Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
ISTRI KUH MENJADI KUPU KUPU MALAM BAB 8


__ADS_3

"Sudah?" Tanya Dirga sembari meletakkan buah strawberry yang diminta oleh Dira lagi.


"Masih belum, kita melupakan soal bahan-bahan untuk membuat puding." Ujarku yang sedang menata belanjaan yang ada diatas Troli.


Kami pun langsung menuju ke tempat area bahan-bahan untuk membuat kue. Aku menggandeng tangan mungil milik Dira, sedangkan Dirga sedang mendorong Troli dibelakang kami. Kasihan sekali majikanku yang dingin nan ganas itu~


"Dira mau pudding rasa apa?" Tanyaku pada gadis kecil yang sedang ku gandeng. "Emm Dira mau rasa coklat Ma!" Serunya padaku.


Aku mengangguk dan tersenyum, "Oke, kita ambil yang rasa coklat ya?" Aku memasukkan pudding kemasan yang berwarna coklat 1 pack itu kedalam troli.


"Ambil saja yang banyak buat stok." Ujar Dirga yang menimpali, aku hanya menurut dan menambahkan 2 pack lagi pudding rasa coklat itu.


Ohh iya, tak lupa juga aku mengambil bahan-bahan yang lainnya yaitu Coklat batang, susu cair, dan lain-lain.


"Ohh iya Dira mau topping apa?" Tanyaku lagi, Dira tampak menatapku dengan kebingungan. "Emm Dira mau topping Oreo aja deh Maa." Ujarnya, aku pun mengangguk.


"Kalau begitu, ayo kita ke area perciki-cikian." Ajakku pada mereka.


"Waahh sekali beli jajan yang banyak yaa Ma! Ayo kita borong!" Serunya. Bagus Dira, Mama bangga padamu.


"Emm tanya sama Papa dulu sayang, dibolehin apa nggak sama Papa." Alibiku. Tentu saja Dirga pasti akan menuruti kemauan Putrinya ini.


"Ambil saja yang Dira mau. Dan Kau juga ambil lah sesuatu yang kau mau." Ujar Dirga yang membuatku kegirangan dalam hati. Asyik nih bisa borong Jajan banyak sama Dira. Memang the real suggar Daddy ini mah.


Author pov..


Aira dan Dira tengah sibuk memilih cemilan, sedangkan Dirga sangat jengah menunggu kedua perempuan yang ada dihadapannya ini. "Wanita memang selalu merepotkan." Gumamnya lirih. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya mengingat 1 gadis kecil ini adalah Putrinya, mana mungkin Putri kecilnya merepotkannya?


Apapun yang diminta Dira, Dirga pasti akan selalu menuruti semua kemauan Dira asalkan Dirga melakukan itu. Seperti saat waktu Dira Demam kapan bulan yang lalu karena meminta seorang Mama pada Dirga.


Dirga waktu itu paniknya minta Ampun. Tapi bukan Dirga namanya jika tak bisa melakukan itu. Dia sampai rela mencari asal-usul Aira dan latar belakangnya. Sampai akhirnya Dirga pun mempertemukan Dira dan Aira. Dirga sangat bersyukur karena Aira tampak menyayangi Dira, entah itu karena uang atau apa, yang pasti dia lega karena keinginan Dira tercapai.


Dirga mengingat itu tersenyum kecut. 'Akan ku apakan gadis itu setelah ini.' Gumamnya dalam hati.


"Aira?" Mendengar ada yang menyebut namanya, Aira pun sontak menoleh ke sang empu yang memanggil.


Sontak netra Aira pun membuat ketika melihat Pria itu. "Jino?!" Serunya. Pria yang bernama Jino itu tersenyum menatap Dira.


"Hai Aira, masih ingat aku kan?" Tanya Jino pada Aira. Aira pun terkekeh dan meninju dada Jino, "Tentu saja, masa aku lupa sama kamu sih Jino..."


"Haha kamu ini, bagaimana kabar kamu Ai? Baik-baik saja kan?" Tanya Jino.

__ADS_1


Aira mengangguk, "Iya aku baik-baik saja Jino, kamu bagaimana? Bahagia nggak selama tinggal bersama mereka?"


