
“Kakak, ayo mana yang mesti ayah pilih? Ayah udah selesai bantu adek nih,”
Inaya langsung menoleh ke arah ayahnya yang memanggil dirinya. Dengan cepat Inaya menghampiri ayahnya. Tadi Inaya sibuk melihat-lihat baju tapi fokusnya malah mendengarkan obrolan antara Marvin dan perempuan yang sedang bersamanya.
Daripada disuguhkan dengan keakraban mereka berdua, lebih baik Inaya pergi saja mendekati ayahnya yang kebetulan juga sudah memanggilnya.
“Ini, Yah. Menurut ayah yang mana yang bagus?”
“Baju rumah aja minta pilihin sama ayah. Adek dong, Kak, minta tolong ke ayah untuk milih baju pergi,”
“Ih berisik banget kamu, udah deh jangan komentar,”
Inara langsung menutup mulutnya sendiri karena mendapat pelototan tajam dari kakaknya dan juga peringatan agar tak berkomentar. Tapi dasarnya Ia punya mulut yang suka berkomentar, dan tu bagian dari sifat usilnya pada sang kakak,
“Yang warna biru pastel lah yang bagus. Kamu baju yang merah muda kayaknya udah banyak deh, Kak,”
“Iya sih, ayah benar, jadi yang biru aja? Tapi emang bagusan biru, Yah?”
“Iya bagus biru, bentuk lengannya kayak balon gitu, kalau yang pink modelnya kamu udah punya deh kalau nggak salah. Ayah pernah liat kamu make model yang gitu soalnya,”
“Ayah ingat aja,”
“Ya namanya anak, suka merhatiin penampilan anak lah,”
“Okay aku pilih ini. Makasih ya, Ayah,”
“Sama-sama,”
“Tapi yang pink juga bagus. Duh gimana ya. Aku bingung banget,”
Ardy geleng-geleng kepala. Sudah minta tolong dipilihkan yang paking tepat, dan Ia berikan pendapat menurut pandangannya, tapi akhirnya Inaya bimbang.
“Artinya kamu nggak benar-benar minta pendapat ayah. Buktinya ayah udah kasih pendapat tapi kamu masih bingung,”
Inaya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang cantik. Ia tersenyum lebar sebagai permintaan maaf kepada ayahnya atas kebimbangan yang saat ini harus Ia hadapi.
“Yang mana ya? Bingung aku. Yang pink warna kesukaan aku, yang biru juga bagus banget pikihannya ayah pula,”
“Ya ydah ambil yang pink aja kalau kamu sukanya itu, Kak. Jangan dibikin pusing, Kak,”
Inaya tertawa melihat ayahnya menggaruk kepala. Nampaknya lelah menghadapi dirinya yang aneh ini. Minta pendapat setelah diberikan pendapat, malah bingung sendiri.
Beberapa detik Inaya habiskan untuk menatap baju yang Ia pegang ini. Setelah menimbang, akhirnya Ia memilih yang biru pastel. Itu pendapat ayahnya,
“Aku pilih yang ini,”
__ADS_1
“Suka nggak?”
“Iya suka juga kok, Yah,”
“Jangan karena ayah yang milih, kamu jadi milih ini. Kalau sukanya yang pink nggak apa-apa, ayah nggak masalah kok,”
“Yang biru aja, Yah. Aku suka juga sama yang biru. Dan benar kata ayah, aku banyak baju pink,”
“Ya udah pilih lagi kalau emang ada yang disuka,”
“Ayah, udah yuk,”
Rieke menghampiri Ardy dengan beberapa baju lelaki di tangannya. Ardy mengernyit menatap baju-baju itu.
“Bunda nggak beli baju? Mana?”
“Nggak ada yang Bunda suka, beliin buat ayah aja,”
“Lah kok gitu? Masa iya diantara banyak baju, nggak ada yang Bunda suka?”
“Iya nggak ada, Yah. Bunda udah nyari,”
“Bunda, Ayah ‘kan banyak duit, beli aja yang banyak,” ujar Inaya yang mengundang bundanya untuk terkekeh.
