Ketua Basket Incaran Inaya

Ketua Basket Incaran Inaya
Bab 13


__ADS_3

Setengah acara masa orientasi hari ini sudah berjalan, dan sekarang siswa yang baru dipersilahkan untuk istirahat. Boleh bermain gadget, berjalan-jalan di dalam sekolah, makan, mengobrol, atau apapun itu asal masih dalam lingkungan sekolah, dan konteksnya positif.


Inaya dan dua temannya memilih untuk makan sambil mengobrol. Mereka menikmati bekal yang dibawa dari rumah masing-masing. Makanan yang dibawa Inaya hari ini adalah nasi, rendang sapi, dan capcay. Sementara Tari membawa kue, dan Dita membawa nasi dengan ayam goreng dan tumis brokoli.


“Sayang banget hari ini Kak Dirga nggak bisa datang ya, karena ada acara di sekolah lain. Padahal ‘kan—“


“Sstt nanti ada yang dengar lho,”


“Biarin aja, Nay. Yang lain juga pasti galau Kak Dirga nggak datang, soalnya Kak Dirga yang bikin semangat ikut MOS hari ini, padahal tadinya aku males banget tau. Aku ‘kan tadi malam sempat flu. Tapi karena aku ingat bakal ketemu kakak ketua OSIS kesayangan, jadinya aku masuk deh. Eh nggak taunya dia malah nggak ada,”


Tari tertawa dan itu mengundang pelototan kesal dari Dita. “Kenapa sih kamu ketawa?”


“Ya abisnya lucu aja gitu. Kamu udah ngarep eh nggak taunya,”


“Nggak apa-apa, ‘kan masih banyak kesempatan untuk ketemu, Dit. Soalnya kalian satu sekolah, jadi otomatis satu lingkungan,”


“Tapi ‘kan beda kelas,”


“Ya nggak masalah, di jam-jam tertentu kayak misal jam istirahat atau pulang, kemungkinan besar kamu bakal ketemu sama kakak OSIS kesayangan kamu itu,”


“Kamu nggak ada suka ke siapa gitu?” Tanya Dita menatap Inaya dengan sorot mata penasaran. Saat ini mereka berbincang dengan santai, suaranya juga pelan karena duduk berdekatan, dan sama-sama malu kalau ada yang tahu saat ini mereka sedang membahas lelaki yang disuka di sekolah baru mereka ini.


“Nggak ada,” jawab Inaya yang belum mau terbuka.


“Tari gimana?”


“Aku ada,”


“Wah siapa tuh?”


“Anak OSIS juga tapi bukan ketuanya ya,”


“Hah? Siapa? Kamu serius?”


“Iya, manis deh, coba kamu tebak,”


Inaya dan Dita langsung saling menatap satu sama lain merasa penasaran dengan sosok lelaki yang saat ini disukai oleh Tari.


Tari sengaja mempersilahkan kedua temannya untuk menebak, barangkali mereka berdua tahu hanya dengan kriteria singkat darinya yaitu lelaki itu manis.

__ADS_1


“Siapa ya? Aku penasaran,” gumam Dita.


Tari tertawa dan meminta Dita supaya tidak menyerah. “Ayo mikir lagi coba. Tebak-tebak aja dulu, sebut satu nama yang menurut kamu paling mungkin,” ujar Tari.


“Hmm siapa ya? Aku bingung,” Inaya pun belum berhasil menebak karena semua anggota OSIS yang sekarang menjadi panitia penyelenggara masa orientasi, menurut Inaya semuanya manis, semuanya tampan dan cantik.


“Aku nggak tau, soalnya menurut aku semuanya manis, cantik, ganteng. Manusia ciptaan Allah semuanya ganteng kalau cowok, kalau cewek ya cantik,”


“Nay, coba sebut aja dulu satu nama yang menurut kamu pas,”


“Hmm Kak Reno bukan?”


Tari langsung terkekeh dan menjentikkan jarinya. “Iya bener,” ujar Tari dengan sumringah. Akhirnya ada yang berhasil menjawab tebakannya.


“Wah jadi kamu—kamu suka sama Kak Reno?” Tanya Inaya dengan suara yang lebih pelan supaya aman. Takut ada anak OSIS yang dengar, jadi mesti pelan bicaranya.


