
Setelah menjalankan sholat maghrib berjamaah, Ardy membawa keluarga kecilnya pergi ke mall. Sampai di mall, mereka langsung makan, setelah itu ke store pakaian laki-laki dan perempuan. Seperti biasa yang aktif memilih adalah Rieke dan kedua anaknya sementara Ardy hanya mengikuti mereka saja di belakang. Tugasnya adalah menjaga, dan memberikan bantuan bila memang diperlukan misalnya bantuan untuk memegang baju yang sudah dipilih.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”
Rieke tertawa seraya menoleh ke belakang dimana suaminya baru saja melontarkan pertanyaan layaknya asisten kepada majikan.
“Nggak ada, Yah. Udah ayah duduk aja daripada capek atau bosen jalan-jalan terus,”
“Tapi saya mau jagain Nyonya sama bantu Nyonya,”
“Ih ayah jangan ngomong gitu ah. Takut didengar orang nanti mereka mikirnya ayah beneran asistennya bunda,”
“Nggak apa-apa ‘kan jadi suami itu emang ada tugas untuk menjaga dan membantu, salahnya dimana?”
“Ya tapi jangan panggil nyonya-nyonya. Nanti orangs alah paham,”
“Ah biarin aja, orang itu candaannya kita berdua, orang kalau salah paham ya berarti emang hidupnya terlalu serius dan terlalu ngurusin orang. Harusnya mereka fokus belanja aja lah nggak usah merhatiin kita apalagi nguping dan akhirnya salah paham,”
“Ayah,”
“Ayah,”
Ardy langsung menoleh ketika dipanggil oleh dua suara yang mirip. Tidak lain dan tidak bukan adalah suara dua putrinya.
“Iya kenapa, Nak?”
Ardy bertanya pada mereka yang sedang berada di tempat baju perempuan remaja. Memanggil Ardy berbarengan, dan sekarang mereka saling memberikan tatapan tajam satus ama lain.
“Aku duluan, Kak,”
“Kaka lah yang duluan, yang lebih tua siapa?”
“Ya kaka tapi ‘kan aku adeknya kakak jadi kakak harus ngalah dong,”
“Kata siapa? Kakak duluan yang mau minta tolong ayah untuk milihin baju buat kakak diantara dua ini, soalnya semua bagus,” ujar Inaya seraya menunjukkan dua stel baju di tangannya.
“Nggak ah, aku duluan pokoknya,”
__ADS_1
“Lah, adek tuh harus patuh sama kakak. Kalau kakak bilang adek belakangan berarti adek nurut,”
“Nggak mau, aku duluan, aku juga mau nanya sama ayah soal baju,”
“Nggak, udah pokoknya—“
“Ada apa sih? Ayah pusing dengar kalian berdebat. Satu-satu ‘kan bisa, pasti Ayah bantu semuanya, ayah nggak bakal pilih kasih kok, tenang aja,”
“Tuh ‘kan, makanya jangan begitu dong, Kakak. Ngalah sama adeknya, jadi kakak tuh harus ngalah,”
“Udah biar adil, Ayah bantuin adek, Bunda bantuin kakak,”
Rieke langsung menawarkan bantuan supaya anaknya tidak berdebat dan suaminya juga tidak bingung.
“Tapi kakak mau sama ayah, Bun. Pengen dipilihin baju sama ayah,”
“Padahal bunda ‘kan lebih paham, Kak,” ujar Ardy yang merasa bingung karena dua anaknya kali ini minta bantuan kepadanya.
“Ya udah deh aku habis adek aja. Sekarang ayah bantuin adek, terus nanti aku deh,”
“Ya udah ayo Ayah bantu pilihin,”
Inara langsung bahagia sekali ketika ayahnya mendekat dan mengamati dua pilihan di tangannya.
Inaya mendengus pelan. Sebagai kakak yang baik, sudah sewajarnya Ia memang mengalah. Tak apalah, kali ini mengalah lagi. Daripada malah bertengkar di store baju. Ayah dan bundanya juga tak senang bila Ia dan adiknya berdebat hanya karena permasalahan kecil.
Akhirnya Inaya bersedia menunggu giliran. Ia mempersilahkan ayahnya untuk membantu sang adik dalam memilih pakaian. Sementara Ia lanjut menjelajah lagi tapi tangannya masih memegang dua baju yang akan dipilih salah satunya oleh sang ayah nanti.
