
Bertepatan dengan selesainya belanjaan Inaya ditotal, datang lelaki yang sudah menjadi pusat perhatian Inaya ketika pertama kali melihatnya sedang bermain basket bersama teman-temannya.
Inaya langsung gugup padahal Marvin pun belum kenal dengannya karena Ia sedniri adalah anak baru di sekolah Marvin. Marvin tidak semdirian, Marvin datang ke kasir bersama dengan perempuan yangw ajahnya sama persis dengan peremluan yang Inaya lihat di postingan akun instagram Marvin.
Akhirnya Inaya tak penasaran lagi siapa perempuan yang bersama Marvin di store baju ini. Tadi posisinya membelakangi Inaya sehingga Inaya belum bisa tahu bagaimana rupa perempuan itu.
Setelah bertemu di kasir, barulah Inaya bisa melihat dengan jelas pahatan yang begitu cantik ciptaan Tuhan.
Inaya langsung membatin sambil menunduk melewati Marvin dan perempuan yang belum Inaya tahu pasti siapa namanya.
“Cocok banget sama Kak Marvin. Karena dia cantik banget,”
Inaya sudah semakin yakin kalau perempuan tu adalah kekasih Marvin. Karena fotonya ada di akun instagram Marvin, dan ditemani Marvin belanja baju. Mereka sudah selayaknya sepasang kekasih.
Inaya tidak heran kalau Marvin memacari perempuan itu. Cantik, nampaknya juga orang yang positif dan kelihatan benar-benar cocok dengan Marvin.
Sampai keluar dari store, Inaya masih kepikiran dengan Marvin dan perempuan yang bersamanya itu. Inaya mengasihani nasibnya sendiri. Ia harus secepatnya menghilangkan perasaan kagum atau suka yang Ia miliki untuk Marvin sebelum lebih daripada itu. Mengingat Marvin bukanlah seorang lelaki tanpa kekasih.
“Happy nggak, Bunda, Kakak, Adek?”
“Happy dong, Ayah, makasih ya, Yah,”
Ketiganya kompak mengucapkan terimakasih kepada Ardy yang baru saja bertanya untuk memastikan saja kalau tiga perempuan berharga dalam hidupnya adalah merasa bahagia setelah Ia ajak pergi malam ini.
“Sama-sama, doain semoga ayah bisa terus bikin kalian bertiga happy ya,”
“Semoga ayah panjang umur, sehat, murah rezeki terus,” ujar Inara seraya menangkup kedua tangannya.
“Aamiin ya Allah,”
Inaya dan bundanya mengamini doa dari si bungsu itu. Ardy tersenyum sambil merangkul istrinya.
“Yang berperan penting dalam hidup Ayah itu adalah Allah, orangtua Ayah yang nggak pernah Ayah lupain walaupun semuanya udah nggak ada, dan juga Bunda, terakhir anak-anak ayah dong pastinya,”
Inara dan Inaya tersenyum mendengar ucapan ayahnya yang kini mengusap kepala mereka dengan lembut.
“Makasih juga untuk Bunda, Kakak, Adek. Udah ada di setiap proses yang ayah lalui,”
“Sama-sama, Ayah,”
Inara dan Inaya sama-sama merangkul pinggang ayah mereka. Kedua putrinya itu tidak segan melakukannya meskipun saat ini sedang berjalan ke basement mall untuk menghampiri mobil yang diparkir di sana.
Mereka akhirnya pulang setelah menghabiskan waktu sekitar tiga jam di mall, akhirnya mereka berempat pulang ke rumah.
“Ayah, boleh beli roti bakar buat makanan aku nanti malam? Aku banyak tugas, terus mau ulangan juga, Yah,”
“Boleh dong, Sayang. Mau beli dimana?”
“Di jalan kalau ketemu,”
“Kalau nggak ketemu pesan online aja ya?”
“Boleh ya, Yah?”
“Boleh dong, masa nggak boleh,”
“Kakak mau apa buat nemenin ngerjain tugas?”
__ADS_1
“Nggak ada, Yah. Ntar minta roti bakarnya adek aja,”
“Belum apa-apa udah mau dimintain,”
“Adek, kok pelit gitu sama kakaknya?”
“Heheheh bercanda, Bun. Iya kakak boleh kok minta,”
“Kakak nggak ada tugas, ‘kan belum mulai belajar, besok masih ada masa orientasi,”
“Enak belum belajar, Kak?”
“Nggak enak menurut kakak,”
“Tapi ‘kan ada penggantinya, Kak. Kegiatan masa orientasi itu biasanya seru-seru,”
“Iya emang, tapi udah nggak sabar ketemu pelajaran SMA,”
“Kakak OSIS kakak yang jadi panitia pada baik-baik ya?”
“Iya dong, asyik, seru, baik,”
“Biasanya ‘kan ketua OSIS banyak yang suka, di sekolah kakak gitu nggak?”
Inaya menggelengkan kepala lalu mengangguk. Jawabannya itu membuat Inara berdecak karena bingung.
“Apa sih, Kak? Jawabannya nggak jelas banget ngangguk sama geleng, jadi yang benar yang mana?”
“Kakak belum tau, Dek,”
“Lagian ngapain juga kakak tau gituan, terserah orang mau suka sama siapa, Dek,”
“Kalau kakak sendiri suka sama ketua OSIS?”
