Ketika Rasaku Sudah Mati

Ketika Rasaku Sudah Mati
3


__ADS_3

Mertuaku tinggal di perumahan tak jauh dari rumahku, tapi entah kenapa ibu tak pernah menyukaiku aku tak tau apa salahku sebenarnya sehingga beliau begitu membenciku.


Bahkan adik-adik mas Aldo pun kurasa semua tak menyukaiku, itu sebabnya aku jarang berkunjung ke rumahnya.


Adik mas Aldo ada 2 orang laki laki dan perempuan, aku hanya berharap suatu saat nanti mereka bisa menerimaku sebagai menantu di keluarga besarnya.


"Eni kau pernah bertemu dengan abangmu ?" tanya ibu kepada adik bungsu mas Aldo.


"Engga Bu ", jawab Eni malas .


"Temui Abangmu biar nggak dikuasai si Lara itu , entah kenapa dia takut banget sama istrinya itu", semprot ibu berapi api


"Ya Bu nanti Eni mau minta uang sama bang Aldo".


"Iya bagus bilang ibu yang suruh minta , jangan pelit pelit sama orang tua."


"Siap laksanakan komandan !" ledek Eni sambil tertawa.


"Memang Abang belum datang kerumah Bu, dari kapan ?".


"Semenjak nikah Abangmu jarang kerumah ,entah apa yang dikasih si Lara sialan itu hingga Abangmu sampai nurut seperti itu".


"Jangan jangan Mbak Lara pakai guna guna Bu ! " , jawab Eni sambil bersungut sungut.


"Nggak tau lah En ibu juga sebel banget sama dia !".


Jawab ibu sambil berlalu melihat tukang sayur yang sudah teriak teriak depan rumah.


"Eh Bu Ida baru keluar ,masak apa hari ini Bu? " tanya Bu Romlah tetangga samping rumah.


"Iya Bu Romlah nggak tau ini mau lihat dulu ada lauk apa yang Ujang bawa " , Jawab ibu sambil mulai memilah milah sayuran di atas gerobak mang Ujang.


"Bu Ida gimana kabarnya menantunya sepertinya sedang hamil ya ? ,kemarin saya ketemu di jalan sepertinya mau periksa ke bidan " tanya Bu Romlah.


"Nggak tau saya Bu saya juga nggak peduli terserah mereka mau hamil kek atau apa saya nggak mau mikirin capek !", sungut ibu gemas.


"Sabar Bu namanya masih muda mungkin belum paham bagaimana berumah tangga", ucap Bu Romlah bijak.


Ya Bu Romlah memang sangat bijak nggak julid seperti yang lain, jadi nggak memancing emosi Bu Ida.


"Mang saya mau ikan tongkol aja sebungkus sama sayur asem " teriak Bu Ida untuk mengalihkan pembicaraan ,males sekali rasanya membahas menantu yang nyebelin itu.


Setelah slesai mereka semua kembali kerumah untuk memasak sayuran yang dibeli tadi.


"En sini bantu ibu siangin sayuran !" perintah ibu kepada anak gadisnya.

__ADS_1


"Eni lagi bersihin kamar bu, nanti aja kalau dah selesai Eni bantu ibu " , jawab gadis itu setengah teriak .


"Berisik banget sih ganggu orang tidur aja ," Ardi teriak dari kamar tidurnya.


"Lagian udah siang bangun kamu nggak narik hari ini ?" sahut ibunya tak kalah keras.


Ardi adalah anak kedua ibu, seperti bang Aldo dia juga narik angkutan umum untuk mencari uang karena bapak sudah jarang bisa keluar mencari uang .


Memang mas Aldo sekeluarga semua berprofesi sebagai supir, walaupun sambil berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.


"Ardi bagaimana Abangmu ramai nggak tarikannya? " tanya ibu pada anak keduanya.


"Abang sering main kartu ditongkrongan bu " jawab Ardi sambil menenggak air putih di gelas yang dia pegang.


Bu Ida kaget mendengar aduan dari anaknya, sambil terus mengomel semua sumpah serapah mengalir bagai jalan bebas hambatan, mungkin dia lupa kata katanya bisa aja jadi doa buat anak anaknya.


Siang itu sengaja Eni menunggu abangnya dipinggir jalan, dengan harapan bisa merayu abangnya dan mendapatkan uang yang banyak.


Benar saja tak lama kemudian terlihat mobil Aldo berjalan pelan mendekatinya.


"Abang.... sebentar tadi kata ibu suruh minta uang " ucapnya sambil berbisik ke Abang tersayangnya itu.


"Abang belum dapat uang En baru beberapa belum buat setoran! !" ,jawab Aldo sambil berbisik juga.


