Ketika Rasaku Sudah Mati

Ketika Rasaku Sudah Mati
2


__ADS_3

Namaku Aldo umurku saat ini 21 tahun, aku sudah menikahi gadis yang sangat kucintai beberapa bulan yang lalu.


Saat ini aku sedang mencari pekerjaan yang lebih layak untuk keluarga kecil kami, sementara itu aku bekerja sebagai supir angkutan umum.


Istriku orang yang sangat sederhana dan tidak terlalu banyak menuntut aku sangat bersyukur untuk sifatnya ini.


Karena sekarang istriku sedang hamil jadi aku selalu berusaha memenuhi semua keinginannya, takut anakku ileran kata orang-orang tua dahulu.


Setiap pagi sebelum aku berangkat narik ada aja yang dipesan olehnya, dan aku hanya tersenyum menanggapinya.


Awal-awal narik memang lumayan hasilnya dan selalu kuberikan semua pada istriku.


Namun akhir-akhir ini teman- teman selalu mencegahku langsung pulang setelah narik, mereka mengajak kami main kartu dan tentu saja nggak hanya kartu biasa walaupun sedikit ada uang yang kita keluar kan sebagai taruhan.


Sebenarnya aku juga sudah berusaha menolak namun alasan setia kawan dan kebersamaan membuatku tak bisa berkutik


Sore tadi istriku melihatku sedang bermain disana, sungguh aku tak menyadarinya akupun terkejut waktu dia mengatakannya


"Mas tadi aku melihatmu dicucian lagi main kartu", kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Aku sangat terkejut mendengarnya kuakui aku salah walaupun yang tak banyak tapi setidaknya aku mengurangi jatah uang belanja istriku.


Kutahu istriku kecewa padaku namun dia tidak mengatakan terus terang padaku, mungkin maksudnya agar kumengerti sendiri.


Bukan aku tidak berusaha namun yang mempengaruhiku lebih banyak dan setiap hari terus berulang-ulang, untung istriku g banyak nanya lagi setelahnya.


******


Beberapa hari ini kudiamkan mas Aldo tak pernah kutanya lagi tentang kegiatan yang dibenci Allah itu lagi.


Sepertinya dia juga merasa ku kecewa padanya, uang yang dikasih ke akupun sekarang tak seperti dulu lagi.


"Mas jangan lupa nanti ku periksa ke bidan ya aku nggak megang uang sama sekali " kuingatkan lagi suamiku saat sedang sarapan sebelum berangkat narik pagi ini.


"Ya yank doakan hari ini rame ya ." jawab mas Aldo sambil mengusap pucuk rambutku.


Sikapmu memang manis saat dirumah mas smoga diluar kamu tidak macam- macam bisikku dalam hati.


"Selalu kudokan kamu dalam sujudku tanpa kau minta sekalipun mas, dan kuberharap jalanmu lurus- lurus dalam berjuang untuk keluarga kecil kita" jawabku sambil kutatap lekat iris matanya sebagai penekanan untuknya.

__ADS_1


"y yaa yang pasti ", jawabnya sedikit tergagap.


"Allah nggak tidur mas" ucapku sambil kuraih punggung tangannya sebelum dia berangkat mencari nafkah.


Kuberbalik kedalam membersihkan sisa sarapan kami, mencuci piring sambil merendam cucian.


Jangan tanya mesin cuci, barang mewah seperti itu kami belum mampu untuk membelinya mungkin suatu saat nanti smoga Allah melancarkan rizkynya.


Setelah kuanggap rapi semua kubergegas ke warung untuk belanja sayuran.


Ya paling hanya sayuran dan lauknya tahu dan tempe yang mampu kumasak setiap hari, hanya kadang- kadang ku beli ikan atau ayam kalau mas Aldo ngasih uang lebih, bagaimanapun bayi dalam kandunganku juga perlu gizi yang cukup.


Oh ya kami ngontrak dikontrakan yang kecil hanya 3 petak tanpa sekat, tetanggaku semua pedagang jadi kami jarang sekali bertemu untuk ngobrol karena kebanyakan laki- laki.


"Pulang belanja mbak ?" tegur mang Idan tetangga sebelah rumah yang jualan otak-otak.


"Iya mang " jawabku sambil tersenyum ramah pada mang Idan.


"Mbak maaf ya saya mau nggoreng kacang tanah ", ucap mang Idan dengan muka yang sedikit tak enak padaku.