“Ya udah ayah aja yang pilihin. Baju rumah samaan tuh sama Inaya. Ayah beliin juga buat Inara,” ujar Ardy seraya meraih baju berwarna biru pastel serupa dengan yang dipegang oleh Inaya dan masih tergantung. Jadi niat Ardy adalah membelikan baju itu untuk istri dan anak bungsunya, berhubung sang istri tidak membeli apapun karena katanya tak ada yang membuatnya tertarik.
“Nggak usah, Yah,”
“Nggak apa-apa, ini bagus, satu stel, bahannya bagus, modelnya juga anak muda, Bun, jadi Bunda berasa balik ke masa muda lagi. Dah pokoknya ini aja,”
Ardy bingung mau memilih baju apa untuk istrinya. Tapi kalau membiarkan sang istri pulang dengan tangan kosong, sementara Ia dipilihkan beberapa baju, rasanya tidak tega. Daripada bingung memilih, dan tidak istrinya tak beli apapun, jadi Ardy ambil saja yang serupa dengan anak pertamanya.
“Ayah, aku udah,”
Inara sudah selesai menjelajah dan kini Ia mendekati kedua orangtua dan juga kakaknya dengan membawa tiga baju. Dua baju untuk pergi, dan satunya lagi baju santai untuk di rumah.
“Nih dibeliin ayah samaan,”
Inara menerima baju yang diulurkan oleh sang ayah. Matanya langsung menatap kagum “Yeay ini buat aku?”
“Iya samaan kayak punya kakak dan bunda. Bunda nggak beli baju karena nggak ada yang menarik katanya. Ayah pilih aja lah itu,”
“Aku kurangin bajunya ah. Ini kebanyakan. Aku balikin baju santai pilihan aku,”
Inara pikir belanjaannya terlalu banyak. Karena Ia sudah membawa tiga, ditambah lagi yang baru diberikan oleh ayahnya. Jadi Ia putuskan untuk mengembalikan satu baju santai pilihannya. Sementara yang diberikan oleh ayahnya tentu akan Ia bawa pulang. Ia suka warna dan model yang sederhana, dan sama juga dengan kakak juga bundanya.
__ADS_1
“Bun, beneran nggak mau beli apa gitu?”
“Nggak, ayah aja,”
Rieke menatap empat baju kaos untuk sang suami yang menyukai kaos karena bahannya nyaman dan Ardy memang tidak suka suka yang ribet.
“Beneran nih cuma yang ayah beliin doang, Bun?”
“Iya bener,”
“Ya udah ayo kita ke kasir,” Ardy akan membawa semua belanjaan anak dan istrinya tapi mereka menolak ingin membawa sendiri.
Akhirnya Ardy mengajak tiga perempuan berharga dalam hidupnya itu untuk pergi ke kasir. Begitu tiba di meja kasir yang kebetulan kosong dari antrean, Ardy langsung mengeluarkan kartu debitnya.
Selagi belanjaan dihitung semua hargaya, Inaya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Marvin.
“Kak Marvin udah pulang ya? Atau belum?”
“Apa, Kak?”
Inaya langsung tersentak kaget mendengar pertanyaan adiknya yang sekarang mendekatkan telinga ke arahnya.
“Hah?”
“Kakak ngomong apa? Aku nggak dengar tau,”
“Aduh gawat, aku keceplosan ngomongin Kak Marvin,”
“Nggak, kamu salah dengar kali Siapa yang ngomong? Kakak nggak ngomong kok,”
“Ih bohong. Tadi aku dengar kakak ngomong kok,”
“Nggak, kamu salah dengar, Dek,”
“Tadi aku dengar Vin Vin gitu,”
“Untung aja adek nggak dengar aku ngomong apa. Kalau dia dengar, pasti dia penasaran,” batin Inaya.
“Udah ah nggak usah cerewet,”
Inara merengut karena kakaknya melotot. Padahal Inara penasaran tadi kakaknya bicara apa. Ia tadi dengar kakaknya mengeluarkan bicara tapi Ia tidak tahu apa yang dibicarakan.
Inaya kembali melanjutkan pencarian dengan matanya. Matanya berbinar ketika melihat Marvin berjalan sendirian sambil melihat-lihat baju perempuan.
“Eh itu Kak Marvin. Ya ampun, kenapa keliatan berwibawa banget ya? Kharismanya keliatan banget lagi,” batin Inaya memuji ketua basket di sekolah barunya itu.
__ADS_1