Ketua Basket Incaran Inaya

Ketua Basket Incaran Inaya
Bab 8


__ADS_3

“Yah ampun, nyesel deh aku buka-buka akun instagram nya Kak Mavin. Soalnya aku malah nemuin postingan Kak Marvin sama cewek yang romantis banget,” gumam Inaya yang langsung menghembuskan napasnya dengan perasaan nelangsa dan meletakkan ponsel di atas meja di depannya dengan kesal. Ia tidak berani lagi melanjutkan rasa penasarannya akan semua postingan Marvin.


Setelah itu Inaya langsung membaringkan badannya di atas sofa dengan posisi terlungkup. “Sekalinya suka sama orang, langsung penasaran, abis itu malah dibikin kecewa. Cantik banget pacarnya Kak Marvin,” gumam Inaya sambil menangkup kepala belakangnya dengan kedua tangan.


Beberapa menit Ia habiskan untuk mengingat momen pertama kali Ia melihat Marvin, dan juga momen dimana Ia tahu kalau Marvin punya kekasih. Inaya langsung menebak kalau itu adalah kekasih Marvin karena foto mereka romantis.


“Kalau beneran itu pacarnya Kak Marvin, aku harus lupain Kak Marvin, nggak boleh ingat-ingat dia terus, soalnya gawat. Semoga aja aku bisa deh lupain Kak Marvin,”


“Kakak,”


“Iya, Bun,”


Inaya langsung beranjak begitu mendengar bundanya memanggil. Tanpa basa-basi Ia segera bergegas melangkah ke dapur.


Bundanya tidak senang kalau panggilannya hanya ditanggapi dengan mulut tapi tidak dengan tindakan, apalagi kalau tidak ditanggapi sama sekali. Maka Inaya maupun Inara aman mendengar bundanya marah.


“Iya kenapa, Bun?” Tanya Inaya setelah tiba di dapur.


“Ih pinter langsung datang ya kalau dipanggil,”


“Takut diomelin Bunda, hehehe,”


“Iya bagus dong, kecuali kalau lagi sibuk banget. Ini nggak ‘kan? Jadi ya mesti disamperin bundanya kalau udah manggil. Bunda boleh minta tolong beliin bunda susu kotak di minimarket, Nak?”


“Boleh banget dong, Bun,”


“Rasa apa?”


“Strawberry ya, yang ukuran sedang itu lho,”


“Iya aku tau, Bun. Aku jalan sekarang ya, tapi emangnya itu buat apa, Bun?”


“Mau bikin agar sama fla. Bunda butuh susu itu. Eh sama gula juga tiga kilo ya, Nak buat persiapan aja,”


“Wah mau bikin dessert kesukaan aku. Asyikk nggak sabar deh. Ya udah aku jalan sekarang, Bun,”


Rieke langsung menyerahkan kartu debitnya kepada sang anak yang Ia mintai tolong untuk membeli susu kotak di minimarket komplek.

__ADS_1


“Nggak usah jauh-jauh ya, Nak. Ke minimarket biasa aja. Insya Allah ada kok,”


“Iya, Bun,”


“Hati-hati ya,”


“Siap, aku bawa motor sendiri ya?”


“Eh nggak-nggak, jalan aja jangan bawa motor. ‘Kan dekat banget, Kak. Bunda belum percaya kamu bisa bawa motor,”


“Aku udah bisa, Bunda. ‘Kan udah diajarin ayah, bentar lagi bikin SIM, tapi aku udah jago,”


“Halah, jago apa? Nggak ngeri kejadian hampir nabrak pagar rumah orang keulang lagi? Hmm?”


Inaya tertawa ketika bundanya mengingatkan Ia akan kejadian beberapa waktu lalu dimana Ia sedang belajar mengendarai kendaraan roda dua.


“Lagian masih lama bikin SIM tau. Ulang tahun ke tujuh belas aja belum, pake ngomong bentar lagi, emang dikira Bunda lupa kalis ama umur anaknya,”


“Tapi aku udah bisa bawanya, Bun. Walaupun belum punya SIM, masih lama buat SIM nya, yang penting aku udah bisa. Lagian ‘kan cuma ke tempat dekat, Bun, sekalian ngelatih biar aku makin jago,”


“Nggak, Kak. Bunda khawatir, jangan aneh-aneh ah. Ya udah sini bunda aja deh yang jalan buat beli—“


Rieke menganggukkan kepalanya dengan hati senang karena sang anak mau mendengarkan ucapannya.


“Hati-hati ya, Nak,”


“Ya, Bun,”


Inaya langsung keluar dari rumah dengan tujuan pergi ke minimarket. Ia lagi diajarkan untuk mandiri dan mau membantu orangtua.


