Ketua Basket Incaran Inaya

Ketua Basket Incaran Inaya
Bab 16


__ADS_3

“Assalamualaikum, Bunda,”


“Waalaikumsalam, Nak. Yeayy udah pulang ternyata,”


Inaya langsung mencium tangan bundanya setelah itu langsung duduk di ruang tamu. Rieke mengamati raut wajah Inaya yang kelihatannya berseri-seri.


“Kamu kayaknya lagi senang banget nih. Keliatan auranya,”


“Masa, Bun? Emang iya?”


“Iya, keliatannya sih begitu. Ada apa nih? Kasih tau Bunda dong, cerita-cerita lah ke Bunda,”


“Hmm sebenarnya nggak ada apa-apa kok, Bun,”


“Yang benar? Auranya tuh beda, Sayang. Kayak lagi happy,”


“Hahahah, sebebarnya aku emang happy terus sih, Bun. Aku nggak ada sedih-sedihan kok, Bun,”


“Abis ketemu duit ya?”


“Hahahah Bunda makin nggak jelas nih omongannya. Orang aku happy terus kok,”


“Apa abis ketemu Oppa Korea kayak yang dibilangs ama adek?”


“Nggak, Bunda,”


“Terus apa dong? Bunda penasaran tau,”


“Abis ketemu ondel-ondel,”


“Hah? Masa karena ketemu ondel-ondel kamu happy?”


“Ya karena jarang jadinya happy sekali ketemu, Bun,”


Rieke menatap anaknya dengan tatapan mata yang memicing. Ia sedang berusaha mencari kejujuran di mata Inaya. Semakin Inaya mengelak, semakin ketahuan kalau Inaya memang sedang bahagia tapi berusaha ditutupi alasan apa yang membuatnya bahagia sekarang ini.


“Atau—abis ditembak cowok ya?”


“Hah? Mati dong aku, Bun,”


“Ih sembarangan aja ah kalau ngomong. Bunda serius nih, Kak,”


Inaya tertawa karena bundanya tak menyerah mencari tahu padahal Ia sudah berusaha untuk menutupi.


“Nggak, aku nggak ditembak cowok,”


“Beneran?”

__ADS_1


“Iya beneran,”


“Terus apa dong?”


“Ya nggak ada,”


“Kayaknya beneran deh ini. Antara dua hal, ketemu duit, atau ditembak cowok. Ingat, nggak boleh pacaran. Kalau ketemu duit, jangan lupa setoran sama Bunda. Hahahaha bercanda, Sayang,”


“Nggak ketemu duit, nggak ditembak cowok juga, Bun. Duh Bunda kenapa nggak percaya sama aku sih?”


“Ya abisnya kamu datang-datang senyumnya beda, terus pas udah duduk juga senyum, nggak ada keliatan capeknya ya,”


“Emang nggak capek, Bun, soalnya belum mulai belajar. Besok baru deh mulai belajar. Tadi ‘kan masih masa orientasi,”


“Ya udah kalau nggak mau cerita ke Bunda,”


“Aku simpan aja kesenengan aku barusan, Bun. Jujur emang aku masih ngerasa happy banget abis ngobrol sama Kak Marvin tadi,” batin Inaya.


“Ya udah kalau begitu aku ke kamar dulu ya, Bun,”


******


“Tau nggak, tadi Inaya hampir kena bola basket. Tapi untungnya aman sih, Inaya ngehindar. Nah ada yang bikin geger nih, Dit. Kamu harus siap-siap dengerin ya,”


“Wah apa tuh?”


“Inaya disamperin sama Kak Marvin. Ditanyain baik-baik aja nggak? Terus diajak kenalan. Kak Marvin juga minta maaf ke Inaya. Dia bilang temannya nggak sengaja. Ternyata Kak Marvin baik banget lho, padahal keliatannya tuh kayak cuek, ala-ala cowok cool gitu,”


Namanya anak baru, melihat teman dihampiri oleh kakak kelas tampan, dan namanya cukup dikenal tentu saja akan menjadi perbincangan hangat.


“Serius nggak sih?”


“Iya lah serius,”


“Terus gimana reaksinya Inaya?”


“Keluatan kaget, gugupnya juga ada sih,”


“Ya iyalah, disamperin sama kakak senior ganteng masa nggak gugup,”


“Inaya bakal naksir sama Kak Marvin nggak ya? Menurut kamu gimana?”


