
“Bunda, aku bawa oleh-oleh pesenan Bunda nih,”
Inaya menghampiri sang bunda di dapur yang ternyata tidak ada. Keningnya mengernyit bingung. “Bunda kemana ya?” Batinnya bertanya-tanya.
Inaya meletakkan tas belanjaannya di atas meja pantry kemudian kembali ke ruang keluarga dimana Ia sempat berbaring sambil menonton tadi sebelum bundanya meminta tolong. Di sana juga kosong tidak ada Rieke. Inaya tebak bundanya sedang berada di kamar.
Dan benar saja tidak lama Ia duduk terdengar suara Rieke yang menyebut nama anaknya. “Nay udah pulang?”
“Udah, Bun. Itu belanjaannya udah aku taruh di dapur,”
Inaya langsung menghampiri sang bunda yang saat ini sedang menuruni anak tangga. Setelah bundanya tiba di depannya, Inaya langsung menyerahkan kartu debit milik sang bunda.
“Ini kartunya, Bun,”
“Makasih ya, anak cantik bunda,”
“Sama-sama, Bun,”
“Rame nggak?”
“Di minimarket nya? Nggak sih, Bun. Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa, pantesan cepat,”
Inaya mengikuti langkah kaki Rieke ke dapur. Inaya akan melihat bundanya membuat dessert kesukaannya.
“Aku bantuin, Bun, boleh nggak?”
“Nggak usah, kamu duduk aja,”
Inaya langsung mengangguk patuh, tak memaksakan kehendak untuk membantu daripada bundanya malah tidak senang.
“Eh Bunda mau tanya,”
“Tanya apa, Bun? Boleh tanya aja,”
“Sebelumnya Bunda mau bilang dulu kalau tadi ada teman kamu telepon. Kayaknya sih teman, namanya Tari,”
“Oh iya itu benar teman aku, ‘kan udah aku ceritain ke Bunda,”
“Oh gitu ya? Duh, Bunda lupa,”
Rieke tertawa menyadari bahwa Ia melupakan nama teman anaknya. Untuk Ia tidak salah menebak.
“Bunda mau tanya ke kakak sekarang,”
“Apa, Bun?”
“Tadi kamu abis ngeliatin akun instagram Malvin. Eh Malvin siapa ya tadi nama akunnya, lupa Bunda. Lupa dikeluarin ya abis stalking?”
Inaya langsung membelalakkan matanya kaget mendengar pertanyaan bundanya yang ternyata tahu kalau Ia baru saja cari tahu sedikit soal Malvin. Baru sedikit, karena Ia hanya sekedar tahu nama dan jabatannya Malvin dalam tim basket sekolah.
“Dia ketua basket di sekolah, Bun. Aku lagi liat-liat isi akun instagram sekolah aku terus ketemu foto Kak Malvin jadi ya udah aku kepoin sekalian sama yang lain juga, hehehe. Tapi cuma ngeliat doang kok, Bun. Nggak ngapa-ngapain,”
“Iya nggak apa-apa, Bunda ‘kan cuma nanya aja ke kakak soalnya Bunda penasaran. Siapa Malvin itu? Tumben kakak ngeliatin instagram cowok. Biasanya juga cuek-cuek gitu kalau ke cowok. Ada apa ini? Kagum ya sama dia? Tadi Bunda liat fotonya sekilas, keliatan anak baik sih ya, ada foto sama cewek juga tadi kalau nggak salah,”
__ADS_1
“Duh Bunda pakek ngebahas itu lagi. Aku yang awalnya udah mulai lupa, akhirnya jadi keingat lagi deh,” batin Inaya mengeluh.
“Iya, Bun. Itu kayaknya pacar Kak Marvin,”
“Oh begitu, jadi dia kakak kelas kamu ya? Soalnya kamu panggil dia kak,”
“Iya dia kakak kelas aku, Bun. Buktinya nggak ikut sama aku pas orientasi,”
“Bunda kirain, kamu lagi stalking akun pacar lho,”
Inaya terkekeh mendengar tebakan bundanya yang asal dan jelas salah. Baru pertama kali bertemu tadi. Tidak mungkin jadi pacar secepat itu. Marvin tahu akan dirinya saja belum tentu.
“Nggak lah, Bun,”
“Jangan pacaran dulu ya, pikirkan cita-cita, pendidikan diselesaikan dulu. ‘Kan baru masuk SMA nih,”
“Iya, Bunda,”
“Kalau mikirin cowok takutnya jadi nggak fokus sama pendidikan, ya walaupun banyak juga sih sambil pendidikan tapi udah punya istri atau suami dan mereka baik-baik aja. Tapi lebih baik jangan dulu, Nak. Benar-benar diselesaikan dulu, kamu maunya sampai mana. Setelah itu barulah serius sama satu orang,”
“Iya, Bunda,”
“Bunda takutnya kamu jadi nggak fokus, Nak,”
“Insya Allah fokus, Bun. Aku juga belum mikirin pacaran atau lain-lain kok,”
“Kalau suka-suka gitu ke teman baru udah ada?”
