Ketua Basket Incaran Inaya

Ketua Basket Incaran Inaya
Bab 17


__ADS_3

“Hah? Kakak sampai nyalain notif untuk akun ini? Maksudnya biar kakak langsung bisa liat postingan aku ini gitu ya? Emang sepenting apa sih akun ini buat kakak? Kok saking nggak mau ketinggalan info soal postingan terbaru akun ini, kakak sampai nyalain notif segala,”


Inara bertanya-tanya dalam hati setelah membaca pemberitahuan dari instagram tentang akun dengan nama Marvinsylndr membagikan foto.


Inara menikmati minuman bobanya sambil bertanya-tanya terus dalam hati. Karena Ia sangat penasaran.


Sampai akhirnya sang kakak kembali ke ruang keluarga. Inara langsung berdehem dan duduk dengan posisi yang tegap menatap kakaknya yang saat ini sedang membuka sandi di handphonenya sendiri.


“Kakak,”


“Ya? Kenapa, Dek?” Tanya Inaya tanpa menoleh apalagi menatap adiknya yang saat ini sedang penasaran tapi bingung bertanya atau tidak. Sebab Ia asing dengan akun itu, tapi kakaknya malah sengaja mengaktifkan notifikasi tentang akun itu, dan kalau Inara tak salah ingat nama itu pernah didengar oleh telinganya. Tapi Ia lupa kapan, dan Marvin itu siapa.


“Kenapa? Kok malah diam?” Tanya Inaya seraya meletakkan ponselnya. Ia sudah membuka akun instagram Marvin yang Ia ikuti sejak pertama kali mengunjungi akunnya. Dan ternyata memang ada foto baru sesuai dengan isi notifikasi yang baru masuk ke ponselnya. Dan itu foto Marvin yang sedang melompat di depan ring basket hendak memasukkan bola ke dalam sana.


Inaya langsung meletakkan ponselnya di atas meja setelah melihat postingan Marvin, setelahnya Ia menatap sang adik yang baru saja memanggilnya.


“Kak, Marvin siapa sih? Aku kayaknya pernah dengar namanya deh,”


“Lho, kok tiba-tiba nanya gitu? Emang kenapa, Dek?”


Alih-alih menjawab, Inaya justru bertanya balik pada adiknya yang tiba-tiba entah mengapa malah bertanya soal Marvin.


“Ya nggak apa-apa aku cuma pengen tau aja. Emang nggak boleh ya, Kak?”


“Boleh sih, tapi kok tumben? Tiba-tiba juga lagi,”


“Pengen tau dia siapa?”


“Dia kapten basket di sekolah,”


“Oalah, iya-iya, yang udah punya pacar itu ya?”


“Iya,”


“Kakak pernah cerita, dan kakak bilang kakak nggak naksir sama siapa-siapa, termasuk ketua OSIS sama ketua basket itu,”


“Ya, ada lagi yang mau ditanyain? Kenapa kamu tiba-tiba berubah jadi wartawan, Dek?”

__ADS_1


“Maaf ya, Kak. Aku mau jujur sama kakak,”


“Okay jujur aja, emang ada apa? Kakak malah lebih senang kalau kamu jujur, nggak bohong. Ngomong aja sekarang, Dek,”


Inara ragu tapi kakaknya harus tahu kalau tadi Ia sempat melihat sesuatu di ponsel Inaya tanpa sepengetahuan Inaya selaku pemilik ponsel.


“Tadi aku nggak sengaja liat notif di handphone kakak. Dan aku liat akun Marvin-Marvin gitu deh pokoknya, aku nggak ingat pasti nama akunnya Marvin siapa. Nah aku itu post foto. Kakak sampai nyalain notif untuk akun dia, emang kenapa, Kak? Biar nggak ketinggalan update dari dia gitu ya? Akun itu punya Marvin yang kakak bilang jadi ketua basket itu bukan sih?”


“Astaga, kamu ih ngintip-ngintip handphone kakak,”


“Nggak sengaja, Kak. Beneran deh, aku jujur,”


“Nggak sengaja? Beneran nih?”


Inara langsung menganggukkan kepalanya. Makanya Ia minta maaf sebelumnya karena memang di awal tak ada niat untuk cari tahu, hanya saja tiba-tiba malah diberitahu tanpa sengaja.


“Itu ketua basket yang kakak maksud ya?”


