Ketika Rasaku Sudah Mati

Ketika Rasaku Sudah Mati
1


__ADS_3

Hari ini tepat sebulan aku menikah dengan mas Aldo, semua masih terasa indah layaknya pengantin baru.


Mas Aldo memperlakukan aku dengan sangat manis, setiap hari ada aja yang dibawa pulang sebagai oleh- oleh sepulang kerja, yah ..mas Aldo bekerja sebagai supir angkutan umum namun aku selalu menyukuri berapapun hasil yang dia bawa pulang.


"Assalamualaikum sayang.. mas pulang", aku tersentak dari lamunanku mendengar salam dari mas Aldo.


"waalaikumsallam mas" kuraih tangan mas Aldo dan kucium punggung tangannya.


" mas bawa duku kesukaanmu yank", sambil menyodorkan kantong hitam kepadaku.


"makasih mas", kusambut kantong itu dengan senyuman paling manis yang kupunya.


"mas mau mandi dulu apa makan dulu ?", tanyaku sambil menyiapkan kopi dan makanan yang kumasak tadi siang, " mas mandi dulu ya biar seger habis itu kita makan, masak apa hari ini yank?, ehmmm aku masak balado tempe ma sayur bayam mas ".


Setelah mas Aldo mandi kami makan tanpa suara,


"gimana hari ini mas rame nariknya ?, Alhamdulillah yank lumayan" sahut mas Aldo sambil menyerahkan uang 30 ribu hasil kerjanya hari ini.


"Makasih mas" kuambil uangnya sambil tersenyum.


Seperti biasa kami pun masuk kamar dan istirahat setelah seharian aktifitas.


Mas Aldo memelukku lembut selalu seperti itu kami selalu tidur sambil berpelukan dan hampir setiap hari olah raga malam sebelum memejamkan mata kami.


Uang yang dikasih Mas Aldo memang nggak banyak dan nggak jarang pulang tak bawa uang karena sepi tapi kami selalu mensyukurinya.


Yah aku harus pintar pintar mengatur uang yang dikasih mas Aldo untuk makan, bayar kontrakan dan sebisa mungkin disisihkan untuk masa depan kami.


Hari berganti kami lalui dengan bahagia mungkin karena kami masih terhitung pengantin baru jadi semua terasa indah aja walaupun hidup sederhana.


Hari ini entah kenapa badanku lemes, kepalaku pusing dan sedikit mual saat mencium bau nasi baru Mateng, kuingat jadwal haidku memang sudah terlambat seminggu sepertinya.


Karena penasaran akhirnya kubeli Tas pak dan benar hasilnya positif, tak sabar rasanya ku menunggu mas Aldo pulang untuk mengatakan kabar gembira ini.


"Assalamualaikum" tak lama suara yang sudah kuhapal luar kepala terdengar, " waalaikumsallam mas, ehmm mass aku punya kejutan" kataku sambil memeluk erat tubuh lelakiku itu, "apa tuu bikin penasaran aja " ujar mas Aldo .

__ADS_1


Kutunjukan benda pipih kecil itu didepan suamiku, "Alhamdulillah, ternyata aku tokcer ya yank", ujar mas Aldo sambil memelukku erat.


Kami sangat bahagia walaupun kami tak menyangka akan secepat ini aku hamil namun kami tak menolak bila Allah sudah percaya pada kami.


Malam ini kami lalui dengan bahagia, mas Aldo tidur sambil terus mengelus elus perutku.


"Mas tadi aku ketemu ibu, kenapa ya ibu sepertinya benci sekali ma aku mas, aku salah apa?, aku sedih mas kaya begini terus kesannya aku menantu yang sangat jahat."


"Udah sabar aja gak usah terlalu dipikirin yang penting kita ngalah aja biar ibu g makin marah, kamu fokus aja ma anak kita yank jangan terlalu stres aku gak mau kamu sakit." ujar mas Aldo.


"Ya mas " cicitku pelan.


Yah .. mertuaku memang tak menyukaiku entah apa alasannya beliau g menyukaiku mungkin karena suku atau aku orang miskin, tapi kan mertuaku juga bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, kadang kupusing kalau mikirin hal ini.


Mungkin karena ini kehamilanku yang pertama jadi kualami masa-masa ngidam yang agak berat, aku tak bisa kena sinar matahari jadi aktifitas ku hanya didalam rumah.


