan, belikan untuk Ibu ya, tidak usah dikasih uang 1 juta belikan saja ini untuk Ibu ."
Perintah Ibu Mertua membuat hatiku semakin panas. Nadanya memang terdengar lembut tapi perintahnya yang memanfaatkanku membuatku semakin dibakar emosi.
"Oh iya sayang, ini uang nafkah dariku untuk bulan ini," ucap Mas Fahmi seraya menyodorkan uang 700 ribu kepadaku.
Aku menatap tajam kearahnya, aku tahu bahwa dia memberinya sekarang karena Ibunya akan minta kembali uang itu saat ini juga.
Aku mengambil uang yang disodorkannya kepadaku. "Maaf Mas, mulai sekarang aku tidak mau lagi menggunakan uangku untuk kebutuhan rumah tangga ini. Cicilan rumah, kebutuhan rumah tangga semua harus kamu yang urus. Ini mas ambil uangmu kembali dan urus kebutuhanmu dan nafkah orang tuamu sendiri mulai sekarang," ucapku seraya membuang uang 700 ribu kearah Mas Fahmi.
"Dan satu lagi kalau kamu punya uang belikan sendiri Ibumu tas karena aku tidak mau membelikan itu," ucapku melanjutkan.
Mas Fahmi terperangah menatapku tak percaya, gerahamnya bergetar, wajahnya berubah menjadi merah padam.
Drtt.. Drtt... Ponsel Ibu Mertua berbunyi. Terlihat Ibu Mertua buru-buru menerima telfonnya.
"Mi, ini penjual tas yang Ibu pesan sudah meminta uang, bagaimana ini Mi?" tanya Ibu Mertua dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Aku hanya menatap mereka tanpa rasa kasihan sedikitpun. Enak saja mereka mau memanfaatkanku lagi. 'Tidak akan aku biarkan mereka memanfaatkanku lagi dan tunggu saja apa yang akan aku lakukan setelah ini.