Jino tersenyum, "Tentu saja. Jika aku tak bahagia, mana mungkin aku sampai memakai Jas kantoran seperti ini."


Aira menganga tak percaya menatap Jino dari atas ke bawah. "Wahh kamu kerja Di kantoran?!" Serunya.


"Iya Ai, Papa aku kasih jabatan Manager dikantornya. Lumayan, aku kuliah sambil kerja." Kekeh Jino yang coba menjelaskan bagian kesehariannya.


"Uwahh hebat banget kamu Jino!! Selamat ya?"


Ujar Aira dengan selamat, Jino dan Aira mengobrol dengan senang sampai melupakan Seorang gadis kecil serta sang Ayah yang sudah memasang wajah yang tak menyenangkan.


"Mama.." Dira menarik ujung Dres milik Aira. Aira pun menunduk melihat Dira, "Iya sayang?"


Penglihatan Jino pun terarah pada gadis kecil yang ada disamping Aira, "Ini siapa Ai? Apa bagian dari panti?" Tanya Jino yang menjajarkan tubuhnya pada Dira dan mengusap lembut rambut Dira. "Hei siapa Nama mu cantik?"


"Dira.." ujar Lirih Dira, dia juga tampak tak suka melihat Aira dekat dengan pria lain selain Papanya.


"Namanya bagus banget. Ohh iya, kamu lagi belanja sama kakak Aira ya?" Tebak Jino yang membuat Aira ketar-ketir. Entah kenapa, pertemuannya dengan Jino situasinya sangat tidak tepat.


"Kakak? Ini tuh Mamanya Dira tau!" Marah Dira dan memeluk kaki Aira dengan erat. Mendengar itu Jino mengerutkan keningnya. "Mama? Ai, memangnya anak ini manggil kamu mama?"


Jino yang mendengar itu menganga tak percaya, dan menatap Aira dengan penuh tanya. Aira memejamkan matanya, 'Habis sudah.' Hatinya berujar.


"Emm Jino, nanti kalau kita ketemu. Aku akan jelaskan nanti ya? Senang bertemu dengamu." Pamit Aira dengan buru-buru. Dia langsung mengajak Dirga serta Dira pergi meninggalkan Jino yang masih dilanda penuh tanya.


"Duhh tuan, apa maksud tuan tadi? Kenapa bilang kalau aku ini istri tuan?" Tanya Aira dengan gusar.


Dirga menatap Aira dengan Datar, "Memangnya kenapa? Apa kau takut 'pacarmu' itu marah?" Ujar Dirga dengan menekankan kata 'pacarmu' pada Aira.


"Pacar?" Beo Aira. Dirga mengangguk, "Iya, itu pacarmu kan?" Tebak Dirga.


Sedetik kemudian Aira terkekeh dan membuat Dirga mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tertawa?"


"Maaf tuan, itu bukan pacarku. Dia itu temanku saat di panti asuhan dulu. Kami hanya bertukar kabar setelah sekian bertahun-tahun tidak bertemu karena Jino sudah bertemu dengan orang tua kandungnya." Jelas Aira yang tak membuat Dirga sama sekali berkutik.


"Lalu apa urusannya denganku?" Ujar Dirga dengan cuek. Sungguh Aira dibuat bingung dengan pria didepannya ini.


"Maa ayo pulang, Dira sudah mengantuk." Dira yang ada digendongan Aira tampak mengucek-ngucek matanya.


"Ahh iya sayang sebentar ya? Kita bayar dulu ini." Ujar Aira dan tanpa banyak bicara Dirga langsung mendorong troli itu dan mendahului Aira dan Dira menuju kekasir, Dirga mendorong troli dengan Kakinya yang ia tendang-tendang.

__ADS_1


Aira mengernyit dengan bingung, kenapa tiba-tiba sesuana hati sang Majikannya itu berubah? Apa ada yang salah?


Aira yang tak berpusing, dia langsung menyusul Dirga dengan menggendong Dira yang sedikit kesusahan karena badan Aira itu sedang pegal-pegal karena ulah Dirga.


