Ketua Basket Incaran Inaya

Ketua Basket Incaran Inaya
Bab 19


__ADS_3

Hari ini Inaya mulai mengenakan seragam barunya setelah kemarin masa orientasi mengenakan baju saat Ia masih SMP.


Inaya antusias sekali mengenakan seragam barunya itu. Ia melihat bayangannya sendiri di depan cermin kemudian memutar sedikit badannya.


“Aku ternyata udah cocok pakai baju SMA. Iyalah orang udah masuk SMA,” gumamnya sambil tersenyum mengamati penampilannya sendiri.


Suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Lalu Ia mendengar suara adiknya yang memanggil. “Kakak, udah bangun belum, Kak?”


“Udah,”


Inaya langsung berjalan mendekati pintu kamarnya. Ia ingin membuktikan kalau Ia memang sudah bangun bahkan sudah selesai bersiap.


“Wah kakak cantik banget pakai seragam baru, udah cocok banget, Kak,”


“Hehehe makasih, Dek,”


“Udah siap ternyata. Aku pikir kesiangan kakak,”


“Nggak, aku nggak tidur larut malam jadi nggak kesiangan,”


“Nggak gugup lagi ‘kan kayak kemarin pertama kali mau datang ke sekolah baru?”


“Nggak gugup lagi dong, aman-aman,”


“Ya udah ayo kita turun, Ayah bunda udah nungguin tuh di meja makan,”


“Okay siap, aku ambil tas dulu,”


“Ya udah buruan,”


“Iya ih sabar,”


Inaya langsung berjalan mendekati ranjang untuk mengambil ransel sekolahnya. Semua sudah siap di dalam ransel, tinggal Ia bawa saja.


“Yok kita turun,”


Inaya dan Inara turun ke lantai dasar tepatnya ke ruang makan dimana ayah dan bunda mereka sudah menunggu.


“Pagi, Yah, Bun,”


“Pagi, Nak,”


“Masya Allah cantik banget anak sulung ayah ya,”


“Cie yang pakai seragam baru. Bunda sampe terpesona lho liat kamu, Nay,”

__ADS_1


“Heheheh makasih, Yah, Bun. Aku cocok nggak pakai ini?”


“Cocok banget, cantiknya keterlaluan,”


“Ah Bunda bisa aja,”


“Iya emang, cantik banget. Udah cocok pakai seragam SMA,”


“Makin cantik, Kak. Ayah setuju banget sama Bunda. Udah besar ya anak ayah bunda, nggak berasa ya, Allah. Udah cocok banget pakai baju SMA,”


“Aku juga merasa udah cocok,”


“Cie jadi nanti ada yang naksir deh, banyak malah. Soalnya kakak cantik banget,”


“Ya nggak apa-apa kalau ada yang suka atau naksir kakak, asal nggak berani macam-macam, ngajakin pacaran, itu nggak boleh! Anak ayah mesti belajar dulu yang fokus. Kalau disukai sama orang ya nggak masalah. Orang ‘kan berhak menyukai seseorang atau sesuatu,”


“Aku juga ada yang naksir, Yah,”


Ardy memicingkan kedua matanya menatap Inara. “Siapa? Ngajakin kamu pacaran? Awas ya kalau berani-beraninya dia ngajakin kamu pacaran, orang lulus SMP aja belum,”


“Ada kali, nggak tau deh aku cuma ngarang hahaha,”


“Kepedean kamu ah,”


“Ya ampun, kamu narsis banget sih,”


Inaya mencibir adiknya yang sedang berpose dengan menempelkan jari telunjuknya di lesung pipi.


“Udah deh jangan ngomongin cowok mulu,”


“Iya, mulai nih aktif bahas cowok, Ayah mulai cemburu tau. Anak ayah cewek-cewek mulai bahas cowok, kagum ke cowok ya walaupun itu Oppa Korea sih,” sindir Ardy seraya melirik anak bungsunya.


