
Sudah beberapa hari narik rasanya sepi sekali, kadang aku bingung membagi uang untuk istri dan keluargaku yang juga mengharapkan aku sebagai anak laki lakinya.
"Abang ibu minta uang" kata adikku Eni tadi dijalan.
Karena akupun baru keluar kukasih uang 20 ribu, "Ini En Abang belum dapat uang bilang ibu sabar dulu ya nanti kalau ada rejeki lagi Abang kasih kerumah ",
ucapku sambil mengulurkan uang ke adikku itu.
"Iya bang smoga rejekinya lancar, asal jangan dikasih istri terus aja " ucap Eni pedas
Kuhanya tersenyum melihat bibir adikku yang ditekuk ," Udah sana Abang mau lanjut lagi" .
Uang segitu mungkin tak banyak tapi bagi supir seperti kami ini sudah mulai sulit kami mencari , belum lagi buat orang rumah aghhhhh terkadang ku pusing memikirkan bagaimana kedepannya keluarga kami.
Setelah seharian narik hari ini hanya ada sisaan 25 ribu itupun aku buru buru menghindar dari teman teman di cucian , kalau tidak bisa aku g bawa uang pulang kasihan anak dalam perut istriku ini.
"Assalamualaikum, dek "
"Waalaikumsallam mas ,sudah pulang ",kata istriku sambil meraih tanganku takzim.
Kuserahkan uang yang kudapat " Dek maaf ya Abang cuma dapet dikit".
"Alhamdulillah bang " , jawab istriku sambil tersenyum.
"Mas pulang cepet, ngaak nongkrong lagi ?" tanya istriku sambil menatap mataku dalam.
"Maafkan Mas dek sebisa mungkin mas akan menghindar dari ajakan mereka."
"Bukan apa apa mas tapi itu judi mau kecil atau besar namanya tetap judi , itu akan membuat rejeki kita makin susah".
"Iya sayang mas minta maaf ."
"Ya udah sekarang mas mandi terus kita makan tadi adik numis kangkung ikan asin sama tempe goreng."
"Iya dek" , ujarku sambil meraih handuk depan kamar mandi.
"Mas besok aku mau kerumah Tante ya "
"Ada apa?" ,tanyaku sambil menyuap nasi .
"Nggak pengen main aja kangen ", jawab istriku pelan.
"Dek ..."
"Iya mas aku nggak akan cerita apa apa aku cuma mau main kangen aja ". saut istriku memotong kalimatku .
Aku cuma takut istriku ngadu ke kakaknya, rasanya malu aku mengambil adiknya sementara aku belum bisa memberi dia seperti yang selama ini kakaknya berikan .
Memang kakak istriku lumayanlah kehidupannya dan mereka sangat menyayangi istriku, bukan aku tak tau mereka sering membantu diam - diam kepada kami.
Itu sebabnya aku takut kalau istriku sering main kerjmah kakaknya , yang mana memang .jarak rumah kami tidak terlalu jauh.
****
Dering alarm ponselku menjerit membangunkan ku dari dunia mimpi, kupandang wajah suamiku yang masih terlelap di sampingku.
Kusentuh wajahnya ," Mas ayo bangun subuh dulu" kubangunkan dia pelan pelan .
"Emhhh jam berapa sayang ?" akhirnya suamiku membuka matanya sambil berbalik memelukku.
"Mass ayo bangun aahh malah meluk meluk bisa bahaya nanti." kucubit perut suamiku itu sambil menghindar.
"Ayo sholat dulu , ya udah aku kekamar mandi dulu mas jangan tidur lagi " omelku sambil berjalan kekamar mandi.
"Massss " gemes rasanya melihat suamiku masih belum bangun juga..
"Iyaaa sayang , cerewet " sahutnya sambil ngeloyor kekamar mandi.
__ADS_1
Kusiapkan sarung dan baju untuk sholat suamiku sambil menunggunya mengambil air wudhu, seperti biasa kami sholat subuh berjamaah, setelah slesai suamiku berbalik mengulurkan tangan dan akupun mencium tangannya seperti biasa.
"Mas aku buat sarapan dulu ya ada nasi kemarin buat nasi goreng aja mau ?"
"Apapun yang kau masak kumakan sayang masakanmu selalu enak." jawab suamiku sambil mencubit pipiku.
Rasanya bahagia itu sesederhana itu Alhamdulillah.
Mencium bau nasi goreng yang sudah mulai menguar mas Aldo menyusul kedapur.
"Duh wanginya bikin g sabar yank".
"Sabar mas sedikit lagi ". sahutku.
Setelah slesai kubawa kedepan nasi goreng sama teh manis buat suamiku itu .
"Ayo sarapan dulu mas," kupanggil mas Aldo yang sedang sibuk menyisir rambut didepan cermin.
"Ok sayang".
"Mas nanti aku jadi ke kakak ya ?" kuulangi izinku semalam.
"Iya tapi jangan lama lama ya disana ".
"Ya mas nggak lama siang aku pulang ".
"Ya sudah mas berangkat dulu ya?" , pamit suamiku setelah slesai sarapan langsung bangkit mau berangkat narik.