“Iya bener,”


“Terus kenapa sampai aktifin notif gitu sih? Penasaran aku. Kalau aku ya, aktifin notif instagramnya bias-bias aku, Kak. Biar aku nggak ketinggalan update an dari mereka entah itu foto, video, story, live atau apapun itu lah,”


“Hah? Masa bisa nggak sengaja, Kak?”


“Ya mungkin aja. Itu kakak nggak sadar, kepencet atau malah handphone kakak dibajak sama teman. ‘Kan nggak tau pastinya gimana,”


“Oh gitu, ya udah deh. Aku pikir kaka yang nyalain notifnya karena sengaja pengen cepat liat kalau dia update,”


“Nggak, Dek,”


“Kalau itu beneran kerjaan kakak ya, berarti kakak tuh ada sesuatu sama dia,” ujar Inara seraya melempar senyum usilnya. Inaya menghindari yang namanya gugup karena itu akan menjadi sinyal bahwa saat ini Ia sedang menutupi perasaannya sendiri.


“Ngapain kakak aktifin notif di instagram kak Marvin? Ya nggak lah, kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Lagian ya sebenarnya notif instagram tuh ngapain sih dibikin pusing? Tuh itu bukan hal yang penting,”


“Penting, Kak. Karena aku penasaran jadi itu penting dan harus untuk dapat jawaban,”


“Ya tapi kamu udah bikin aku gugup ih. Untung aja bisa kendaliin diri sendiri. Kalau Inara tau, aku emang sengaja aktifin notif supaya nggak ketinggalan update nya Kak Marvin, pasti kamu ngeledekin kakak, Dek,” batin Inaya seraya meraih ponselnya lagi.

__ADS_1


“Ya usah matiin aja notifnya daripada pusing ‘kan,”


“Pusing kenapa?”


“Ya nanti tiap dia update kakak digangguin sama notif,”


“Nggak apa-apa, beneran! Itu malah bikin kakak senang,”


Inaya hanya bisa menyahuti dalam hati saja. Tak mungkin Ia mengutarakan apa isi hatinya, pasti akan habis diolok oleh adiknya. Lagipula Inaya masih belum mau terbuka tentang siapa yang sejak pertama kali bertemu sampai detik ini sudah membuatnya tertarik untuk lagi dan lagi menatap.


“Kakak nggak mau matiin notifnya?”


“Iya ini kakak matiin kok. Tapi sebenarnya nggak dimatiin juga nggak masalah sih, soalnya ‘kan dia ketua basket di sekolah. Barangkali ada info-info soal basket sekokah jadi kaka tau,”


“Ya ‘kan biasanya diumumkan lewat akun sosial media sekolah, Kak,”


“Iya juga sih,”


Alasan Inaya supaya Ia tidak menonaktifkan notifikasi untuk akun instagram milik Marvin. Tapi alasannya itu kurang diterima dengan baik oleh adiknya itu.


“Ya udah nih kakak nonaktifkan notifnya ya,”


“Iya biar kakak nggak keganggu,”


“Nggak bakal terganggu sebenarnya. Tapi ya udahlah, benar kata kamu,”


Inaya langsung menonaktifkan notifikasi yang Inara maksud setelah itu Ia menunjukkannya pada Inara supaya Inara tahu kalau Ia tak lagi menggunakan notifikasi supaya tetap update tentang akun Marvin, lelaki yang dikagumi oleh Inaya.


“Nah mending yang dinyalain notifnya itu akun-akun instagram bias-bias aku, Kak. Terus kalau mereka update like dan komen aja,”


“Ih apa sih kamu? Kenapa Oppa Korea mulu yang ada di pikiran kamu, Dek? Sumpah, kakak jadi bingung deh,”


“Ya karena aku sukanya Oppa Korea, bukan Opa-Opa yang usianya udah tua,”


“Ya tapi kakak bosan dengarnya. Kakak nggak benci k-pop, tapi kalau dibilang suka juga nggak jadi kakak biasa aja. Nah kakak bingung kamu tuh sering banget ngomong Oppa Korea, apa nggak bosan gitu?”


“Nggak dong, Kakak sayang. ‘Kan emang mulut aku sama otak aku tuh udah kerja sama untuk ingat terus sama idola,”

__ADS_1


“Mending ingat pelajaran ketimbang ingat Oppa Korea mulu, Dek. Ampun deh, kakak puyeng kalau kamu udah bahas Oppa Korea,”


“Ya terus kakak maunya kita bahas siapa dong? Kak Marvin gitu?”


__ADS_2