Ketika Istri Kuh Berubah

Ketika Istri Kuh Berubah
ISTRI KUH YANG MANJA EPSD2


__ADS_3

"Karyawan kamu, Van," ucap Gita mengalihkan perhatianku dari memandang pintu. Bukan aku tak mau mengejar Serra, tetapi sepertinya ini bukan saat yang tepat. Ini di kantor, bagaimana kalau banyak orang yang melihat.


"Hmm." Aku hanya berdehem.


"Bukannya waktu itu perempuan itu pernah pergi sama kamu ke Kafe. Kamu ada hubungan apa dengan dia?"


"Bukan urusanmu Gita. Kalau kamu ke sini hanya mengangguku, lebih baik sekarang kamu pergi. Silakan, pintu ada di sebelah sana." Tanganku terarah menunjuk pintu.


Gita mendengkus pelan, seolah tak suka diusir olehku. Tapi aku tak peduli.


"Van aku masih mau di sini. Oke, aku nggak akan kamu kerja aku bakalan diem lihatin kamu dari sini." Gita beranjak pindah duduk ke sofa yang ada di sudut ruangan.


Aku menghela napas kasar melihat tingkah Gita, aku pun ikut beranjak dan menyuruhnya untuk segera keluar.


"Keluar, Ta, sebelum aku memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari sini."


Wajah Gita memberengut. "Kamu jahat sekali Devan, masa aku diusir, sih."


"Ya karena kamu pengganggu jadi harus diusir," tegasku.


"Van .." Dia merengek seperti Serra.


Aku berdecak. "Pergi!"


Gita berdiri dengan wajah marah. "Kamu jahat, Van, aku benci sama kamu." Lalu, dia berlalu pergi.


Aku tidak peduli Gita, aku tidak peduli. Mau kamu marah sama aku, mau kamu benci sama aku, aku nggak peduli. Yang, aku pikirkan sekarang adalah Serra, bagaimana caranya membujuk wanita itu agar tak marah padaku, sebab dia pasti marah dengan kejadian barusan.


Aku berjalan menuju kursi kerjaku, lalu menjatuhkan tubuh ini di sana sambil terus berpikir.


Tanganku mengambil ponsel yang tergeletak di meja, lantas segera mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada Serra.


[Ra, jangan salah paham, ya.]

__ADS_1


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Hingga tiga puluh menit, Serra tak kunjung membalas pesanku. Jangankan membalas dibaca pun tidak.


Aku mengembuskan napas berat, mengusap wajah secara kasar. Bagaimana ini?


Aku tidak menyerah, diambil lagi ponsel lalu menulis kembali pesan untuk Serra.


[Ra, nanti kita makan di restoran favorit kamu, ya. Kamu bebas makan apa saja. Oke?]


Kembali aku menunggu, namun satu jam berlalu pesan itu masih sama, tidak dibaca.


Aku menghela napas setelah mengecek ponsel. Serra benar-benar marah. Kenapa aku jadi tak bersemangat begini, padahal pekerjaan yang harus segera diselesaikan menumpuk di meja. Tetapi, aku malah nggak bisa fokus karena terus memikirkan Serra. Padahal biasanya, ketika Serra marah aku biasa-biasa saja tak pernah ambil pusing. Tapi sekarang rasanya seperti berbeda. Aku tak mau Serra marah padaku. Aku tak mau Serra mendiamkanku.


Diri ini beranjak meninggalkan ruang kerja, langkahku terayun begitu saja menuju ruang kerja Serra.


Rasanya aku tak mau beranjak, tetapi mengingat pekerjaan yang harus selesai hari ini. Diri ini pun berbalik dan kembali ke ruang kerja.


Mungkin hari ini aku akan melewatkan makan siang, sebab pekerjaan harus selesai sebelum pukul empat sore agar aku dapat mengajak Serra pergi ke tempat makan favoritnya. Semoga dia akan senang, dan tidak marah lagi. Itulah harapanku.


**


Lambat waktu terasa, hingga akhirnya tepat di pukul empat sore semua pekerjaanku selesai. Karin, sekretarisku baru saja memberikan jadwal kegiatanku untuk besok hari. Namun, tak begitu kuperhatikan karena aku sudah tak sabar ingin bertemu Serra. Sampai akhirnya Karin pamit dari ruang kerjaku.


Setelah itu, aku segera mengecek ponsel berharap Serra sudan membaca pesan dariku. Namun, bahuku merunduk lemas seiring dengan helaan napas berat. Serra ternyata belum membaca pesan dariku.


Oke, tidak apa aku akan menemuinya. Dengan semangat, aku bergegas menuju ruang kerja Serra.


Sesampainya di sana, aku melebarkan senyum sebab wanita yang sedari tadi berada di pikiranku masih mengobrol dengan beberapa rekan kerjanya.

__ADS_1


'Sukurlah ternyata Serra belum pulang. Atau jangan-jangan Serra sedang menungguku, ya' batinku begitu percaya diri.


Entah apa yang tengah Serra bicarakan dengan teman-temannya, tidak dapat terlalu jelas kudengar. Tetapi samar-samar terdengar.


"Ra, pulang bareng, yuk," ajak Ridwan. Salah satu pria yang satu divisi dengan Serra.


Aku berjalan mendekat agar suara mereka bisa terdengar lebih jelas.


"Cie, ada yang mau pulang bareng, nih," timpal Diana. Setahuku dia adalah teman yang paling dekat dengan Serra. Aku tahu karena Serra sering cerita. Sekedar infomasi, Serra itu kalau di rumah sering bercerita tentang kegiatannya di kantor tanpa kuminta.


"Gimana, Ra?" Ridwan bertanya lagi.


Serra tidak langsung menjawab, dia malah melirik ke belakang entah apa yang dilihatnya. Aku langsung bersembunyi dibalik tembok takut ketahuan sedang menguping.


Namun, meski begitu aku tetap memasang pendengaran sebaik mungkin.


"Sori, Wan, aku nggak bisa pulang bareng sama kamu."


Entah mengapa aku berseri-seri mendengar jawaban Serra. Aku merasa Serra menjawab begitu karena tak mau mengkhianatiku.


"Oh, gitu, ya. Yaudah nggak papa. Tapi lain kali mau, ya, pulang bareng aku."


Aku refleks mengepalkan tangan. Dasar pemaksa.


Tak ada jawaban terdengar dari Serra. Sukurlah, Serra pasti nggak mau pulang bareng dengan pria yang suka maksa-maksa.


"Aku pulang duluan, ya, gaes. Bye." Aku buru-buru menjauh ketika Serra berpamitan pada teman-temannya.


Di lobi aku berpura-pura tengah menunggunya.


Dan, beberapa saat kemudian Serra melewati lobi. Aku langsung tersenyum menyambutnya. Namun, dia tak menatapku sama sekali. Serra terus berjalan keluar dari lobi.


Aku mengerjanya tanpa suara. Sesampainya di depan kantor, aku langsung menahan lengannya.

__ADS_1


"Ra, maafin aku yah


__ADS_2