Ketua Basket Incaran Inaya

Ketua Basket Incaran Inaya
Bab 7


__ADS_3

“Cie yang udah pulang dari sekolah baru, gimana? Ketemu Oppa Korea yang tadi pagi aku bilangin nggak? Ceritain dong, biar aku tau gitu,”


“Kamu gimana keadaannya? Kok bisa pingsan sih, Dek? Biasanya juga nggak pingsan-pingsan,”


Alih-alih menanggapi pertanyaan adiknya yang tidak penting soal Oppa Korea, Inaya lebih tertarik untuk menanyakan kondisi adiknya yang baru saja sampai di rumah dengan selamat bersama sang bunda.


“Hari ini aku halangan, Kak. Datangnya tadi pagi nggak lama setelah mulai belajar. Nah pas senam tuh aku udah mulai merasa lemas tapi aku paksain, aku pengen sampai selesai senam nya. Eh tapi malah pingsan,”


“Ih makanya jangan suka maksain diri sendiri! Kalau nggak merasa baik-baik aja, nggak sanggup nyelesain sampai akhir, harusnya kamu bilang ke guru kamu kalau kamu mau istirahat karena kamu lemas, nggak kuat nyelesain senam,”


“Tapi aku suka senamnya, Kak. Tanggung juga jadi ya aku pengen lanjut terus,”


“Lain kali jangan begitu ya, Dek,”


“Iya, Kak,”


“Bunda khawatir banget lho sama kamu. Tadi sampai buru-buru banget turun tangga pas mau jemput kamu,”


“Iya aku minta maaf, kakak juga khawatir ya?”


“Hmm khawatir nggak ya? Menurut kamu?”


“Halah gengsi gede banget. Bilang aja khawatir!”


“Iya kakak khawatir lah. Biasanya kamu nggak pernah pingsan. Terus kamu nggak mau ke rumah sakit?”


“Nggak mau adekmu diajak ke rumah sakit, Kak. Udah Bunda ajakin tadi,”


“Kenapa, Dek?”


“Nggak mau, orang aku baik-baik aja kok,”


“Udah sana istirahat,”


“Tapi nanti sore jadi ya, Bun,”


“Insya Allah tanya ayah dulu,”


“Yah nggak usah tanya ayah, Bun. Ayah nggak usah tau kalau aku abis—“

__ADS_1


“Ayah harus tau lah, ayah itu krangtua kamu. Apa-apa aja yang terjadi sama anaknya, orangtua memang sebaiknya tau. Begitupun sebaliknya,”


“Tapi aku ‘kan pingsannya karena emang lagi mau pingsan aja,”


“Lagi mau? Ya ampun enteng banget ini bocah omongannya ya, jadi kamu emang kepengen pingsan gitu maksudnya? Pingsan disengaja?”


“Nggak, tapi maksud aku aku tuh, pingsan bukan karena apa-apa, karena lagi datang bulan hari pertama terus senam, badan aku lagi nggak bisa diajak kompromi aja ini, Bun. Sekarang udah normal-normal aja kok, Bun, nggak lemas lagi,”


“Emang mau jalan kemana sih, Dek?”


“Ke mall, kata ayah ‘kan mau ke mall nanti sore, Kak,”


“Ya udah lah itu diomongin nanti aja. Sana istirahat dulu. Jangan lupa sholat dzuhur ya,”


“Okay, Kak,”


“Perlu kakak antar ke kamar nggak, Dek?”


“Nggak usah lah, Kak. Ngapain? Kakak repot-repot aja. Aku bisa sendiri kok, tenang aja, Kak,”


“Ya barangkali kamu masih belum bisa jalan sendiri ke kamar,”


“Udah bisa, buktinya tadi aku sendiri turun dari mobil jalan sampai depan pintu,”


“Okay, Kakak,”


Inara memasang sikap hormat dan langsung bergegas ke lantai dua diamati oleh kakaknya, sementara bundanya langsung menyusuli.


Rieke ingin memastikan anak bungsunya sampai di kamar dengan keadaan baik-baik saja. Dan memastikan juga Inara istirahat. Sementara Inaya memilih untuk ke ruang keluarga dan menonton televisi.


Inaya tidak mengganti saluran televisi yang sedang menayangkan pertandingan basket. Entah kenapa tangannya enggan untuk mengganti tayangan pertandingan itu padahal biasanya Ia tak begitu tertarik untuk menonton olahraga di televisi.


“Duh, jadi ingat sama kakak yang tadi main basket sama teman-temannya. Nama dia Marvin, Kak Marvin kelas berapa ya?”