“Nggak tau, Tar. Ya kalaupun naksir nggak apa-apalah,”


“Tapi ‘kan Kak Marvin punya pacar,”


“Cuma naksir, nggak gangguin, nggak berharap lebih, aku rasa sih nggak apa-apa ya. Karena tertarik sama orang itu nggak bisa ditahan dan nggak bisa dipaksa juga,”

__ADS_1


“Tapi kasian pacarnya ‘kan?”


“Nggak direbut, cuma kagum diam-diam mah nggak masalah, ya istilahnya jadi secret admirer lah. Anggap kita suka ke artis, kita ngidolain dia, nggak berharap lebih, apalagi sampai mau ngancurin hubungannya sama pacar nah itu yang nggak boleh. Kayak aku nih, suka sama ketua OSIS lah dia ‘kan udah punya pacar, aku nggak mau gangguin dia sama pacarnya kok, cuma sekedar kagum aja diam-diam,”


“Duh sakit tau kalau cuma jadi penggemar rahasia apalagi ke orang yang udah punya pasangan, sukanya diam-diam, mending nggak usah sama sekali deh,”


“Ih aku ‘kan sebelumnya nggak tau kalau pak ketua udah punya pacar, taunya setelah dengar-dengar dari yang lain aja. Nah kalau si Inaya juga misal suka sama Kak Marvin, dia mungkin awalnya juga nggak tau kalau Kak Marvin punya pacar. Udah aku bilang, rasa suka, kagum, tertarik, atau bahkan cinta, itu tuh nggak bisa ditahan-tahan,”


“Hahaha kita kenapa jadi bahas cowok sih? Duh padahal lagi mau masuk SMA,”


“Nggak apa-apa, yang penting belajarnya nggak lupa, kalau suka-suka ke lawan jenis itu di usia kayak kita sekarang wajar banget, apalagi lingkungan kita semuanya pada ganteng-ganteng banget ya, Allah,”


“Iya ya, kayaknya aku salah pilih sekolah deh, Dit, harusnya nggak di sekolah itu. Jadinya ketemu cowok ganteng mulu takut nggak fokus belajar,”


“Nggak, Insya Allah nggak salah pilih. Belajar tetap nomor satu, cogan nomor sekian buat pemanis hari-hari kita hahahaha, eh tapi nggak manis juga sih, soalnya di sekolah pasti bakal ngeliat pak ketua sama pacarnya yang bukan OSIS. Ini belum bikin nyesek soalnya nggak liat dia sama pacarnya yang kebetulan bukan OSIS jadi bukan panitia masa orientasi dan belum ketemu langsung,”


“Cantik banget tuh pacarnya,”


“Ya emang, pada cakep-cakep pacar mereka mah. Ya cocok lah sama mereka nya. Kita mah apa atuh. Cuma remahan rengginang,”


“Ih kata siapa? Kamu juga cantik tau!”


“Jangan gitu, Tar. Ntar aku terbang menyusuri awan kalau kamu puji-puji,”


Obrolan antara Tari dan Dita jadi makin aneh. Mereka kalau sudah mengobrol pasti bisa menghabiskan banyak waktu dan topik obrolannya memang tidak jelas.


“Eh kita ngobrol sama Inaya yuk, kita video call,”


“Boleh, coba ajakin aja dulu,”


*******


“Nih minuman boba kamu, baik ‘kan aku? Buktinya beliin kamu itu,”


Inaya meletakkan lima gelas minuman boba dengan beragam rasa di atas meja ruang keluarga.


Inara, sang adik yang melihat itu tentunya langsung senang bukan main. Tanpa banyak menghabiskan waktu, Inara langsung mengambil satu gelas.


“Yeayyy makasih, Kakak cantik. Ya ampun, jadi makin tambah cantik deh kalau udah baik gini,”


“Halah bisa aja mujinya, eh itu dibagi-bagi ya, Dek. Jangan habis sama kamu sendiri, jangan pelit ya,”


“Iya tau, Kak. Aku nggak pernah pelit kok. Aku pilih yang rasa strawberry aja,”


“Sisanya kakak taruh kulkas,”


Inaya membawa minuman yang tak dipilih oleh Inara ke dapur. Ia letakkan di dalam kulkas jadi siapapun yang mau, bisa ambil di sana. Adiknya dilarang minum itu banyak-banyak, bahkan pernah dimarahi oleh ayah mereka. Belinya memang tidak setiap hari tapi sekalinya beli bisa menghabiskan tiga gelas dalam sehari.

__ADS_1


Inara menoleh ke bawah, pahanya tak sengaja menindih ponsel sang kakak yang baru saja berdenting. Ada pemberitahuan masuk dari aplikasi instagram.


-Marvinsylndr membagikan foto-


__ADS_2