“Biasa aja,”
“Ganteng kayak Oppa Korea?”
“Ih dia mah ngomongin Oppa Korea mulu, pusing deh dengarnya,”
Ardy dan Rieke yang duduk di kursi depan tertawa mendengar obrolan aneh kedua putri mereka. Yang bungsu bawa-bawa Oppa Korea terus, yang anak pertama lagi mulai pusing dengan Oppa Korea yang keluar dari mulut adiknya.
“Tapi ganteng?”
“Ganteng, udah kakak jawab. Kamu jangan nanya lagi,”
“Seganteng siapa?”
“Ya pokoknya ganteng, taoi akkak biasa aja, nggak yang gimana-gimana ke dia. Emang kenapa sih kamu tanya begitu? Jangan-jangan kamu lagi naksir sama ketua OSIS kamu ya?”
“Nggak lah, kakak sok tau nih,”
“Lah terus kenapa nanyain ketua OSIS kakak?”
“Ya soalnya penasaran aja gitu ganteng atau nggak kayak Oppa Korea?”
“Tuh ‘kan, Oppa Korea lagi yang dibahas. Pusing ah, jangan ngomong lagi deh kamu, Dek,”
__ADS_1
Inara merengut karena kakaknya mendekatkan telunjuk dengan bibirnya menyuruh Ia untuk diam tak bicara apapun lagi.
“Ih kakak kok gitu sih. Aku ‘kan penasaran tau,”
“Ya udah kakak jawab ‘kan? Dia ganteng, tapi kakak biasa aja ke dia,”
“Duh, udah mulai bahas-bahas cowok ya. Bahas Ayah aja bisa nggak?”
Ardy tidak bisa membayangkan kalau nanti anaknya sudah mulai dewasa pasti pembahasan tentang lelaki ataupun perasaan cinta semakin sering terdengar. Dan rasanya Ia belum siap. Anak-anak perempuannya yang dulu Ia timang, sekarang sudah mulai membahas lawan jenis, mulai ada ketertarikan juga.
“Jangan, nggak enak bahas kalau ada orangnya di sini,”
“Oh jadi seringnya bahas ayah di belakang ayah ya? Waduh, ayah diomongin apa aja nih sama anak-anak ayah? Nggak diomongin yang jelek-jelek ‘kan?”
“Nggak mungkin dong, Ayah. Mana pernah aku sama adek ngomongin ayah yang jelek-jelek. Orang ayah baik, kenapa harus dijelekin coba,”
“Balik bahas ketua OSIS. Jadi kakak sukanya sama siapa dong kalau bukan ketua OSIS? Biasnaya nih ya, ketua OSIS itu banyak disukain apalagi sama anak-anak yang baru masuk,”
“Ya itu mungkin teman-teman kakak, Dek,”
“Kalau kakak sukanya sama ketua apa dong? Ketua kelas?”
“Ih apa sih ni bocah! Sok tau bangwt. Nebak-nebak sendiri udah gitu salah lagi,”
“Ya namanya juga nebak. Cuma ada dua pilihan, kalau nggak salah, ya berarti bener, hahahha,”
Inaya langsung menutup mulut adiknya dengan tangannya dan itu langsung membuat Inara diam. Barulah Inaya menjauhkan tangannya dari mulut sang adik.
“Kalau kamu berisik, nanti diturunin ayah di pinggir jalan,”
“Nggak bakal tega ayah ngelakuin itu, Kakak. Ayah ‘kan sayang anaknya, masa iya aku ditinggalin di pinggir jalan,”
“Ya bisa aja lah,”
“Nggak bakal, ih jawab dulu pertanyaan aku. Jadi kakak sukanya sama ketua apa? ‘Kan kalau ketua OSIS kakak biasa aja tuh. Apa ketua kelas ya?”
“Nggak! Ih sok tau banget,”
“Terus ketua apa dong?”
“Ketua RT di rumah tuh. Puas?”
“Hah? Serius? Kok kakak sukanya sama yang tua sih?”
“Bercanda! Jangan dianggap beneran. Ntar kamu malah samperin itu Pak RT terus kamu omelin gara-gara aku udah bikin aku suka,”
“Hahahaha nekat banget kalau aku kayak gitu. Nggak lah, pasti kakak naksirnya sama yang di sekolah. Ketua kelas juga bukan? Berarti—-ketua ekskul gitu kali ya? Ekskul futsal misalnya, biasanya ganteng-ganteng juga tuh, atau—“
“Nggak, ketua basket yang ganteng,”
“Cieeeee hahahaha. Ada yang abis muji ketia basket nih,”
Inaya spontan melipat bibirnya masuk ke dalam ketika Ia malah kelepasan. Tidak seharusnya Ia terpancing dengan pertanyaan Inara. Tapi beruntungnya Ia tidak kelepasan memberitahu siapa ketua basket di sekolahnya.
“Siapa namanya, Kak?”
Oh tentu tidak akan semudah itu Inaya beritahu. Cukup Ia dan Tuhan saja yang tahu kalau Ia sedang mengagumi atau menyukai seseorang dan dia adalah ketua tim basket di sekolah, namanya Marvin.
__ADS_1