
KUPU-KUPU MALAM PRIBADI🦋
Bab. 07.
_________
Pagi hari, aku terbangun karena dikejut dengan suara yang berasal dari ponsel milik Dirga. Aku mengucek-ngucek mataku, dengan sedikit kesadaran, aku mencoba menggoyangkan tubuh Dirga agar dia segera bangun.
"Tuan bangun, ponselmu berbunyi.." Ujarku. Karena tak ada pergerakan darinya, aku pun mencoba menepuk-nepuk pipinya. "Tuan ayo bangun... ponselmu berbunyi."
Kulihat Dirga menerjap-nerjapkan matanya, "Ck, ada apa?" Tanyanya dengan suara serak khas tidur miliknya.
"Tuan ponsel mu berbunyi. Angkatlah." Pintaku, dengan malas Dirga pun mengambil ponsel miliknya yang terletak dinakas samping ranjang.
"Hm.. ada apa roy?"
....
"Ck, kau menelponku sepagi ini hanya karena itu?" Ujar Dirga dengan kesal.
....
"Kau gantikan saja aku, bilang saja aku sedang tak enak badan."
....
"Iya, sudahlah. Aku akan tidur lagi." Dirga mematikan telponnya dengan sepihak dan melemparkan ponsel mahalnya kesembarang arah. Dia yang punya hp tapi aku yang dag dig dugan.
"Ada apa tuan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. Dirga memejamkan matanya, "Tak ada apa-apa, sekretarisku menelpon katanya hari ini ada rapat."
Aku mengangkat kedua alisku, "Terus kenapa tuan tidak cepat bersiap-siap?"
"Aku sedang malas, aku sangat lelah ingin tidur saja seharian ini." Oke, memang Dirga itu selalu sibuk dikantor miliknya. Tapi setidaknya dia jangan bertindak sesuka hati.
"Jika tuan tak ada, terus siapa yang akan menggantikan tuan?"
"Ck, aku bisa menyuruh sekretarisku untuk menggantikanku sementara." Wahh kenapa dia mempercayakan semuanya pada sekretarisnya. Apa dia tidak takut dibohongi? Sekarang kan banyak yang melakukan hal itu.
"Tapi tuan kau--" Aku tak melanjutkan ucapanku saat tiba-tiba aku di tarik Dirga ke pelukannya. Dia menenggelamkan kepalaku di dada nya yang tanpa beralas pun.
Dirga menghirup aroma tubuhku, "Sudah jangan banyak bicara. Ayo kita tidur lagi." Ujarnya dan memejamkan mata.
"Memangnya ini jam berapa?"
"Jam 10." Ujarnya membuatku membulatkan mata. Apa? Sudah jam 10? Ini bukan pagi lagi, ini sudah siang. Bisa-bisanya dia menyebut ini masih pagi. Pantas saja sekretarisnya menghubunginya.
"Ini bukan pagi lagi! Ini sudah siang tuan!" Ujarku kesal padanya.
__ADS_1
"Bagiku ini masih pagi, lihatlah langit nya tengah mendung. Jika tidak ada sinar matahari itu artinya masih pagi." Istilah seperti apa itu.
Aku mencoba memberontak dipelukannya, "Lepas tuan, aku harus mandi dan menjemput Dira sebentar lagi."
Bukannya melepasnya, Dirga malah makin mempererat pelukannya. "Hari ini kau tak usah menjemputnya. Biarkan Bi Lia yang menjemputnya, kau akan menemaniku seharian. Hari ini adalah hari khusus untuk Dirga dan Aira."
Aku mendengus, "Siapa yang mencetuskan itu."
"Aku." Jawab Dirga. "Sudah jangan banyak bicara, ayo kita tidur lagi.
"Tidak mau tuan, aku mau mandi. Badanku lengket semua ini." Ujarku yang kesal dengan polah Dirga.
Dirga melepaskan pelukannya dan tiba-tiba dia mengangkat tubuhku digendongannya. "Baiklah setelah itu kita tidur ya?" Dia membawaku ke kamar mandi.
Ohh ayolah, jika kekamar mandi bersama Dirga itu tidak akan terselamatkan.
,,,
Aku menggosok rambutku yang basah dengan handuk. Entah kenapa badanku sangat pegal sekali sekarang. Aku berjalan ke arah lemari berwarna putih yang isinya baju untuk ku pakai.
Sebenarnya aku masih bingung, kenapa Dirga memperbolehkanku untuk memakai baju milik mendiang istrinya? Meskipun ini masih baru dan sepertinya masih belum dipakai juga oleh pemiliknya.
Saat aku sedang berpikiran sesuatu, tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di perutku. Sudah ku tebak itu adalah Dirga. Dirga meletakkan kepalanya dipundakku. "Memikirkan apa?"
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak ada."
"Sebentar lagi." Ujarnya, kemudian dia menenggelamkan kepalanya diceruk leherku. Dia menghirupnya juga.
Aku menghela nafas, 'Seharusnya tak seperti. Ini luar batas dan sangat berlebihan.' Hatiku berujar.
