
“Bunda, mau kemana? Kok buru-buru banget keliatannya?“
Kurang lebih Inaya tidur satu jam. Ia bangun ketika adzan dzuhur dan langsung melaksanakan kewajibannya sebagai umat manusia yang beragama Islam. Ia merasa haus ingin membuat es teh makanya keluar dari kamar. Ketika Ia akan menuruni tangga, Ia melihat Bundanya sedang menuruni tangga dengan langkah kaki yang cepat dan Ia segera menyusul sambil bertanya.
“Bunda mau jemput adek kamu dulu ya, Kak. Pingsan dia habis pelajaran olahraga,”
“Ya Allah, kok bisa ya, Bun? Biasanya nggak begitu kok,”
“Iya makanya, emang lagi nggak bagus aja kali kondisi badannya. Wali kelasnya telpon Bunda, terus adek sempat ngomong pengen Bunda yang jemput. Ya udah Bunda berangkat sekarang ke sekolah,”
“Ya ampun semoga adek nggak apa-apa ya, Bun,”
“Aamiin, kamu di rumah baik-baik ya, Bunda cuma pergi sebentar aja kok,”
“Iya, Bunda,”
Rieke kelihatan panik. Jelas saja, anak bungsunya habis dinyatakan pingsan ketika menjalankan kegiatan olahraga padahal biasanya tidak pernah mengalami hal seperti itu.
“Duh si adek ada-ada aja ya. Kenapa bisa pingsan begitu coba? Moga nggak kenapa-napa deh,”
Inaya sebagai kakak tentunya cemas juga. Langsung berpikir ke adiknya terus yang entah bagaimana kondisinya sekarang.
Inaya bergegas ke dapur untuk mewujudkan niatnya tadi yaitu membuat es teh. Tidak perlu waktu lama, minuman yang Ia inginkan sudah jadi. Ia langsung membawanya ke meja makan dan Ia nikmati es teh itu bersama makanan ringan yang ada di meja makan sambil Ia mengecek ponsel barangkali ada kabar dari Bundanya nanti setelah sampai di sekolah mengenai keadaan sang adik.
******
“Aku hari pertama datang bulan, Bun. Datangnya tadi pagi beberapa menit setelah belajar. Hari ini ‘kan emang ada kegiatan olahraga jadi aku tetap olahraga aku pikir nggak apa-apa ‘kan biasanya juga nggak ada masalah. Eh tapi pas baru mulai senam, aku udah lemas, tapi aku tahan aja. Nggak lama, aku udah nggak tau apa-apa lagi. Yang aku ingat teman di belakang aku, Rania manggil-manggil aku sambil nahan aku supaya nggak jatuh,”
Sekarang Inara sudah berbaring di dalam mobil tepatnya di kursi tengah dan kepalanya dipangku oleh sang bunda. Ia langsung menceritakan apa yang Ia alami tadi sebelum tidak sadarkan diri.
“Sekarang apa yang sakit? Ke dokter ya?”
“Nggak mau, Bun. Jangan apa-apa ke dokter dong, Bun. Aku nggak mau pokoknya, pengen ke rumah aja,”
“Ya biar diperiksa kamu kenapa,”
“Aku nggak apa-apa, cuma lagi lemas aja, Bun,”
“Biasanya nggak ada acara pingsan-pingsan, kok tadi malah pingsan. Bunda panik banget, Dek,”
“Maaf ya, Bun. Tapi aku nggak apa-apa kok, Bun, seriusan deh,”
“Makanya kalau nggak kuat itu jangan dipaksa, Bunda nggak suka kalau kamu memaksakan diri kayak begitu. Udah tau mulai lemas, ya harusnya izin aja sama guru olahraga kalau kamu nggak bisa ikut olahraga sampai akhir, kamu istirahat. Guru juga pasti paham kok,”
“Iya tapi aku mikirnya tanggung, Bun. Lagian aku suka senam, berhubung cuma sekali dalam seminggu,”
__ADS_1
“Ya udah nanti sampai rumah kamu langsung istirahat ya,” ujar Rieke sambil mengusap kening anak perempuan bungsunya.
“Iya, Bun,”
“Kakak di rumah pasti khawatir juga tuh,”
“Kakak udah pulang ya, Bun?”
“Udah dari tadi, Nak. Cepat pulangnya, mungkin karena cuma masa orientasi aja kali. Jam sebelas kurang udah di rumah,”
“Emang kakak tau aku pingsan?”
“Tau, tadi ‘kan Bunda pamit sama kakak. Bunda kasih tau kakak dulu deh kalau kamu udah sama Bunda, nggak mau diajakin ke rumah sakit,”
“Iya kali aja kakak khawatir ‘kan terus sekarang mikirin aku,”
“Ya pastilah, kakak sayang sama kamu kalau kamu kenapa-napa pasti kepikiran. Begitupun sebaliknya,” ujar Rieke seraya memberi kabar pada anak pertamanya yang sudah pasti menunggu dengan perasaan cemas di rumah.