Tiba-tiba nama Marvin hadir di benaknya. Ia mengakui bahwa Ia sudah merasa tertarik pada Marvin sejak pertama kali melihat Marvin tadi, ketika Marvin bermain basket dengan teman-temannya. Tapi Marvin tak menyadari itu tentunya sebab Marvin serius bermain.


Ketika menonton pertandingan basket di televisi, Inaya tiba-tiba ingat dengan permainan Marvin yang keren tadi.


“Aku penasaran deh Kak Marvin kelas berapa ya? Coba aku cari tau deh,” ujar Inaya dengan antusiasnya mengambil ponsel yang Ia simpan di saku celananya.

__ADS_1


Ia langsung membuka akun instagram sekolah barunya itu. Kemudian Ia mulai mencari akun Marvin yang barangkali diikuti oleh instagram sekolah, atau mungkin foto Marvin pernah diposting sebagai pemain basket sekolah.


Akun instagram sekolah aktif membagikan postingan dan beberapa hari ke belakang belum ada wajahnya Marvin yang diposting. Sehingga Inaya harus lebih semangat lagi menggulir postingan lebih jauh.


Akhirnya dapat juga di postingan dua bulan lalu. Foto yang diposting adalah wajah Marvin dan teman-temannya dengan mengenakan baju olahraga basket dan mereka semua bersama-sama memegang piala. Sebagai caption tertulis ucapan selamat, dan apresiasi sekolah untuk timnya Marvin yang berhasil menjuarai pertandingan basket antar sekolah.


“Wah ternyata Kak Marvin ketua basket. Keren banget,” gumam Inaya yang terperangah setelah mengetahui fakta bahwa Marvin, lelaki yang langsung membuatnya merasa tertarik itu adalah seorang ketua basket.


“Keren banget, udah ganteng, jago main basket, jadi ketua basket pula,”


“Kakak, nonton sendirian, Nak? Nggak lanjut tidur aja? ‘Kan udah sholat, tidur aja lagi sambil nunggu ayah kalau jadi pergi,”


Inaya langsung meletakkan ponselnya di atas paha ketika mendengar suara bundanya yang datang menghampiri dirinya yang duduk di sofa sendirian. Inaya tidak mau kalau sampai Bundanya tahu Ia sedang mengagumi seorang lelaki bernama Marvin yang menjadi ketua basket di sekolah.


“Nggak, Bun, udah nggak ngantuk. Oh iya, adek gimana, Bun? Udah tidur?”


“Ya semoga aja, bunda pergi dari kamar sih adekmu udah di tempat tidur,”


“Semoga aja adek mendingan ya, Bun,”


“Inara keliatannya sih baik-baik aja sekarang, dia sendiri juga bilang begitu ‘kan. Semoga deh, makanya tadi Bunda pengen batalin aja lah jalan-jalan ke mall nanti sore karena pengen dia istirahat, Bunda bakal bilang ke ayah, tapi adekmu itu semangat banget mau pergi,”


“Nggak nagih janjinya aku ya dia? Apa dia lupa? Minuman boba yang diincar dari tadi pagi,” ujar Inaya seraya tertawa.


“Takut kali mintanya sama kamu, takut kamu marahin karena masih aja ingat boba padahal abis pingsan,”


“Sebenarnya nggak apa-apa ‘kan, Bun? Kali aja adek jadi seger gitu ‘kan abis minum es boba,”


“Jangan dulu deh, biar dia istirahat dan makan dulu nanti kalau udah bangun, jangan yang aneh-aneh dulu masuk ke perutnya, Bunda takut soalnya. Dia nggak mau juga dibawa ke rumah sakit,”


“Mungkin karena adek ngerasa baik-baik aja jadinya dia nggak mau ke rumah sakit, Bun,”


“Iya semoga aja nggak ada lagi acara pingsan-pingsan. Bunda sekarang mau ke dapur dulu ya, Kak,”


“Ya, Bun,”


Inaya kembali sibuk dengan ponsel. Ia belum puas mencari tahu tentang Marvin. Sekalinya menyukai seorang lelaki, Inaya memang akan sepenasaran ini.


“Aku mau berkunjung ke akunnya deh. Pengen tau isinya apa aja,” ujar Inaya seraya mengklik nama akun Marvin yang ditandai pada postingan kemenangan Marvin dan timnya.

__ADS_1


Begitu Ia buka akunnya Marvin yang ternyata tidak diprivasi, postingan pertama yang langsung membuatnya seperti jatuh dari lantai dua adalah, foto Marvin berdua dengan seorang perempuan. Kepala Marvin bersandar di kepala perempuan itu.


“Duh kok nyesek ya, ini pacar Kak Marvin kayaknya,”


__ADS_2