,,,


"Sini." Dirga langsung merebut Dira yang sedang ketiduran yang dipangkuan Aira. Aira menatap Dirga dengan kebingungan. Aira pun akhirnya turun dan menyuruh seseorang suruhan Dirga untuk menyuruh membawakan belanjaan mereka kedalam. Wahh serasa jadi Nyonya nih.


Aira menyusul Dirga yang membawa Dira menuju kekamar gadis kecil itu. Aira melihat tampak Dirga yang sedang mengecup kening Dira dengan lembut. Entah kenapa melihat itu, hati Aira menghangat tiba-tiba.


Perempuan itu menghampiri mereka, dia menaikkan selimut Dira agar tak kedinginan nanti. Dia juga mengecup kening Dira dengan penuh sayang.


Dirga yang melihat itu hanya terdiam tak berkutik. Dia masih bingung, sikap Aira pada putrinya ini murni dari hati atau hanya karena uang? Apapun itu, Dirga tak mempermasalahkannya asalkan itu bisa membuat putri senang dan selalu tersenyum.


"Tuan, aku mau buat pudding buat Dira ya?" Pamit Aira pada Dirga yang dari tadi terdiam melihat apa yang dia lakukan.


"Terserahmu saja, kenapa kau harus berpamitan denganku? Kenapa tidak dengan pacarmu itu?" Ujar Dirga yang tiba-tiba menjadi kesal.


Ohh baiklah, Aira tambah pusing memikirkan sikap Pria yang pertama menjamahnya ini. "Tuan, sudah aku katakan. Jino bukan pacarku, tapi dia teman masa kecilku tuan." Tekan Aira lagi.


"Apapun itu terserah." Dirga langsung meninggalkan Aira di dalam Kamar Dira. Aira mengendikkan bahunya acuh dan segera menuju kedapur untuk membuatkan Dira Pudding. Agar nanti saat gadis kecil ini bangun, pudding sudah bisa disantap.


,,,


"Uwahh enak banget Ma! Malah enakkan ini daripada yang pernah Papa belikan dulu!" Seru Dira saat menyuapkan pudding yang dibuat Aira tadi. Aira yang melihat itu terkekeh, dan mengusap lembut rambut gadis kecil itu.


"Dira makan sepuasnya, di Kulkas masih ada banyak. Mama buatin banyak khusus untuk Dira." Ujar Aira.


"Terima kasih Mama.. Dira sayang Mama." Dira memeluk Aira dengan erat. Itu membuat Aira sempat terdiam. Astaga, sampai kapan situasi ini akan berlanjut? Akankah jika Aira meninggalkan rumah ini, Gadis kecil ini akan sedih dan merasa kesepian lagi?


Memikirkan itu membuat Aira was-was dan khawatir. Aira membalas pelukan Dira dengan lembut. Aira sangat sayang pada Dira sekarang, sepertinya dia tak sanggup jika berpisah dengan Gadis yang memanggilnya Mama itu.


"Nggak sayang sama Papa nih?" Ujar Dirga yang membuat kedua perempuan itu melepaskan pelukannya. Dira terkekeh geli melihat wajah Papanya yang sedikit cemberut. Dira menghampiri sang Papa dan memeluknya.


"Aira juga sayang sama Papa kok." Dirga tersenyum tipis dan membalas pelukan Dira tak kalah erat. "Iya, Papa sayang juga sama Aira selamanya."


Dira terkikik kecil, "Terima kasih ya Pa... Papa sudah menuruti kemauan Dira yang minta Mama untuk pulang. Nanti jangan suruh Mama cari uang lagi ya pa? Papa kan sudah punya uang banyak, jadi Mama nggak perlu pergi lagi. Kalau Mama pergi nanti Dira sedih dan kesepian lagi. Nanti juga temen-temen Dira mengejek Dira nggak punya Mama lagi..." Ujar lirih Dira saat di akhir kata.


Itu membuat Dirga dan Aira terdiam seketika. Mereka sangat bersalah karena sudah membohongi gadis kecil yang sangat polos itu, apalagi Dirga. Dia merasa tak pantas menjadi Ayah yang baik untuk Dira.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2