“Bun, tapi aku tetap boleh ikut jalan-jalan ‘kan nanti?”
Inara menatap bundanya dengan sorot mata memohon. Rieke langsung berdecak pelan dan membuang muka. Baru juga pingsan, sudah memikirkan jalan-jalan.
“Bunda, boleh ‘kan?”
Inara langsung memutar kepalanya. Ia menggunakan cara lain untuk membujuk sang bunda dengan cara mencium perut bundanya berkali-kali sampai Rieke merasa geli.
“Ya makanya bolehin ya, Bun. Aku pengen ikut ke mall, masa nanti aku tinggal sendirian sih, Bun?”
“Ya nggak ada yang ninggalin kamu lah. Satu nggak ke mall, berarti semuanya juga nggak. ‘Kan Papa bilang kita pergi bareng-bareng, nah begitupun kalau nggak jadi,”
“Tapi aku ‘kan nggak apa-apa, Bun, cuma pingsan aja,”
“Cuma-cuma, enteng banget itu mulutnya kalau ngomong ya,”
Inara langsung membungkam mulut dengan kedua tangannya. Ia meringis karena mendapat pelototan tajam dari sang bunda.
“Hehehe maaf ya, Bun. Tapi plis jangan gagalin rencana ayah dong, Bun. Kita ‘kan mau rayain hari pertama kakak sekolah, Bun,”
“Liat nanti aja,”
“Haaa kok liat nanti, Bun? Sekarang aja pastiin kita jadi pergi semuanya, Bun,”
“Ealah, anak ini kok ngatur banget ya,”
Pak Sugeng yang kali ini menyupiri Rieke ke sekolah Inara dan pulang ke rumah terkekeh mendengar Rieke mencibir anak perempuan bungsunya itu.
__ADS_1
“Memang di mall itu ada apa, Dek? Hobi banget ke mall ya si Adek,” ujar Pak Sugeng.
“Seru, Pak. Dibolehin Ayah belanja terus makan. Siapa yang nggak senang, Pak? Makanya aku nggak mau nolak kalau diajakin ke mal apalagi sama ayah. Karena ayah sawerannya banyak, kalau sama Bunda suka nggak dibolehin yang aku mau,”
“Iyalah orang yang dibeli suka itu-itu lagi, atau yang nggak penting, mendingan uangnya disimpan,”
“Bunda dalam mode hemat suka nyebelin tau, Bun,”
“Biarin, yang penting uangnya nggak kepake sia-sia,”
“Huh Bunda mah gitu,”
*******
“Halo, Ayah, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, udah pulang, Nak?”
“Udah dari tadi, Yah. Aku bahkan udah tidur,”
“Oh Alhamdulillah kalau begitu? Gimana hari pertama lancar?”
“Lancar, Yah. Seru, menyenangkan deh pokoknya. Oh iya ini Bunda lagi ke sekolah adek jemput adek, Yah,”
“Tumben minta jemput bunda, kenapa memangnya?”
“Nggak apa-apa, Yah. Mungkin emang lagi kepengen aja kali dijemput Bunda,”
Alih-alih memberitahu kepada ayahnya tentang sang adik yang tadi pingsan makanya Rieke ke sekolah Inara, menurut Inaya akan lebih baik ayahnya tidak tahu dulu. Nanti pasti ayahnya khawatir sekali. Ia saja khawatir, apalagi ayahnya. Sekarang ayahnya sedang makan, kalau Ia cerita pasti ayahnya itu akan meninggalkan makan siang setelah itu bergegas ke sekolah Inara. Kemudian pekerjaannya yang belum selesai akan terabaikan juga dan Inaya tidak mau hal itu terjadi. Biar ayahnya tahu di setelah sampai di rumah saja.
“Eh ketemu sama Oppa Korea nggak tadi?”
“Ah Ayah, sama aja kayak adek,”
“Ayah ‘kan ngulangin omongannya adek tadi pagi. Ketemu nggak? Jangan lupa ceritain ke dia biar senang hatinya ada Oppa Korea di sekolah kakaknya,”
“Nggak ada, Yah,”
“Guru dan teman-teman baru kamu gimana?”
“Baik semua pokoknya, Yah,”
“Alhamdulillah kalau begitu, ada yang kamu taksir?”
Inaya langsung gugup ditanya seperti itu. Sementara di seberang sana terdengar kekehan kecil dari Ardy.
__ADS_1
“Ayah bercanda. Pikirin pendidikan dulu ya, Nak,”
“Iya, Yah,”