"Kenapa?" Dirga bertanya balik padaku. Aku membalikkan tubuhku dan melepaskan pelukannya. "Tuan, kenapa kau memperbolehkan aku memakai baju mendiang istrimu?"
Dirga mengerutkan keningnya, "Istri?" Tanya nya yang tampak bingung.
Aku mengangguk, "Iya istri. Ini baju yang belum dipakai mendiang istrimu kan? Kenapa kau memperbolehkan aku memakainya?"
Ku lihat Dirga menggeleng-geleng kan kepalanya. "Tidak, itu memang baju milikmu, bukan milik orang lain. Aku meminta Roy untuk membelinya sebelum kau ku beli."
Ujarnya membuatku terkejut menatapnya, "Apa? Punyaku?" Tanyaku. Kenapa sebegitunya Dirga padaku? Dia memang menyiapkan ini dari awal? Ck, membuatku semakin bingung saja.
Dirga mengangguk, "Iya itu semua milikmu. Bukan orang lain Ai..."
Apa? Orang lain? Tega benget dia sama mendiang istrinya. "Tega banget tuan, masa istri sendiri dibilang Orang lain?"
"Istri apa sih?" Tanya Dirga yang tampak geram. Aku tahu, kegeramannya pasti terjadi karena aku mengungkit mendiang istrinya.
"Maafkan aku tuan, aku tak maksud mengungkit mendiang istrimu." Ujarku menatap matanya.
__ADS_1
"Aira, istri siapa sih yang kau maksud?"
"Istri--"
"Maa, Mamaa!" Ucapanku terpotong saat mendengar suara Dira dengan menggedor-gedor pintu kamar milik Dirga.
Aku pun langsung membukakan pintunya, dan terlihat Dira yang masih tetap dengan setelan baju sekolahnya. Dia menerobos masuk memeluk kakiku.
"Mamaa..." rengeknya padaku. Aku pun menyamakan tinggiku padanya. "Ada apa sayang?"
Dira melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut andalannya, "Mama hari ini kok nggak jemput aku sih?" Ujarnya dengan kesal.
"Maafin Mama, Mama hari ini bangun kesiangan karena Mama capek. Maafin Mama juga ya, karena Mama nggak nganter Dira kesekolah tadi." Ujarku, memang aku tak bohong. Badanku memang sakit semua hari ini. Pasti ini karena Dirga yang terus menggepurku.
"Ohh Mama baru bangun ya? Nggak papa Ma, Kata Papa tadi pagi Mama nggak bisa anter Dira dulu. Soalnya Mama masih tidur, jadi Dira disuruh berangkat sama bi Lia."
Apa? Tadi pagi? Berarti Dirga sudah bangun pagi tadi dong. Keterlaluan banget dia nyuruh Dira berangkat sama Bi Lia. Aku pun menatap nyalang pada Dirga yang sudah memakai baju itu. Dirga hanya mengangkat bahunya acuh.
"Yaudah, Dira minta sama bi Lia untuk ganti baju ya? Mama juga mau ganti baju. Setelah itu Dira makan ya?" Dira hanya mengangguk patuh dan pergi kekamarnya. Aku pun segera menutup pintunya.
"Tega banget ayah pada anak sendiri." Sindirku sembari mengambil baju dilemari.
"Kau menyindirku?" Tanya Dirga tak terima. "Tidak, hanya untuk yang merasa saja." Ujarku dan meninggalkannya untuk berganti baju.
Setelah makan siang, aku, Dirga serta Dira sedang berkumpul diruangan keluarga untuk menonton tv. Yahh meskipun hanya Dirga dan Dira yang ada disini, ruangan ini patut untuk dijadikan sebagai ruang keluarga.
Ngomong-ngomong tentang keluarga, aku tak pernah melihat ibu atau ayahnya Dirga. Memangnya mereka kemana ya? Atau mereka itu seorang pembisnis seperti Dirga?
"Mama bisa nggak bikin puding?" Tanya Dira padaku. "Puding? Dira mau puding?" Aku bertanya balik padanya.
Dira mengangguk dengan antusias, "Iya Ma! Dira mau! Mama bisa membuatnya?"
Aku tersenyum dan mengangguk, aku mengelus rambut Dira yang sudah ku sisir tadi. "Iya Mama bisa kok kalau ada bahannya."
"Kau tanya saja pada bi Lia tentang bahan-bahannya." Ujar Dirga menimpali.
"Permisi tuan." Bi Lia datang dari arah dapur.
"Ada apa?" Ujar Dirga. "Maaf sebelumnya tuan, Bahan-bahan masakan didapur sudah habis."
"Kebetulan, bi Lia tenang saja. Nanti aku sama Aira akan belanja bulanan. Bi Lia catat saja yang tidak ada didapur." Pinta Dirga dan diangguki oleh bi Lia. Bi Lia pun segera pergi untuk memeriksa bahan apa saja yang sudah habis.
"Kebetulankan? Nanti kau bisa cari bahan-bahan untuk membuat puding untuk Dira." Aku pun mengangguk. "Sekarang ayo siap-siap untuk pergi belanja."
Aku pun membawa Dira untuk bersiap-siap berbelanja. Ini kesempatan kan?
Bersambung...
__ADS_1