“Nggak,”
“Yang bener?”
“Mengagumi dalam diam gitu maksud Bunda,”
“Iya nggak ada,”
“Adanya kagum sama kakak kelas, eh suka deh bisa dibilang. Tapi nggak lebih dari itu kok, Bun. Aku nggak mau cerita sama Bunda, biar aku sama Allah aja deh yang tau kalau aku tertarik sama Kak Marvin, lagian dia udah punya pacar juga. Aku nggak bakal berharap lebih,” batin Inaya.
“Kalau memang ada yang dikagumi, cerita aja sama Bunda. Jangan diam-diam. Yang penting nggak sampai pacaran atau ke hal-hal yang nggak baik. ‘Kan kita bebas kagum ke siapa aja, Nak. Asal kagumnya masih batas wajar. Apalagi umur-umur kamu nih biasanya mulai tertarik sama cowok. Nggak masalah deh kalau cuma sekedar tertarik atau suka, asal nggak lebih aja,”
“Iya nanti aku cerita ke Bunda kalau memang ada ya,”
“Iya Bunda lebih suka kamu terbuka ketimbang ngumpet-ngumpet, Nak,”
“Heheheh iya, Bun. Aku nggak akan ngumpet-ngumpet, janji deh,”
“Untuk sekarang nggak usah cerita deh. Ngebahas Kak Marvin malah bikin aku keingat terus sama foto Kak Marvin tadi,”
“Halo semuanya, apa kabar?”
Inaya dan bundanya tersentak kaget mendengar suara ceria yang tiba-tiba masuk ke dapur. Inara datang dengan senyum sumringahnya.
“Ih adek ngagetin aja sih. Udah istirahatnya?”
“Udah tidur bentar aja, aku lapar,”
__ADS_1
“Pengen puding? Tunggu bentar ya,”
“Iya mau, Bun. Bunda nggak masak lauk ‘kan? Kita makan di mall aja,”
“Iya Bunda nggak masak kok,”
“Yeayy jadi jalan ke mall,”
“Semangat banget yang mau ke mall,”
“Iya dong, namanya juga ke mall, masa nggak semangat? Harus semangat empat lima pokoknya,”
“Abis ngomong apa kakak sama bunda?”
“Ngomongin Oppa Korea,”
“Hah? Ada Oppa Korea ya di sekolah kakak?”
“Nggak ada,”
“Terus maksudnya Bunda apa, Kak?”
Rieke tertawa melihat kehebohan anak bungsunya. Sekalinya dengan Oppa Korea langsung senang. Padahal Rieke berbohong.
“Bunda bercanda aja itu,”
“Oalah kirain beneran,”
“Bunda lagi ngomong, kakak kalau kagum atau tertarik sama teman di sekolahnya, nggak masalah. Asal nggak lebih dari itu. Soalnya rasa tertarik itu emang nggak bisa dilarang-larang untuk datang, bisa kalan aja, ke siapa aja. Apalagi kakak ‘kan masih puber nih. Tapi Bunda minta nggak lebih dari sekedar menyukai atau kagum,”
“Kalau aku boleh juga, Bun?”
“Lah emang kamu udah ada yang disuka?”
“Ada, kakak kelas,”
Inaya mengerjapkan kedua matanya. Tanpa ragu adiknya menjawab. Inara terbuka sekali soal perasaannya. Tanpa basa-basi langsung menjawab kalau dirinya menyukai kakak kelas.
Entah kenapa Inaya belum punya keberanian untuk cerita ke siapapun. Ia lebih nyaman hanya Ia dan Tuhan saja yang tahu soal perasaannya. Walaupun Bundanya sudah pesan supaya Ia terbuka. Tapi Ia perlu waktu.
“Kakak kelas? Namanya siapa? Kelas berapa?”
“Namanya Alvaro kelas sembilan G, Bun,”
“Kalau kakak?”
“Hmm?”
Inaya kaget ketika bundanya langsung melempar pertanyaan untuknya. “Aku ‘kan belum ada, Bun,”
“Yang bener nih? Adek aja mulai tertarik sama lawan jenis,”
“Iya tapi aku belum deh kayaknya, Bun,”
“Ya udah cerita ya, sekalian kasih tau namanya, kelasnya, info-info tentang dia lah,”
__ADS_1
“Supaya apa, Bun?”
“Supaya Bunda tau aja,”