"Doakan hari ini ramai ya sayang ".
"selalu mas ". sahutku sambil kucium tangan mas Aldo .
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam, ati ati mas", sahutku .
Menjelang siang ku berangkat kerumah kakak, berjalan kaki walaupun lumayan agak jauh tapi tak apalah sambil olah raga hehehe.
"Assalamualaikum ", teriakku setelah sampe rumah kakak tersayang ku.
"Waalaikumsallam, dihh orang mana nih", ledek kakakku seperti biasa kalau aku lama tak datang pasti begitu cara protesnya.
Kupeluk kakakku manja, ya kalau disini aku menjelma jadi adik yang manja.
"Masak apa kak, sini kubantu ?" sambil kuraih pisau depan kak Dina.
"Ayam kecap sama sayur sop ya kamu bantu siangin dulu sayurannya."
"Oke kak beress".
"Gimana kabarmu , suamimu kerjanya rajin nggak?," celetuk kak Dina tiba tiba.
Aku paham akan kekhawatiran kakakku itu dan aku tak ingin membuatnya selalu khawatir padaku.
"Kak tenang aja aku bisa mengatur semua aku sudah gede kak, doakan aja itu yang selalu kuminta dari kakak tercantikku."
"Jangan sembunyi kan apa apa dari keluarga Ra, nggak usah sok kuat kalau nggak ada apa apa kamu bisa ambil disini". tekan kak Dina lagi.
Kuhanya tersenyum sambil memandang wajah yang ku merasa selalu iba saat melihatku.
"Ahh apa aku semenyedihkan itu?" , kataku dalam hati.
"Suamimu nggak macam macam kan Ra ?, ati ati kulihat banyak yang main kartu di tempat suamimu sering nyuci mobil itu."
"Iya kak smoga mas Aldo nggak terpengaruh lagi ", sahutku lirih.
"Lagi..?", kak Dina menatapku tajam.
__ADS_1
Ahh keceplosan kan aku rutukku dalam hati.
" Maksudku nggak ikut ikutan kak", jawabku mengelak.
"Jangan sembunyikan apapun dari kami Ra, kamu itu jangan sok tegar".
Aku hanya tersenyum bukankah menutupi aib suami itu kuwajiban istri , ucapku dalam hati.
"Tante aku kangennn " , tiba tiba ponakan imutku memeluk kakiku dari belakang.
"Iya sayang" kupeluk Zahra sambil kuciumi pipi gembil keponakanku itu gemesss.
Anak itu terkekeh sambil membalas pelukanku erat, " Adek udah mandi belum apa masih bau acemm?".
"Udah Tante ayo kita main ", ucap anak itu sambil menyeret ku ke ruang keluarga.
Zahra memang dari bayi aku yang mengurus jadi nggak heran kalau hubungan kamipun sangat dekat dengan ku .
"Ra kamu sudah sarapan ?, tanya kak Dina .
"Sudah kak tadi kubuat nasi goreng", sahutku.
"Tante gambarku bagus nggak ?, Zahra menunjukkan buku gambar ditangannya.
"Keren " sahutku sambil mengacungkan 2 jempolku .
Diapun tertawa lebar puas dengan jawabanku.
"Ra gimana kandungan mu g ada masalahkan ?, banyak makan sayur bayimu butuh gizi yang cukup, kamu kan bisa tiap hari kesini pulang sore minta dijemput suamimu ."
"Iya kak ,nanti aku akan sering kesini", sahutku untuk menghindari perdebatan yang akan makin panjang.
"Nggak usah nunggu siang kalau lapar makan orang hamil sering lapar, jangan ditahan tahan".
"Iya kak bentar lagi kumakan jalan kesini juga butuh tenaga banyak." sahutku sambil terkekeh.
Nggak berasa ternyata hari sudah siang kami makan bersama-sama sambil membicarakan banyak hal, topiknya masih tetap kekhawatiran kakakku itu.
"Kak aku pulang ya ? "
" Mau ngapain jam segini pulang memang dirumah mau ngapain ? " ujar kak Dina dengan nada baik satu oktaf.
"hehehe dah siang kak nanti makin panas ", sahutku ngeles biar nggak kena semprot lagi.
"Alasan !" , sahut kak Dina.
Aku hanya terkekeh mendengarnya.
"Nanti bawa beras tu sudah kakak siapin di kantong hitam". lanjut nya.
"Kak nggak usah aku masih punya beras " ,tolakku halus malu rasanya kalau terus terusan dibantu keluargaku.
"Udah nggak usah banyak ngomong !" sahut kak Dina.
Kupeluk kakakku itu erat rasanya mataku penuh dengan air yang sedang siap siap meluncur bebas.
"Lara sayang kakak" cicitku pelan.
"Nggak pake drama Ra " cibir kak Dina .
Aku tau kakakku itu masih menjaga harga diriku .
"aahh kak Dina memang terbaik" pujiku dalam hati.
"Lara pulang ya kak Assalamualaikum " ,aku pamit pulang sambil membawa kantong hitam yang sudah kakak siapkan tadi.
"Waalaikumsallam , ati ati Ra kalau ada apa apa telp kakak ".
__ADS_1
"Siap kak "