" Ayolah bang nggak usah pelit ma adek sendiri ".


" Nih nggak ada lagi udah sana bilang ibu nanti kalau pulang sore Abang mampir!".


"Oke bang makasih." jawab Eni sambil berjalan meninggalkan mobil abangnya


Aldo menghembuskan nafas dengan kasar , "aghhh gimana dengan Lara nanti" gumamnya pelan.


Sementara dirumah Lara selalu mendoakan agar rezeky suaminya lancar, semua hanya demi bayi dalam kandungannya.


Dia sadar harus bisa menyisihkan uang untuk ditabung, tapi apa yang mau ditabung sedangkan saat ini saja dia bingung mengatur bagaimana agar nafkah yang dikasih suaminya cukup buat bertahan hidup.


"Apa yang harus kulakukan sedangkan aku hamil ." batinnya menangis merenungi semua.


Dia ingin sekali membantu mencari uang ,tapi kondisinya yang sedang hamil tak memungkin kan dia melakukan banyak hal.


"Saat ini aku hanya bisa membantumu dengan doa mas". rintihnya pelan sambil mengelus perutnya lembut.


tok tok tok terdengar pintu diketuk, Lara berjalan mendekati pintu dan membukanya pelan.


"Assalamualaikum mbak kenalkan nama saya Ratih tinggal di sebelah".

__ADS_1


"Waalaikumsallam , eh ya Bu Ratih mari masuk nama saya Lara senang punya tetangga baru buat temen ngobrol " jawab lara sambil mengulurkan tangannya.


memang Ratih terlihat seumuran dengan ibu Lara jadi dia memanggilnya Bu.


"Ibu Ratih tadinya tinggal dimana ?" tanya Lara kemudian.


" Di kontrakan depan mbak cuma ya gitu naik terus tiap bulan jadi saya mencari yang lebih murah". jawab Bu Ratih sambil tersenyum.


"Berapa bulan kandungannya neng , eh boleh saya panggil neng saja karena kamu sepertinya seumuran anakku?" .


"Nggak apa apa Bu , saya malah senang dapat orang tua lagi ." jawab Lara tersenyum manis.


"Saya sedang hamil 5 bulan Bu Alhamdulillah, doakan semua lancar ya Bu " ,cicit Lara pelan.


"Bismillah lancar nggak usah takut nikmati aja prosesnya, " ujar Bu Ratih bijak .


"Kalau nggak keberatan nanti sambil ibu bantu pegang ya, kebetulan ibu rukan pijat khusus hamil dan setelah melahirkan".


"Alhamdulillah terimakasih Bu apa nggak merepotkan ?" tanyaku sambil tersenyum bahagia


"Nggak ibu senang kalau bisa membantu " sahut Bu Ratih.


"Ya udah neng ibu pulang dulu ya belum rapi tadi beres beres nya Assalamualaikum " Bu Ratih pun melangkah pulang ke kontrakannya tepat samping kontrakanku .


"Apa yang Lara bisa bantu Bu?" ujarku sambil menghampiri rumah Bu Ratih.


" Nggak usah neng bantu doa aja udah nggak usah repot kasihan bayinya !" jawab Bu Ratih dengan nada tak mau dibantah.


"baiklah Bu " sahutku mengalah.


Sekarang kontrakanku jadi tak begitu sepi lagi aku senang dapat tetangga yang baik bahkan langsung akrab seperti orang tua sendiri .


Tak terasa sudah siang sudah lewat jam makan siang akupun berniat mengajak ibu Ratih untuk makan siang dirumah ,yah ... walaupun denga. lauk seadanya.


"Ibuu sudah siang makan yukk tadi lara masak sayur bening dirumah. " kuhampiri bu Ratih yang sedang sibuk menata baju kemarin kecilnya.


"Nggak usah repot repot neng ibu nggak enak jadinya." sahut Bu Ratih sambil memandang wajahku.


"Nggak repot Bu ayolah katanya sudah menganggap ku kaya anak sendiri ". ucapku sambil menarik tangan Bu Ratih untuk makan dirumahku.


"Tapi maaf kalau rasanya nggak enak ya Bu aku masih belajar masak dan menunya sangat sederhana, saat ini hanya ini yang mampu kamu masak ." ucapku setengah nggak enak hati.


"Huss jangan bilang gitu Alhamdulillah inipun sungguh nikmat" jawab Bu Ratih sambil tersenyum kearah ku .


"Alhamdulillah Allah datangkan orang baik untu menemaniku", syukurku dalam hati

__ADS_1


Dan kamipun meneruskan makan dengan diam .


__ADS_2