
“Aku mau ke kamar mandi dulu, udah nggak kuat pengen buang air kecil, sebenarnya ditahan dari tadi,”
“Ya ampun, lagian kenapa harus ditahan sih? Izin aja harusnya,”
“Aku segan mau izin sama kakak OSIS, lagian baru juga kok kebelet nya, tadi pas mau pengumuman boleh pulang,”
Dita sudah pulang lebih dulu karena jemputan sudah datang, sementara Tari dan Inaya belum dijemput.
Tari langsung mengikuti Inaya ke kamar mandi, sekalian Ia juga ingin buang air kecil. Akhirnya mereka ke kamar mandi berdua dan ternyata semua bilik kamar mandi sedang terisi. Akhirnya terpaksa mereka menunggu.
“Duh semoga pada nggak lama ya,” gumam Inaya sambil bertolak pinggang. Sungguh, keinginan untuk buang air kecil benar-benar mendesaknya.
“Kalau aku sih nggak kebelet banget, sabar ya, Nay,”
“Iya, Tar. Sabar aku nunggu salah satu dari lima orang ini keluar,”
“Nanti kalau baru kosong satu, kamu masuk duluan aja,”
“Okay makasih ya, Tar,”
“Iya sama-sama,”
Inaya tidak bisa diam selama menunggu. Inaya sambil menggerakkan kakinya sambil berhitung, sementara Tari merapikan rambutnya di cermin sambil menunggu giliran masuk ke kamar mandi.
Ketika bunyi kunci salah satu pintu kamar mandi terdengar, Inaya senang bukan main. Ia tersenyum pada pengguna kamar mandi yang baru saja keluar itu yang ternyata adalah kakak kelasnya. Sebab kalau satu angkatan dengannya pasti masih mengenakan seragam waktu SMP selama masa orientasi, sementara yang Inaya lihat siswi itu mengenakan seragam SMA mereka.
“Maaf lama ya, Dek,” ujar siswi itu setelah mempersilahkan Inaya untuk masuk.
“Nggak apa-apa, Kak,”
Inaya langsung masuk ke dalam bilik toilet sementara kakak kelas Inaya itu pergi meninggalkan kamar mandi, dan Tari masih berdiri di depan cermin. Kali ini Tari menggunakan pelembab sekaligus pewarna di bibirnya.
Tak lama kemudian Inaya keluar dengan wajah lega. “Tari, aku udah selesai, kamu masuk gih,”
__ADS_1
“Okay bentar,”
Tari sedang meratakan pelembab di bibirnya itu. Setelahnya barulah Tari masuk ke kamar mandi. Inaya menunggu Tari yang juga hanya buang air kecil sehingga cepat, kemudian mereka berdua meninggalkan kamar mandi.
Bertepatan dengan itu, keluar juga seorang siswa dari kamar mandi laki-laki dan hampir saja bertabrakan dengan Tari juga Inaya, karena letak kamar mandi perempuan dan laki-laki bersebelahan jadi ketika mereka keluar berbarengan tentunya saling mengejutkan satu sama lain. Dan yang membuat jantung Inaya berdetak tidak karuan itu sebenarnya bukan karena kaget saja karena tiba-tiba berpapasan dengan orang lain, tapi karena lelaki itu adalah Marvin.
“Maaf, Kak,” ujar Tari langsung tanpa basa-basi. Marvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum singkat “Iya nggak apa-apa,” setelah itu Marvin berlari kecil ke lapangan. Inaya tebak, Marvin akan bermain basket, karena pakaiannya adalah seragam tim basket sekolah, dan Marvin berlari kecil mungkin karena sedikit terlambat.
“Pake ada acara hampir tabrakan sama orang yang dikagumi, udah kayak di sinetron aja sih,” batin Inaya.
“Mana aku beku tadi, kayak es batu. Yang minta maaf malah Tari. Ya ampun, aku kaget sekaligus senang bisa liat Kak Marvin dari jarak yang dekat kayak tadi. Nggak apa-apa deh cuma bentar, yang penting udah liat dia dari dekat. Tadi papasan jadi keliatan banget gantengnya!”
Inaya hanya bisa mengungkapkan rasa senangnya di dalam hati saja, tidak bisa lebih dari itu.