“Menurut kamu, cocoknya yang jeans yang kulot atau cutbray gitu?”
Inaya langsung menolehkan kepala setelah mendengar seorang perempuan bertanya tentang celana yang entah pada siapa dan itu membuat Inaya penasaran makanya spontan menoleh. Matanya langsung membelalak dan cepat-cepat Ia membuang muka sambil bergumam.
“Kok ada Kak Marvin di sini?”
Inaya menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal, tapi memang begitulah gerak geriknya kalau sedang bingung atau panik.
Inaya menoleh ke arah Marvin sekali lagi untuk memastikan dan ternyata penglihatannya memang tidak salah. Itu benar-benar Marvin, bersama seorang perempuan yang belum Inaya kenali wajahnya karena posisi perempuan itu membelakangi Inaya.
__ADS_1
“Ya ampun, kok bisa-bisanya aku ketemu sama Kak Marvin? Dia kayaknya lagi temenin pacarnya belanja kali ya? Tapi itu pacarnya bukan sih? Apa sama mukanya kayak yang aku liat di akun instagram Kak Marvin?” Batinnya bertanya-tanya.
Inaya ingin menoleh lagi tapi rasanya segan. Padahal Ia penasaran sekali dengan perempuan yang saat ini bersama Marvin tapis ayang memang sulit untuk Ia ketahui sosoknya sebab posisi perempuan itu membelakanginya.
“Niat hati mau senang-senang ke mall, eh malah liat Kak Marvin sama cewek. Jadi senangnya aku berkurang deh. Nasib cuma bisa kagumi dari jauh dan diam-diam ya begini,”
“Apa bedanya sih cutbray dan kulot?”
“Yang ini cutbray, nah ini kulot,”
Inaya masih bisa mendengar lumayan jelas obrolan antara Marvin dan perempuan itu walaupun Inaya sudah berusaha untuk fokus melihat-lihat baju.
“Yang kulot aja deh kayaknya,”
“Okay berarti kulot ya? Emang kenapa kamu kasih sarannya kulot?”
“Karena cocok aja gitu di kamu, sopan juga. Soalnya dia besar gitu ya bentuk celananya,”
“Iya emang, okay aku ikutin saran kamu aja,”
“Tapi sebenarnya kamu pakai apa aja juga cocok kok, Cha. Serius deh, ini pendapat aku,”
“Jiahhh bisa aja kamu,”
Inaya merasa sesak padahal seharusnya tidak perlu. Ternyata mengagumi dari jauh dan dalam diam itu cukup menyakitkan, dan Inaya baru merasakannya. Entah kenapa rasa kagumnya terhadap Marvin sudah sedalam itu sampai melihat foto Marvin dengan perempuan di akun instagram saja Ia langsung kepikiran, lalu barusan mendengar kata-kata manis Marvin langsung membuatnya nelangsa.
“Kak Marvin kayaknya gentle ya. Kalau mau muji ya muji aja nggak malu-malu. Beruntung banget perempuan itu. Kalau aku yang dibilang cantik, aku kayaknya bakal terbang deh. Eh nggak deh, jangan! Nanti ayah, bunda, sama adek gimana kalau aku terbang?”
“Baik juga deh kayaknya. Andai aja aku bisa kenal sama Kak Marvin. Kayaknya bakal susah banget deh, antara nggak ada waktu atau kesempatan untuk ketemu, Kak Marvin juga belum tentu mau kenal aku, ditambah lagi aku nggak percaya diri,” lanjutnya lagi.
“Makasih ya udah bantu aku milih,”
“Sama-sama, Cha,”
Inaya sempat mendengar sebutan Marvin kepada perempuan itu tapi Ia tidak tahu siapa nama lengkapnya, apalagi wajahnya yang masih membelakanginya itu. Jujur Inaya jadi gemas sendiri ingin secepatnya melihat wajah perempuan itu. Apakah sama dengan yang diposting Marvin atau justru malah beda orang.
“Kalau cewek itu sama kayak yang ada di foto, berarti beneran mereka pacaran. Karena kalau nggak pacaran nggak mungkin lah seakrab itu. Ke mall bareng, bantu dipilih celana yang cocok, ditambah Kak Marvin mujinya manis banget,”
__ADS_1