“Iya soalnya manis,”


“Iya sih emang yang paling manis tuh Kak Reno, dia ganteng, tapi lebih ke manis dan nggak bosenin mukanya ya? Nggak tau kenapa aku langsung mikir ke dia pas kamu nyuruh aku untuk nyebut satu nama,” ujar Inaya.


“Iya bener dia nggak bosenin kalau diliatin, bahkan kalau ditantang ngeliatin dia seharian alias dua puluh empat jam, aku nggak bakalan nolak sih,”


“Nggak ada, aku nggak ngarep apa-apa sih dari dia. Dan lagian ya, dengar-dengar dia udah punya pawang,”


“Oh ya? Kamu tau darimana?”


“Desas-desusnya gitu sih,”


“Kamu aktif dengar desas-desus ya?”


Tari menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Inaya yang mendadak ingin tahu apakah Tari pernah mendengar desas-desus tentang Marvin? Tapi Inaya tidak punya nyali untuk bertanya seperti itu.


“Gue dengar-dengar, hampir semua anak OSIS udah punya pawang sih,”


“Kamu dengar darimana sih? Perasaan kalau di sekolah, kamu sama kita terus, Tar,” ujar Dita yang merasa ketinggalan informasi sementara Tari nampaknya update sekali.


“Dengar-dengar aja gitu dari obrolan, terus cari tau juga,”


“Hah? Cari tau darimana?”

__ADS_1


“Ya kayak di akun-akun instagram anggota OSIS, yang nggak diprivate gue stalking. Kurang kerjaan ya gue? Ya abisnya gue penasaran gitu di sosmed mereka gimana? Eh ada aja tuh gue liat foto-foto mereka sama cewek atau cowoknya,”


“Wah ternyata kamu stalking juga,”


“Emang kamu stalking siapa, Nay?”


“Hah?”


Inaya baru sadar kalau seharusnya Ia tak bicara seperti itu. Akhirnya mengundang rasa penasaran Tari dan Dita yang saat ini menatapnya dengan sorot mata penuh keingintahuan.


“Kamu stalking juga? Stalking siapa?”


“Ya kayak kamu sih buka-buka akun anak-anak OSIS juga tapi cuma dikit. Sama akun teman-teman juga. ‘Kan kemarin saling nulis username instagram tuh, jadi aku tah deh beberapa akun teman. Terus aku follos dan liat-liat, heheh. Aku rasa akun aku juga deh diliat-liat. Ya nggak apa-apa sih, ‘kan biar saling mampir gitu ‘kan,”


“Aku kalau ke akun-akun teman kita seangkatan belum sih kecuali akun kamu sama Dita yang ternyata sepi banget. Apalagi kamu, cuma dua foto doang. Itupun foto pemandangan pantai sama foto kamu yang lagi belakangin kamera hadap pantai gitu,”


“Aku emang malas posting sih sebenarnya, tapi kalau lagi narsis ya postnya dalam sehari bisa dua foto. Nah abis itu aku arsip atau aku apus kalau ngeliatnya udah bosan di feeds,”


“Ih kok sama sih kayak aku? Sumpah aku kayak gitu juga tau. Kalau udah bosan liat di feeds, aku arsip atau hapus aja,”


“Tos dulu kalau sama,”


Dita langsung menyatukan tangannya dan Inaya yang ternyata punya satu kesamaan. Yaitu suka menghapus atau mengarsip postingan akun sosial media instagram.


“Kemarin aku sempat tuh stalking anak-anak basket bentar. Anak basket pada ganteng juga lho. Ya ampun muka pada bening-bening banget,”


Inaya menyetujui dalam hati. Ia sudah melihat mereka dan memang benar apa yang dikatakan oleh Tari. Semuanya tampan, tapi yang berhasil membuatnya tertarik hanya satu yaitu Marvin dengan nomor punggung tujuh.


“Kaptennya ganteng tuh, siapa ya namanya? Lupa aku, kemarin nemu postingan di akun sekolahan,”


“Marvin,”


“Nah iya, kok kamu tau?”


Inaya tersenyum, mulutnya gatal ingin menyebut nama Marvin. Kebetulan Tari lupa jadi Ia ingatkan saja.


“Aku juga stalking akun sekolah kok, sama kayak kamu, hehehe,”


Inaya tahu wajah Marvin, tahu kalau Marvin bermain di tim basket sekolah, tapi tidak tahu jabatannya. Dan Ia berhasil mengetahui fakta itu setelah mencari tahu sendiri lewat postingan akun instagram sekolah.

__ADS_1


__ADS_2