Untung suamiku sangat pengertian setiap hari membawakan makanan untukku, karena akupun tak bisa mencium bau makanan.


Mertua jangan harap mau menengokku, walaupun sangat ingin aku dianggap sebagai menantu tapi ya semua hanya dalam anganku


Yah... memang mas Aldo berpihak padaku untuk hal ini jadi aku masih sedikit tenang.


"Mas kok pulangnya telat, kemana dulu?" tanyaku sore itu.


"Maaf yang tadi nongkrong dulu di cucian." katanya sambil menyodorkan uang 10.000.


"Hari ini sepi doakan besok ramai ya " ujar mas Aldo sambil mengelus rambutku.


"Iya mas smoga ramai tiap hari." ucapku pelan.


Bukan tak bersyukur sekarang aku harus mulai memikirkan juga bayi dalam kandungan ku.


Biaya buat persalinan nanti harus juga dipersiapkan.


Hal ini terus berulang penghasilan mas Aldo semakin lama kok rasanya semakin sedikit yang dikasihkan aku.

__ADS_1


Saat ini kandunganku sudah menginjak 4 bulan badanku juga sudah mulai beradaptasi dengan makhluk kecil dalam tubuhku.


Sore ini kuberniat jalan- jalan untuk menghilangkan jenuh, tanpa sadar kumelewati cucian mobil tempat mas Aldo selalu berkumpul, kulihat banyak temen - temen sopirnya sedang berkumpul melingkari meja, mataku nggak salah kan..? kulihat mas Aldo ada disana sambil memegang kartu.


Kutarik nafas kasar ya Allah jadi ini sebabnya kenapa uang yang dikasih ke aku selalu berkurang, "Mas kamu sedang bermain ma nasib", batinku sedih.


Kuteruskan langkahku tak kuhiraukan lagi suamiku dan teman-temannya, aku tak menghampirinya aku tak sebodoh itu mempermalukannya bagaimanapun dia suamiku yang kucintai, "ahh mas kenapa kau lakukan itu", rintihku dalam hati sambil berjalan


Seperti biasa kusiapkan makan dan kopi untuk suamiku nanti pulang, biarlah nanti kan kutanya pelan- pelan kenapa dia berjudi disana.


Nggak lama kudengar langkah kaku yang sangat kukenal, "Assalamualaikum" ku tengok pintu yang terbuka, "waalaikumsallam, mas dah pulang" jawabku sambil mencium tangannya.


"Dek maaf ya hari ini sepi lagi" ucap mas Aldo sambil mengambil piring dan mulai makan nasi yang telah kusediakan.


"Ya mas, asal memang beneran sepi aku tak masalah" cicitku pelan.


Kemudian hening kami sama- sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Setelah makan dan mandi mas Aldo duduk di sampingku sambil menonton tv kecil dipojokan kamar kami, kutatap wajahnya dalam-dalam sudah nggak sabar rasanya ku ungkapkan uneg- uneg- dihatiku.


"Mas tadi aku sore jalan- jalan lewat depan cucian, kulihat ada mas disana lagi main kartu".


Mas Aldo melihatku agak terkejut tapi kupasang wajah sebisa mungkin untuk menghindari pertengkaran pastinya.


"Emmm anu dek itu cuma main-main aja iseng sambil nunggu waktu." kilahnya sambil tersenyum seolah itu adalah hal yang tak penting untuk dibahas.


"Pakai uang kan mas itu..? kulihat tadi pada ngeluarin uang dimeja " tanyaku sehalus mungkin.


"Nggak kok cuma recehan lagian uang dari mana mas buat main banyak- banyak ?, mending buat kamu" jawab mas Aldo.


"Ingat mas kita nggak hanya butuh makan saat ini saja ada anak yang harus kita persiapkan dananya buat lahiran nanti, aku berharap mas mengerti kita sedang berjuang" ujarku pelan


"Iya dek mas paham, mas akan berusaha lebih keras lagi" jawab mas Aldo


Kutarik nafas pelan akhirnya kudiamkan saja dulu setidaknya dia tau aku sudah melihat kelakuannya, kuharap dia mengerti, kalau kuwajiban dia sebagai suami dan ayah akan makin besar kedepannya nanti .

__ADS_1


__ADS_2