
"Ra, maafin aku, ya," ucapku lagi. Tetapi dia malah memalingkan muka.
"Serra."
Serra menepis tanganku dengan kencang. Meski begitu aku meraih tangannya lagi.
"Serra, aku mohon jangan seperti."
"Ra, kamu udah baca, kan pesan dari aku? Ayok kita makan di restoran favorit kamu. Kamu bisa makan apa saja yang kamu mau. Bebas," tambahku.
Serra masih diam. Wajahnya masam tak bersahabat.
"Ra, katakan sesuatu," pintaku.
Namun, Serra malah pergi menyetop taksi setelah menepis kuat-kuat tanganku.
"Se ..."
"Pak Devan." Aku batal mengejar Serra, sebab ada yang memanggil.
"Ya?" Aku berbalik, melihat siapa yang memanggilku.
"Maaf Pak Devan, barusan Pak Devan mau mengejar Serra," kata Diana. Ya, orang yang memanggilku adalah Diana.
"Emm .. enggak. Kata siapa," jawabku kikuk sambil melirik taksi yang sudah membawa Serra pergi. Mau ke mana sebenarnya Serra? Jangan-jangan mau ngadu sama Mama Papanya lagi. Atau mau ngadu sama Mami dan Papi. Ah, jangan sampai. Bisa-bisa nanti aku kena omel lagi.
"Oh .. enggak, ya." Diana menyengir. "Saya pikir Bapak mau ngejar teman saya. Soalnya pas saya keluar Bapak seperti tengah berbicara dengan Serra, dan saat Serra naik taksi Bapak seperti mau mengejarnya. Tapi kayaknya itu cuma perasaan saya aja," terangnya.
"Yaudah kalau gitu, saya permisi, ya, Pak. Mari, Pak." Diana berlalu setelah mengangguk sopan padaku.
Hhhhhhh, aku mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Hampir aja ketahuan.
Aku kembali teringat Serra, buru-buru langkah ini bergerak menuju parkiran dan memasuki mobil. Siapa tahu taksi yang ditumpangi Serra masih bisa terkejar.
Gara-gara teman Serra memanggilku, aku jadi tidak bisa mengejar taksi yang ditumpangi Serra. Sudah lah, aku pasrah aja kalau Serra ngadu sama Mami dan Papi. Tapi, sejauh ini sih, Serra belum pernah ngadu. Ya, semoga sekarang juga nggak ngadu.
**
Aku turun dari mobil setelah memarkirkan mobil di garasi rumah. Setelah menikah aku memutuskan untuk membeli rumah dan membawa Serra pindah. Meskipun rumah tidak sebesar rumah Mami dan Papi, tapi setidaknya aku bisa membelikan rumah untuk Serra.
__ADS_1
Aku membeli rumah dari hasil kerja kerasku selama ini. Sengaja menolak bantuan dan pemberian dari Mami dan Papi. Ya, biar mandiri aja, sih.
Ketika langkah ini sampai di depan pintu, aku terhenyak. Pintu rumah sedikit terbuka, itu artinya Serra pulang ke rumah. Seketika wajahku berbinar, dengan semangat aku memasuki rumah dan mencari keberadaan Serra.
Di sofa aku melihat tas Serra tergeletak begitu saja, kuedarkan pandangan dan aku menemukan Serra sedang makan di ruang makan.
"Ra." Aku mendekatinya.
Serra tak menghiraukan keberadaanku, dia fokus makan.
"Katanya mau makan di luar. Kok malah makan di rumah," ujarku, memelas.
"Serra, jawab aku."
Serra masih asyik dengan makanannya. Ya Tuhan .. apa dia menganggapku patung. Sejak tadi aku bicara dia tak menyahut sama sekali.
Aku menghela napas setelahnya duduk di sebelahnya. Aku duduk menyamping menghadap ke arahnya. "Makanannya mau aku suapi?" tawarku.
Serra sering merengek memintaku menyuapinya. Semoga dengan ini dia akan luluh.
Serra menjauhkan piringnya saat aku baru menyentuh sisi piringnya.
"Nggak mau aku suapi? Maunya apa dong?" tanyaku lagi. Mencoba untuk bersabar menghadapi Serra.
Dan, Serra masih bungkam.
"Ra, aku tahu kamu marah gara-gara tadi Gita ada di ruanganku, kan," ujarku.
"Kamu jangan salah paham dulu, aku nggak pernah minta Gita supaya datang ke kantor. Dia datang sendiri," lanjutku.
"Tapi kamu senang, kan?" Akhirnya Serra bersuara.
Aku menggeleng cepat. "Enggak. Aku nggak suka, benaran. Malah aku merasa terganggu karena kedatangan Gita."
"Oh, kamu merasa terganggu kalau ada orang lain yang menganggu waktu kerja kamu?" Serra menatapku sambil menyipitkan matanya.
"Iya, dong."
"Termasuk aku?"
__ADS_1
"Iya."
Eh.
Serra melotot tajam.
"Eh, enggak-enggak." Aku mengibas-ngibaskan tangan. "Kalau kamu yang masuk ke ruang kerjaku, aku nggak terganggu sama sekali. Beneran." Aku mengekori Serra yang berjalan ke wastafel.
"Biar aku yang mencuci piringnya."
Serra menepuk punggung tanganku. "Awas!" sentaknya.
"Udah nggak papa biar aku yang mencuci piringnya," kataku lagi.
"Aku bisa sendiri," tukasnya.
"Mending kamu pergi aja, sana," usirnya.
"Kamu ngusir aku?" tanyaku dengan raut sesendu mungkin.
Serra tak menjawab. Dia memutar kran air lalu membilas piring dan gelasnya setelah menyabuninya.
Aku tersenyum lebar setelah mendapatkan ide.
Kubiarkan Serra dengan pekerjaannya, aku hanya menyaksikan dari belakang.
Serra mematikan kran air, lalu menyimpan piring dan gelas serta sendok garpu yang sudah bersih ke rak piring. Ketika Serra akan berbalik aku langsung siap-siap.
Dan ...
Aku mengecup tepat di bibirnya ketika Serra sudah berbalik menghadapku.
Serra memaku.
Aku masih di posisi semula, menunggu reaksi Serra. Ini adalah pertama kali aku berani mencium bibirnya. Selama menikah aku dan Serra belum pernah ngapa-ngapain. Kami tidur di ranjang yang sama tapi kami belum pernah melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri yang lainnya.
Serra diam, tidak berontak. Apa itu artinya dia menyukainya?
Beberapa detik kemudian aku menyudahinya. Aku menatap Serra yang tengah menunduk dan sepertinya dia tersipu.
__ADS_1
"Ra." Aku membelai sisi wajahnya. "Aku itu udah nggak ada perasaan apa-apa sama Gita. Dia itu cuma mantan aku. Masa lalu aku. Kan, sekarang istri aku itu kamu." Aku meraih Serra ke dalam dekap dan mendaratkan kecupan hangat di keningnya.
"Jangan marah lagi, ya.