
Malam ini aku tak bisa tidur perutku mulai sering terasa mulas seperti ingin buang air besar.
Karena masih tengah malam aku belum membangun kan mas Aldo, biarkanlah mungkin pagi hari baby baru launching.
Karena mulai sering terasa sakit terpaksa kuketuk pintu ibu Ratih bagaimanapun sebagai Mak paraji beliau pasti paham.
"Assalamualaikum Bu , sudah tidur belum ?" kuketuk pintu tetangga baikku yang sudah kuanggap kaya orang tuaku sendiri ini.
"Waalaikumsallam, ehh kenapa neng sudah berasa mulas perutnya ?" tanya beliau sambil memegang perut besarku.
"Iya Bu, sakit banget rasanya.." rintihku pelan.
Bu Ratih pun memijat lembut perutku untuk memastikan posisi babyku .
" Neng ini paling pagi, terserah mau ke bidan sekarang atau besok pagi " ujar Bu Ratih padaku dan mas Aldo.
"Gimana mas menurutmu? " tanyaku .
" Ya udah sekarang banyakin jalan dulu dek besok habis subuh kita berangkat kebidan masih tahan kan ? " jawab suamiku.
"Iya mas doakan agar semua mudah ya , "
" Pasti ini calon anak kita semua akan baik baik aja nggak usah takut " ujar mas Aldo menenangkan aku sambil mengusap usap pucuk kepalaku lembut.
Setelah subuh rasanya aku sudah tak tahan kamipun berangkat ke rumah bidan tempat aku periksa kandungan selama ini.
Dengan diantar bu Ratih dan suaminya kusudah di bad khusus untuk melahirkan.
Kuberjuang sendiri didalam kamar bersalin sementara mas Aldo menunggu didepan kamar bersalin ,entah kenapa dia tak menemaniku mungkin tak tega melihat aku kesakitan batinku untuk menghibur diri.
Setelah berjibaku dengan rasa sakit sekitar 2 jam akhirnya lahir anak pertama kami, bayi laki laki yang sangat tampan.
"Bapak nya boleh masuk anaknya sudah lahir " ujar Bu bidan di depan kamar bersalin ku.
Mas Aldo dan Bu Ratih masuk melihat putra kami, " Subhanallah ganteng banget sayang ", gumam suamiku dengan mata berkaca kaca.
"Mas adzanin " .
Mas Aldo melafalkan adzan dengan terbata bata ditelinga putra kami itu.
"Mas udah punya nama buat anak kita ?" tanyaku .
"Terserah kamu dek mas nggak punya bayangan nama yang bagus."
Memang suamiku ini selalu mengandalkan aku dalam mengambil keputusan.
"Aksara devano , bagus nggak mas?" ,tanyaku minta pendapat suamiku bagaimanapun dia harus ikut mempertimbangkan nama buat anaknya.
__ADS_1
"Iya yank bagus ." sahut suamiku pasrah seperti biasa.
Mendengar aku sudah melahirkan sore harinya kakakku datang menjenguk ku.
"Assalamualaikum, dah lahir Ra? ,kamu nggak kabarin kakak !" sungut kakakku marah.
"Waalaikumsallam , maaf kak aku nggak bisa mikir hanya rasain sakit aja ", sahutku sambil memegang tangan kakakku itu .
"Ganteng banget ",gumam kakakku.
"Panggil Aksa budhe .." jawabku menirukan suara anak kecil.
"Hai Aksa selamat datang di dunia.." kakak tak berhenti berbicara sambil menggendong bayi mungil kami.
Setelah agak lama kakak pamitan pulang , "Ra kakak pulang dulu.. " , peluk kakak sambil mengepalkan uang di tanganku.
"Kak.., aku nggak enak ngrepotin terus .." cicitku bersamaan dengan lelehan air mata di pipiku.
"Memang kamu sudah punya uang buat bayar semua?" sahutnya sambil mengusap air mataku.
Aku hanya menggeleng pelan makin deras air mata yang mengalir dipipiku.
"Ya udah kakak pulang ya jangan mikir macam macam rilex aja biar air susunya lancar kalau uangnya kurang kamu telp kakak ya jangan diem aja !".
Kupeluk kakakku erat sambil sesenggukan ,"aghh beruntung sekali aku memilikimu kak batinku nelangsa ".
"Aldo kakak pulang nitip Larasati ,kalau ada apa apa bilang sama kakak !".
"Iya kak terimakasih ." jawab suamiku .
Esok harinya akupun sudah diperbolehkan pulang ,kami pulang naik angkutan suamiku.
