
“Nggak apa-apa, Kak. Aman kok,”
Inaya berusaha untuk tidak kelihatan gugup walaupun jantungnya sudah berdetak tidak karuan, hatinya seperti ditumbuhi oleh banyak bunga.
Ia senang sekali ketika Marvin menghampirinya dengan berlari, dan wajah Marvin kelihatan mencemaskannya. Marvin mungkin berpikir kalau bola itu sempat mengenai Inaya.
“Serius lo nggak apa-apa?”
“Iya nggak kena bola, aku langsung ngehindar tadi,”
“Okay syukurlah kalau gitu. Sorry ya, tadi teman gue si Bani nggak sengaja,”
“Iya nggak apa-apa, Kak,”
“Lo yang tadi ketemu gue di depan kamar mandi ‘kan?”
“Iya, Kak,”
Inaya semakin tidak karuan lagi sekarang. Ternyata percakapan mereka tak sesingkat yang Ia bayangkan. Jantungnya masih berdegup tidak normal.
“Nama lo siapa?”
“Inaya, Kak,”
“Gue Marvin,”
Marvin tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya sambil menyebutkan nama. Inaya ragu menatap tangan Marvin dan mata Marvin bergantian. Ia tidak menyangka kalau tadi bisa menatap Marvin cukup dekat, lalu sekarang ini, mereka berhadap-hadapan dan Marvin memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.
“Salam kenal, Kak,”
“Iya, okay kalau gitu gue lanjut main lagi. Sekali lagi sorry ya,”
Inaya menganggukkan kepalanya. Marvin langsung mengambil bola yang berada di depan pintu kelas sepuluh IPA 3. Setelah itu kembali ke lapangan dan terlibat bicara pada salah satu temannya. Dan tak seberapa lama, datang teman Marvin itu sambil memanggil Inaya dan Tari yang akan melanjutkan langkah mereka.
“Inaya,”
Akhirnya Inaya dan Tari tak jadi melangkah. Melainkan menunggu teman Marvin itu sampai di hadapan mereka.
“Iya kenapa, Kak?”
“Gue Bani, gue minta maaf ya udah hampir ngenain bola ke lo,”
“Iya nggak apa-apa, Kak,”
“Okay sekali lagi maaf ya, gue benar-benar nggak sengaja,”
“Iya, Kak Bani,”
Bani kembali berkumpul bersama teman-temannya untuk melanjutkan permainan. Tak lupa, Ia langsung laporan dulu pada Marvin yang tadi menyuruhnya untuk minta maaf.
__ADS_1
“Aman, gue udah minta maaf,”
“Nah gitu dong, harusnya jangan nunggu gue suruh,”
“Ya karena gue liat kayaknya dia nggak apa-apa makanya nggak gue samperin eh malah lo yang cepet banget nyamperin. Gue sungkan juga mau ngomong sama dia ya walaupun sekedar minta maaf sih, soalnya dia anak baru ‘kan,”
“Ngapain segan? Kalau salah ya jangan segan minta maaf. Gue tadi langsung nyamperin dia karena gue takut aja dia kenapa-napa, gue pengen mastiin. Jangan sampai kita nyakitin orang, apalagi dia adek kelas kita,”
“Siap, Pak kapten,”
Marvin berdecak dan langsung menepuk bahu Bani yang suka sekali memanggilnya dengan embel-embel kapten padahal Ia tidak menyukainya.
Mereka lanjut fokus bermain lagi, Inaya dan Tari mengamati mereka dari depan gerbang. Inaya senang mengamati Marvin, bahkan tidak masalah sama sekali kalau Ia dijemput lebih lama lagi.
“Nggak apa-apa deh, jemput aku nanti-nanti aja, Pak Sugeng, biar aku puas dulu ngeliatin Kak Marvin main basket,” batinnya.
“Eh apaan sih kamu, Nay! Ingat dia udah punya pacar,”
Inaya kembali membatin sambil menepuk pelan keningnya. Tari yang melihat itu langsung menegurnya.
“Eh kamu kenapa, Nay?”
“Hah? Nggak, aku nggak apa-apa kok, hehehe,”
“Serius?”
“Iya aku nggak apa-apa,”
“Iyalah, aku kaget banget, jujur. Aku nggak sangka bakal disamperin sama Kak Marvin,”
“Dia mau mastiin kamu baik-baik aja kayaknya,”
“Iya, padahal bolanya nggak kena aku, aman-aman aja,”
“Ya dia ‘kan kapten ya, kalau sampai kamu kenapa-napa, otomatis dia kena hukuman juga, Nay. Dan mungkin dia orangnya emang perhatian sih, nggak malu juga untuk minta maaf. Keren cowok kayak gitu,”
“Ya gimana aku nggak duka coba? Udah ganteng, pintar main basket, eh baik banget pula. Duh, beruntung banget pacarnya Kak Marvin. Tapi Kak Marvin juga pasti beruntung punya pacarnya sekarang. Mereka sama-sama beruntung, keliatan cocok banget,”
“Kamu deg-degan nggak sih tadi?”