“Kak Naya, mau kemana?”


“Beli susu, Pak Sugeng,”


“Biar Bapak aja,”


“Jangan, Pak, aku yang disuruh. Tolong kasih kunci motor aja, Pak. Aku mau bawa motor,”

__ADS_1


Inaya ingin semakin mahir dalam mengendarai motor, maka dari itu ingin ke minimarket dengan motor. Berhubung tempatnya sangat dekat, dan Ia sudah bisa, jadi Ia tetap nekat walaupun bundanya tak mengizinkan.


“Eh jangan, Ayahnya Kak Naya ‘kan selalu pesan ke bapak jangan sekali-kali biarin kakak ataupun adek bawa motor kalau nggak ada ayahnya. Nggak deh, Bapak takut,”


“Tapi ‘kan cuma dekat, Pak Sugeng,”


“Kak, Ayahnya Kak Naya nanti nyesal ngajarin Kak Naya kalau bandel,”


“Itu juga ayah ngajarinnya terpaksa karena aku udah ngerengek mulu, kalau nggak mana mungkin diajarin. Padahal ‘kan aku pengen bisa, biar mahir sebelum punya SIM,”


“Jangan ya, Kak. Saya takut nanti kena tegur sama ayahnya Kak Naya. Mendings aya aja yang beli, gimana?”


“Ya udah deh kalau Pak Sugeng nggak mau kasih kuncinya. Aku jalan kaki aja kalau gitu. Aku yang disuruh Bunda untuk beli susu, Pak. Sekarang aku mau jalan dulu ke minimarketnya sebentar. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Kak,”


“Makasih, Pak,”


Inaya gagal mendapatkan apa yang Ia inginkan, yaitu kunci motor. Akhirnya Ia berjalan kaki, padahal tadi sudah nekat membantah apa kata bundanya. Mungkin Ia memang tidak diizinkan untuk membantah makanya tidak berhasil mendapatkan kunci motor dari Pak Sugeng.


Tentunya Pak Sugeng tidak mau ambil risiko. Sudah berulang kali Ardy berpesan pada Pak Sugeng, atau siapapun itu yang ada di rumah untuk jangan pernah mengizinkan Inaya apalagi Inara untuk membawa motor. Yang Ardy khawatirkan adalah Inaya sebenarnya karena Inaya yang sudah bisa. Ardy cemas anak tertuanya itu nekat bawa motor kemana-mana disaat Ia belum memiliki Surat Izin mengemudi.


Ardy juga takut Inaya mengajarkan adiknya, Inara supaya bisa mengendarai motor. Inara sudah melihat juga ketika kakaknya belajar, takut Inara nekat mengendarai tanpa sepengetahuannya.


Inaya sendiri diajarkan oleh Ardy itupun perlu waktu yang lama supaya Ardy bersedia mengajarkan. Karena Ardy rasa belum waktunya untuk belajar mengendarai motor akan tetapi Inaya terus meyakinkan ayahnya bahwa belajar dulu tidak apa-apa, bisa dulu sebelum punya Surat Izin Mengemudi justru bagus jadi nanti tambah mahir. Setelah mengeluarkan usaha yang cukup besar untuk membujuk sang ayah dan menghabiskan waktu yang lumayan lama juga, akhirnya Ardy mau mengajarkan anak tertuanya itu dengan catatan hanya belajar, tidak boleh dulu mengendarai motor sendirian tanpa sepengetahuannya dan Inaya setuju.


Inaya tidak perlu waktu lama untuk sampai di minimarket karena memang tempat itu sangat dekat posisinya dengan rumah, masih di dalam wilayah komplek perumahannya.


Inaya langsung mencari susu yang dimaksud oleh bundanya, tak lupa juga gula pasir. Setelah itu Ia langsung membawanya ke kasir untuk membayar.


*****


Saat akan melihat keadaan anak bungsunya di kamar, Rieke melewati ruang keluarga. Kakinya berhenti melangkah ketika mendengar dering ponsel yang tak asing di telinga. Ia langsung mencari sumbernya dan ternyata ada di meja ruang keluarga.


“Handphone si Kakak ketinggalan di sini,” ujar Rieke.


Ada panggilan masuk dari kontak bernama Tari. Rieke pikir itu adalah teman anaknya. Ia akan beritahu Inaya kalau ada panggilan masuk setelah Inaya pulang nanti.

__ADS_1


Setelah panggilan berakhir layar ponsel Inaya langsung menampilkan halaman instagram seseorang yang nampaknya lupa dikeluarkan oleh Inaya.


“Kakak abis ngeliatin instagramnya Marvin, siapa Marvin?”


__ADS_2