“Kak Marvin ternyata ganteng banget ya diliat langsung. Dan ceweknya juga cantik banget lho. Aku liat di akun instagramnya,”
“Oh udah punya pacar ya maksud kamu, Tar?”
“Ternyata benar Kak Marvin udah punya pacar. Dan orangnya yang benar yang aku liat di mall semalam karena mukanya persis banget kayak di foto,”
Sekarang Inaya tak bertanya-tanya lagi. Akhirnya sudah terjawab rasa penasarannya tentang perempuan itu. Sejak awal Ia memang punya dugaan kalau dia adalah kekasih Marvin karena ada foto mereka yang mesra di akun instagram Marvin. Ditambah lagi ketika Inaya melihat Marvin dan perempuan itu di store baju, mereka kelihatan sangat harmonis. Marvin menemani perempuan itu datang ke store baju bahkan bantu memilihkan. Sejak saat itu dugaan Inaya semakin kuat dan akhirnya Ia dapat jawaban pasti.
“Aku udah mampir juga ke akun pacarnya. Ada beberapa foto mereka, ngucapin ultah, ngucapin valentine. Pokoknya romantis banget deh. Udah jadi couple goals,”
“Aku liat satu foto mereka bareng-bareng aja udah langsung sedih sendiri, apalagi kalau liat lebih banyak tentang mereka ya? Pasti aku makin sedih deh, makin sakit hati. Harusnya aku nggak boleh kayak gini terus. Ayo-ayo fokus sama tujuan sekarang ini, belajar yang benar! Ingat kata-kata ayah bunda, jangan mikirin cowok apalagi udah punya pacar. Ayo sadar, Nay!”
Inaya menghembuskan napas kasar usai membatin. Ia baru saja menyemangati dirinya sendiri supaya tidak lama-lama terjebak dalam rasa yang tidak seharusnya ada.
“Aku takut deh jadi lebih dari suka atau kagum. Gawat kalau udah cinta, sakitnya makin berasa pasti,”
“Eh Nay, kamu tertarik nggak sih sama Kak Marvin?”
Inaya kaget ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari temannya. Tentu gugup karena mulutnya ingin bohong tapi hatinya tidak ingin.
__ADS_1
“Tertarik gimana maksudnya?”
“Suka gitu sama dia, naksir lah maksudnya,”
“Hmm—nggak, biasa aja. Emang kenapa?”
“Serius? Jangan nggak-nggak tapi taunya bohong nih kamu,”
“Nggak kok, aku nggak bohong. Aku biasa aja, Tar,”
“Hmm, kalau aku sih masih si manis yang utama ya,” ujar Tari sambil terkekeh.
Mereka melewati lapangan, dan pandangan Inaya tak lepas dari permainan basket yang sedang berlangsung. Sambil berjalan, Inaya dan Tari mengamati mereka yang sedang berada di lapangan bermain basket.
Inaya lebih fokus pada Marvin ketimbang permainan. Padahal baru saja Ia ingin berhenti punya perasaan apapun itu bentuknya terhadap Marvin.
“Keren banget mereka mainnya, pada cekatan gitu ya,”
“Iya bakset emang keliatannya seru kalau orang yang main tapi kalau kita yang main, beuh serunya ilang,”
“Hahahaha bener banget kamu, Nay,”
“Aku suka main bulu tangkis dulu, tapi pas udah besar nggak pernah lagi deh kayaknya. Ngeliat cowok main bulutangkis juga keren deh,” ujar Inaya.
Sesaat setelah Inaya bicara seperti itu, tiba-tiba Inaya dibuat kaget ketika bola basket mengarah padanya tanpa disengaja tapi beruntungnya Ia baik-baik saja. Dan bola itu malah mengenai pintu sebuah kelas.
“Eh Nay kamu nggak apa-apa? Nggak kena ‘kan?”
“Nggak-nggak aku aman kok,”
Tadi ketika diperebutkan, bola basket itu tak sengaja terlempar ke arah yang tidak seharusnya.
Marvin langsung berlari menghampiri Inaya dan Tari. Perasaan Inaya langsung tidak karuan. Apalagi ketika Marvin tiba di hadapannya sambil bertanya “Lo nggak apa-apa, Dek?”
__ADS_1