Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
ISTRI KUH MENJADI KUPU KUPU MALAM BAB 5


__ADS_3

"Pelan-pelan tuan, sakit!" Pekikku saat Dirga langsung menarik tanganku dengan kuat.


Dirga sepertinya menulikan telingannya, dia membawaku kedalam kamarnya dan menghempaskan tubuhku diranjang tidurnya.


"Berani sekali dirimu mengijinkan Dira memakan es krim?" Tanya nya tegas padaku.


"Kenapa? Dira sangat menginginkannya. Aku tak tega melihat wajahnya. Sekali-kali dia makan, Dia tak akan makan tiap hari kan?" Ujarku dengan santai.


"Kau itu tak tau apa-apa! Kau masih belum berpengalaman tentang ini!"


"Hanya karena Es Krim kau marah sampai seperti ini?" Tanyaku dengan kesal, ohh ayolah ini perkara es krim saja lo.


"Hanya? Hanya katamu? Hei, Dira itu gampang sakit. Dan kau seenak jidat memberinya es krim sebanyak tadi!" Dirga tampak mulai emosi.


"Tapi itu-- mphhh!!" Tiba-tiba Dirga menci*m dan mendorong tubuhku terlentang. Dirga meraupku dengan menggebu-gebu.


Aku terus memberontak dan memukul-mukul dadanya. Dirga pun menghentikannya dan menatap tajam kearahku.


"Diam dan tetap ikuti apa yang ku lakukan. Jangan membantah jika tak ingin aku melakukan dengan kasar!" Ujarnya membuatku menciut.


Kemudian Dirga kembali melanjutkan aktivitas. Duhh pagi tadi kami baru melakukan, dan sekarang melakukannya lagi. Remuk badannku nanti.


Kamar Dirga pun kembali terisi dengan suara ******* berasal dariku dan Dirga. Entah kenapa, Dirga melakukannya sedikit lebih 'kasar' ketimbang semalam.


,,,,


Dirga mencium Keningku dengan lembut dan memelukku dengan erat. "Maaf..." ujarnya tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanyaku padanya.


"Maaf meluapkan emosiku padamu. Aku hanya takut jika terjadi sesuatu pada Dira. Terakhir Dira memakan Es Krim, dia masuk rumah sakit. Aku takut hal itu terjadi lagi. Mangkanya aku bersikeras melarang Dira memakan es krim lagi." Ujarnya terlihat sedikit menyesal.


Aku tersenyum menatapnya. "Tak apa, bukan salahmu kok. Ini salahku, aku telah lancang memberi ijin Dira untuk makan Es Krim tadi."


Dirga menggelangkan kepalanya. "Tidak bukan salahmu. Aku lupa memberitaumu tentang ini. Kau masih tak tau apa-apa. Ini pasti pengalaman pertamamu kan?"


Aku mengangguk, "Iya, aku tak pernah sedekat itu dengan anak kecil. Jadi wajar aku tak tau tentang apapun. Tapi tuan jangan memarahi Dira seperti tadi, kasihan dia masih kecil. Pasti Dira sangat sedih."


Dirga menghela nafasnya, "Iyaa nanti aku akan meminta maaf padanya, sekarang ayo kita langsung mandi."


"Mandi bersama?" Tanyaku padanya.


Dirga terkekeh, wahh baru pertama kali aku melihatnya tersenyum. Tampan sekali...


"Ohh kau mau ya? Baiklah tak ada penolakan dariku." Aku memekik saat Dirga tiba-tiba menggendongku menuju ke kamar mandi.


Aku berusaha memberontak, tapi itu sia-sia. Dan akhirnya kami melakukannya dikamar mandi lagi. Ohh benar-benar ****** pribadi.


,,,,

__ADS_1


"Dira kemana Bi?" Tanya Dirga pada Bi Lia yang sedang menyiapkan makan malam.


"Non Dira ada dikamarnya tuan, dia nggak mau turun." Tuturnya.


Kulihat Dirga tampak mendengus. Aku menggenggam tangannya, "Ayo kita hampiri dikamarnya."


Dirga mengangguk, dan kami kembali naik keatas untuk ke kamar milik Dira. Aku mengetuk pintu yang berwarna Dusty Pink itu. "Dira.. ini mama. Dira ada didalam?"


Tak ada sautan dari dalam. Aku mencoba mengetuknya kembali, "Dira.. ayo buka pintunya. Dira harus makan."


Tak ada sautan juga.


"Ayo masuk kedalam saja." Ujar Dirga dan membuka pintu kamar milik Dira.


Kami langsung masuk kedalam. Ini pertama kali aku masuk ke kamar Dira, kamarnya semua bernuasa warna pink. Banyak mainan serta boneka yang terpapang di meja hias.


Dira tampak tidur dan menutupi semua tubuhnya dengan selimut. Aku duduk disampingnya, dan menggoyangkan badannya. "Sayang... ayo bangun, makan."


Hening.. Dira tak menjawab ucapanku. Karena merasa Dira masih belum terbangun, aku langsung membuka selimut nya. Aku dan Dirga terkejut setelah melihat tubuh Dira yang menggigil.