“Aku nggak, Yah. Aku nggak ngefans sama Oppa Korea kok, itu cuma adek aja,” ujar Inaya.


“Yah, aku juga kagum sama ketua OSIS aku lho, Yah. Apa ayah nggak cemburu?”


“Ya sama, cemburu juga. Makanya nggak usah bahas-bahas cowok lagi ya, entah itu Oppa Korea atau siapalah itu. Bahasnya pelajaran aja sama ayah,”


“Ah di sekolah pelajaran, di rumah pelajaran, dimana-mana pelajaran. Aku bosan, Yah,”


Mereka menikmati bubur ayam buatan Rieke yang luar biasa nikmat. Memang apapun yang dimasak Rieke tidak pernah gagal. Selalu sesuai selera anak dan suaminya.


“Pagi ini ayah antar dua-duanya. Ayah kerja agak siangan,”


“Pantesan ayah belum pakai baju formal. Malah pakai jeans panjang sama kaos. Ayah kalau pakai itu makin keliatan muda deh. Ayah belum keliatan tuanya, heran aku,”

__ADS_1


“Emang ayah masih muda,”


“Bunda juga masih muda orang anaknya baru masuk SMA. Aku suka Bunda pakai baju-baju dress floral, atau jeans kayak ayah gitu. Eh ayah sama bunda kalau pakai baju dan sepatu yang couple-couple gitu masih cocok banget lho,”


Rieke dan Ardy terkekeh mendengar ucapan Inara. “Masa sih? Emang ayah sama Bunda masih cocok pakai baju kayak anak muda gitu? Couple-couple an?”


“Iya masih cocok banget, Bunda,”


“Ya udah ntar kalau jalan-jalan pakai baju couple deh,”


“Sepatunya jangan lupa biar suasananya sama kayak sebelum nikah gitu,”


“Anggap aja aku sama kakak belum ada,”


“Hahahah mana bisa begitu,”


“Iya nanti ayah bunda jalan ke mall berdua kayak gitu aja, aku sama kakak nggak usah ikut. ‘Kan jarang banget tuh ayah bunda jalan berdua,”


“Lebih seru jalan sama anak sih, ‘kan udah punya anak,”


“Iya bener, kalau berdua jadi garing krik krik,” Rieke setuju dengan suaminya. Ia pun merasa lebih senang ketika pergi dengan pasangan tapi anak-anak dibawa. Ketimbang hanya berdua. Memang terkadang ingin pergi menghabiskan waktu berdua tapi ketika ada di momen itu, malah kurang lengkap rasanya bila tanpa anak. Itulah sebabnya Rieke dan Ardy jarang sekali pergi berdua, paling kalau ada acara yang mengundang mereka dan anak-anak mereka tak mau ikut.


“Habisin sarapannya, jangan kebanyakan ngomong kayak burung beo kamu, Dek. Nanti telat lho,”


“Nggak apa-apa telat, orang cuma sesekali,”


“Eh nggak boleh, ayah nggak suka anak yang terlambat, nggak disiplin. Kalau memang benar-benar kepepet karena satu dan lain hal yang bikin telat sih nggak apa-apa, berusaha memaklumi, lah kalau telatnya karena kebanyakan ngobrol, ayah nggak suka,”


“Baik, Pak dosen,”


Inara dan Inaya fokus menghabiskan sarapan mereka, setelah itu bersiap untuk berangkat. Tak lupa pamit pada Rieke.


******


“Hai Kak Arisa,”


“Eh Tari ya? Widih hari pertama pakai seragam baru nih. Cantik banget lho kamu,”


“Hahaha bisa aja, btw makasih ya, Kak,”


“Panggil Icha aja. Kepanjangan kalau Arisa,”


“Okay siap, ambil yang singkatnya ya?”


“Biar nggak ribet. Oh iya, kamu kelas apa?”

__ADS_1


__ADS_2