“Hmm kaget aja sih sebenarnya. Karena Kak Marvin tiba-tiba datengin aku, terus minta maaf, mastiin aku nggak apa-apa, bahkan ngajak aku kenalan juga,”
“Cie yang udah pegang tangannya Kak Marvin,” ledek Tari sambil menjawil dagu Inaya dan itu membuat Inaya terkekeh.
“Kamu jangan gitu, ‘kan Kak Marvin itu udah punya pawang kalau kata kamu, alias pacar. Jadi jangan dicie-ciein ke aku, Tar. Takut ada kesalahpahaman,”
“Kamu naksir nggak sama dia?”
“Nggak,”
__ADS_1
“Yang benar? Tadi keluatan gugup banget kamu, Nay. Salting juga ya?”
“Masa sih? Kaget kali, bukan gugup apalagi salting,”
Inaya berusaha menepis. Walaupun sebenarnya Ia memang gugup sekali tadi, tapi akan lebih baik Tati tidak tahu. Nanti Tari bisa membaca perasaannya.
Karena biasanya yang gugup itu adalah mereka yang memiliki rasa terhadapan seseorang yang mengajaknya untuk bersalaman, mengobrol, bahkan bersalaman.
“Eh papa aku udah datang, aku duluan ya, Nay,”
“Okay, hati-hati,”
Tari dan Inaya akhirnya berpisah. Tari dijemput lebih dulu. Tapi ternyata di belakang mobil papanya Tari, sudah ada Pak Sugeng dayang datang untuk menjemput Inaya.
“Ternyata aku juga udah dijemput, Tar. Kita sama-sama pulang,” ujar Inaya ketika melihat mobil jemputannya. Tari tertawa sambil membuka pintu mobilnya.
“Babay, hati-hati, Nay,”
“Iya, kamu juga,”
Mereka berdua masuk ke dalam mobil masing-masing meninggalkan sekolah, dan terpaksa juga bagi Inaya meninggalkan area sekolah karena itu artinya Ia tidak bisa melihat Marvin lagi.
“Maaf ya Bapak agak telat datangnya, Kak. Soalnya tadi macet banget, padahal udah lebih awal berangkat dari rumah,”
“Iya nggak apa-apa, Pak Sugeng. Malah aku senang karena Pak Sugeng datang telat,”
“Lho senangnya kenapa?”
“Ada deh, hehehe,”
Tak semudah itu Inaya menjelaskan alasan Ia bahagia kali ini dijemput oleh Pak Sugeng sedikit terlambat. Padahal biasanya kesal walaupun tak pernah mengungkapkan kekesalannya secara langsung.
“Duh main rahasia-rahasiaan nih ceritanya?”
“Hahaha nggak, Pak. Bukan apa-apa, tadi aku salah ngomong,”
“Ah masa sih salah ngomong? Apa Kakak abis ngobrol sama pacar kali ya? Karena Pak Sugeng telat otomatis waktu ngobrolnya jadi bertambah,”
Sontak Inaya tertawa mendengar tebakan Pak Sugeng. Entah kenapa tebakannya hampir benar. Ia memang bahagia dijemput terlambat kali ini karena bisa bertemu dengan Marvin, bahkan bisa mengobrol sebentar tadi, tak hanya itu, sempat memperhatikan Marvin bermain basket sebentar tadi sebelum akhirnya pulang karena Pak Sugeng sudah datang menjemputnya.
“Aku nggak punya pacar, Pak,”
“Oh iya nggak dibolehin sama ayah bundanya ya?”
“Iya, aku juga mau fokus belajar,”
“Iya bagus begitu, Kak. Masih banyak waktu, nggak usah pacaran dulu deh, orang masih sekolah. Pacaran tuh banyak negatif daripada positifnya kalau menurut Bapak. Jadi nggak fokus ke pelajaran pas berantem sama pacar, terus dapat dosa juga ‘kan, belum lagi nanti kalau ada galau-galauannya. Ah ribet deh kalau pacaran tuh,”
“Makasih nasehatnya, Pak. Aku takut juga mau pacaran. Takut dampaknya kayak apa yang bapak sebutin tadi,”
__ADS_1
“Tapi kalau suka-suka aja mah wajar, Kak. Anak seusia kakak biasanya udah mulai tuh,”