"Dira!!" Aku memangku kepalanya. Aku panik bukan kemalang, ada apa dengan Dira ini? Duhh mana aku nggak berpengalaman tentang anak-anak lagi.


"Dira kenapa tuan?" Ujar ku lirih.


"T-tunggu sebentar aku akan menelpon dokter!" Ujarnya yang juga panik, dan dia langsung menelpon seorang dokter untuk datang kesini.


"Iyaa sayang ini Mama." Ujarku dengan lembut.


"M-maafin Dira, g-gara-gara D-dira, M-mmama dimarahin Papa." Ucap terbata-bata. Aku menggelengkan kepalaku.


"Nggak sayang, Dira nggak salah. Papa nggak marah sama Mama. Mama yang salah..."


Dira tak menjawab ucapanku dan menenggelamkan kepalanya diperutku. "Dira pusing maa.."


"Iya sabar, sebentar lagi dokter kesini. Dira yang sabar ya?" Aku terus berusaha mengajaknya bicara. Dira hanya mengangguk patuh.


"10 menit lagi dokter sampai." Ujar Dirga yang duduk disebelahku. Dia membelai rambut Dira dan mengecup keningnya.


"Sabar ya nak? Sebentar lagi nggak pusing kok."


"Iya papa..."


Setelah sekitar 10 menit akhirnya dokter itu datang juga. Dira langsung diperiksa oleh dokter itu. Aku menggigit jariku dengan cemas.


"Tenang, semua baik-baik saja." Ujar Dirga yang menenangkanku.


"T-tapi ini semua gara-gara aku. Jika aku tau tentang ini pasti aku tak akan mengijinkan Dira makan es krim." Ujarku dengan mata berkaca-kaca.


"Hei, tak akan terjadi sesuatu. Tenanglah, jangan menyalahkan dirimu." Dirga menarikku kedalam pelukannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian dokter selesai memeriksa Dira. Kata dokter, Dira terkena demam. Tapi katanya hanya demam biasa, sebentar lagi akan menurun jika sudah meminum sirup darinya. Tapi tetap saja aku khawatir, itu gara-gara aku yang lancang memberinya es krim. Pantas saja kalau Dirga marah.


Aku menyelimuti Dira yang sudah ku beri sirup dari dokter tadi. Dira langsung tertidur setelah panasnya sedikit turun. Aku memeluknya dengan erat. Aku tak tau apa yang terjadi denganku. Kenapa aku bisa sesayang ini dengan Dira, padahal dira bukan anakku dan kami hanya beberapa hari saja saling mengenal.


"Aku akan tidur disini dengan Dira tuan." Ijinku pada Dirga.


"Iya, aku juga akan tidur disini." Aku hanya mengangguk patuh. Kemudian kami merebahkan diri disamping dengan Dira yang ada ditengah-tengah kami.


Aku terus mengelus rambut Dira dengan lembut. Tiba-tiba Dirga menggenggam tangannya. "Tenang jangan khawatir, Dira hanya demam biasa."


"Tapi aku masih khawatir tuan.. aku sudah lancang memberi es krim pada Dira. Aku minta Maaf."


"Tidak apa. Dan, terima kasih telah mengkhawatirkan Dira. terima kasih meluangkan waktumu untuk Dira."


,,,


Keesokan paginya Dira sudah lebih sehat. Hari ini aku menyuapinya makan yang tadi di bawakan oleh bi Lia kekamar Dira.


"Dira udah nggak pusing kan?" Tanyaku padanya yang sedang bermain boneka kesayangannya.


"Nggak maa, Dira udah sehat." Ujarnya membuatku lega.


"Papa nggak kerja?" Tanya Dira kepada Dirga yang duduk disamping kami.


Dirga menggeleng, "Nggak, hari ini papa akan menjaga Dira."


"Nggak usah Pa, kan sudah ada Mama. Papa kerja aja."


"Jadi Papa diusir nih?" Ujar Dirga yang tampak merajuk. Duhh lucu banget wajahnya, ehh? Kok aku anu sih..


"Hehe bercanda pa.." Dira meringis lucu, Dirga mencubit tembamnya. "Maafin Papa yang semalam ya sayang."


Dira mengangguk, "Iya, maafin Dira juga paa. Dira udah melanggar aturan papa dan Dira jadi sakit. Dan membuat Mama jadi panik." Ujarnya dengan lesu.


"Mama panik karena khawatir pada Dira. Tak apa kok, jangan salahkan Dira lagi ya?" Ujarku dan Dira mengangguk dengan tersenyum.


Selanjutnya kami menghabis kan waktu dirumah dengan bercanda tawa.


Disela-sela tengah bercanda riang, aku melupakan sesuatu.


"Emm Dira, Mama mau ke kamar mandi dulu ya?" Pamitku pada Dira, Dira pun mengangguk.


Aku pun beranjak menuju kekamar milik Dirga dan mengambil sesuatu dalam tasku, dan aku membawanya kekamar mandi.


Yang kubawa adalah obat pencegah yang ku beli kemarin, aku jangan sampai lupa meminumnya. Nanti bisa-bisa hamil aku. Aku pun menelannya tanpa bantuan air pun.


Aku menghela nafas lega, "Semoga nggak jadi deh.."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2