"Nggak apa-apa mang goreng aja nanti aku minggir sebentar ", yahh aku memang nggak suka mencium bau kacang tanah digoreng selama hamil ini, dan apesnya punya tetangga jualan bahan dasarnya kacang tanah hehehee begitulah kadang ada aja yang kita alami saat kita hamil.


Setelah bau-bauan mengulang kukembali kerumah dan kurebahkan tubuhku dikasur tipis, saru-satunya kasur yang kami punya .


Tak butuh waktu lama akupun tertidur beberapa jam hingga suara adzan membangunkan ku.


Bergegas ku ambil air wudhu dan melaksanakan kuwajibanku.


Sore hari ini Mas Aldo pulang cepat mungkin dia tak berhenti dulu di tempat tongkrongan mereka.


"Assalamualaikum " ,suara yang selalu kurindukan setiap hari karena disini kami hanya berdua rasanya sangat sepi setiap mas Aldo pergi kerja.


"waalaikumsallam mas " , jawabku sambil kucium punggung tangannya.


"Gimana mas jadi periksa kan kita ? " nggak sabar kuberondong pertanyaan bukan apa- apa kutakut uangnya dibuat mampir ke tongkrongan lagi


"Ya dek tadi mas kasbon ke pemilik mobil."jawab mas Aldo.


"Memang narik sepi mas ?" tanya ku pelan sambil murahan air mata yang merengsek mau keluar.

__ADS_1


"Ya dek nggak tau sekarang narik sepi mungkin karena makin banyak angkutan yang beroperasi".


Sambung mas Aldo sambil kedapur melihat masakanku hari ini.


"Mas masih suka nongkrong dicucian?" tanyaku pelan nyaris berbisik, kutakut mas Aldo marah mendengar pertanyaanku ini.


"Ya kadang aja dek nggak enak selalu dipaksa sama temen- temen mas disana ",jawab mas Aldo sambil mulai menyiapkan nasi kemulutnya.


"Mas kita harus bisa ngumpulin uang buat lahiran nanti, kalau begini kita nggak bisa sama sekali menyisakan uang untuk ditabung nggak usah dengerin temen mas saat ini anak mas lebih butuh uang itu dari pada buat mereka".


Ku beranikan diri mengatakan semua yang kupendam dalam hati selama ini pada suamiku ini .


Kutau mas Aldo masih labil pikiran nya tapi mau bagaimana lagi mau nggak mau ya harus dewasa karena sebentar lagi akan jadi ayah.


Begini resiko menikah usia masih muda banyak sekali tantanga dan rentan pertengkaran.


"Ya dek ku juga paham, cuma kadang mas diolok-olok suami takut istri kata mereka", jawab mas Aldo pelan.


"Ya Allah mas dan mas tersinggung dikatakan seperti itu?", ucapku sambil memandang lekat suamiku itu.


Mas Aldo diam tak menjawab dan kumengerti egonya tersenggol oleh ledekan teman-temannya.


"Mas hanya kita yang tau bagaimana keluarga kita yang sebenarnya, aku tak pernah membatasi mas atau melarang-larang apa yang mas lakukan asal itu masih lurus jalannya". kuelus tangan suamiku untuk meredakan egonya agar tidak makin terpancing


Ku tinggalkan mas Aldo dengan pikirannya itu, kubersihkan bekas makan dan mencuci piringnya kembali .


Habis Maghrib kami pergi ke bidan untuk memeriksa kandunganku yang telah menginjak 5 bulan ini.


"Met malam mbak jadwal periksa ya hari ini ?" tanya bidan Riska ramah.


"Met malam bu bidan , iya mau periksa dedej bayi kangen denger detak jantungnya", jawabku sambil tersenyum bahagia rasanya saat mendengar detak jantung anakku dilayar monitor bidan Riska.


"Bayinya sehat detak jantungnya kuat tapi sepertinya beratnya kurang nih, makan yang banyak yabak yang bergizi biar dedeknya sehat dan nutrisinya terpenuhi". begitu keterangan bidan Riska pada kami.


" Iya bu inshaallah akan saya perbaiki pola makan saya " jawabku sambil menggigit bibirku pelan.


Mas Aldo memandangiku dengan wajah yang sedih merasa tak berdaya.


Kugenggam tangannya seolah kukatakan "aku tak apa- apa jangan khawatir".

__ADS_1


Kamipun berjalan pulang dengan saling diam dan tangan saling menggenggam untuk saling menguatkan.


Ini hidup kami dan kami akan menghadapinya apapun yang akan terjadi nanti..


__ADS_2