Sekarang aku sudah menjadi seorang ibu berarti kuwajibanku bertambah pula mulai hari ini.
Karena aku baru melahirkan suamiku sebelum berangkat kerja sudah menyiapkan makanan dan mencuci popok Aksa terlebih dahulu .
Sangat baik kan? , suami idaman memang akupun sangat bersyukur.
Sementara aku belum bisa banyak bergerak sepupuku yang menemaniku selama mas Aldo kerja.
Niar namanya dia yang membantuku menjaga Aksa , akupun belum terlalu berani karena memang ini pertama kali aku memegang bayi sekecil ini.
Bu Ratih setiap hari memandikan Aksa bahkan membuatkan aku jamu katanya biar rahimku cepet sembuh dan kembali seperti semula.
Aku sangat berterimakasih dan merasa beruntung sekali dengan adanya Bu Ratih ngontrak disini, mungkin ini memang jalan yang sudah disiapkan Allah untukku.
Setelah beberapa hari akupun mulai terbiasa dengan statusku sekarang dan apa yang harusk kulakukan sebagai ibu .
__ADS_1
Malam ini hari ke 25 sudah hampir sebulan ya ternyata Aksa lahir, entah kenapa aku tertidur dari sore hari mungkin karena aku susah menyesuaikan jam tidurku dengan Aksa , karena kalau malam putraku ini sering mengajak ibunya begadang.
Tengah malam kuterbangun dari tidurku ,ahh aku lupa malam ini belum kuminum jamuku .
Akupun bangun pelan pelan dari tidurku , ku beranjak kedepan untuk mengambil jamu yang kutaruh diruang tamu ini.
Saat kunyalakan lampu ku terkejut melihat mas Aldo sedang memeluk Niar bibir mereka saling bertautan.
Aku terhenyak melihatnya sungguh ini tak pernah kubayangkan, mas Aldo langsung bangun sepertinya dia sama terkejutnya denganku.
Apa aku marah marah kepada mereka ? jawabannya tidak.
Aku shock aku kembali ke tempat tidurku kumenangis dalam sesenggukan di samping putraku itu.
"Ya Allah rahimku belum kering tapi aku sudah dapat kejutan yang sangat indah dari suamiku yang terlihat sangat mencintaiku itu apa salahku ya Allah ", desahku dalam hati.
Mas Aldo menghampiri ku, diapun kehilangan kata kata mungkin nggak tau kalimat apa yang harus keluar dari mulut manisnya itu saat ini.
Akhirnya dia menciumi kakiku sambil memohon maaf.
"Dek maaf mas nggak sengaja , terjadi begitu aja sumpah dek mas nggak bermaksud berbuat begini mas nggak ..., agrrhhhh" teriak mas Aldo sambil menjambak rambutnya sendiri
Aku hanya diam dengan tatapan kosong , rasanya begitu banyak kata makian yang ingin ku lontarkan kepada mereka tapi mulutku rasanya terkunci rapat.
Akhirnya kupilih untuk mendiamkan mereka terlalu sakit hatiku aku tak punya tenaga untuk berantem saat ini.
Subuh Niar pulang tanpa pamitan dan tanpa mengatakan apapun padaku .
Argghh sudahlah hatiku sakit memikirkan apa yang kulihat semalam, akupun jijik melihat wajah polosnya.
Mas Aldo terus berusaha untuk meminta maaf dan mencoba mencairkan kebisuanku dengan banyak pertanyaan yang tak satupun aku jawab.
Setelah memasak sayur bening mas Aldo menitipkan aku ke Bu Ratih, dan diapun berangkat kerja sebelum berangkat dia mengecup keningku sambil tetap mengucapkan kata maaf yang tak ku respon sama sekali.
Saat kulihat Bu Ratih masuk tangisku langsung pecah kupeluk orang tua yang sudah kuanggap sebagai ibuku itu.
Kumenangis sejadi jadinya dalam pelukannya ,Bu Ratih bingung melihatku seperti itu.
"neng kenapa ? , tanya beliau sambil memandang lekat wajahku .
"Bu... aku sakit rasanya hatiku sakit Bu..., " akupun menceritakan kejadian semalam.
Bu Ratih terhenyak menatapku tak percaya, akupun makin tersedu sedu makin sakit melihat beliau memandangku dengan tatapan kasihan ," ya Allah... " rintihku disela Isak tangis ku.
"Terus kamu tak menegur mereka ..?", aku menggeleng pelan, dan beliau memelukku makin erat.
"Sabar, istighfar ingat Aksa jangan terlalu sedih ," hibur Bu Ratih walaupun beliau tau itu tak akan mengurangi semua yang kurasakan .
__ADS_1