
Saat Bintang melihat Aria dan Fauzan bersiap-siap untuk pulang bersama, dia merasa bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk mengatasi ketegangan dan kebingungannya tentang hubungan mereka. Dia memutuskan untuk menghampiri mereka dengan harapan bahwa ini bisa menjadi kesempatan untuk berbicara dan meredakan perasaannya.
Bintang berjalan mendekati Aria dan Fauzan dengan senyuman yang berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang rumit.
Bintang "Hai, kalian. Bolehkah aku bergabung pulang bersama?"
Aria dan Fauzan saling pandang sebentar, mungkin merasa sedikit terkejut dengan kehadiran Bintang. Namun, mereka setuju dan memberi Bintang senyuman ramah.
Aria"Tentu, Bintang. Bergabunglah."
Fauzan (dingin)"Ya."
Mereka bertiga kemudian berjalan bersama-sama menuju tempat tunggu mereka. Bintang mencoba menjaga percakapan ringan, mengobrol tentang hal-hal sepele, seperti pelajaran atau kegiatan sekolah. Meskipun di dalam hatinya ada banyak pertanyaan, dia berusaha untuk tetap tenang dan berusaha menjaga persahabatan mereka tetap baik.
Perjalanan pulang bersama ini memberi mereka kesempatan untuk mendekatkan diri satu sama lain dan mungkin meredakan beberapa ketegangan yang ada di antara mereka. Bintang berharap bahwa masa depan akan membawa lebih banyak kejelasan dan kebahagiaan dalam hubungan mereka.
Mereka tiba di tempat tunggu bus dan dengan sabar menunggu kedatangan bus sekolah mereka. Ketika bus akhirnya tiba, mereka berdua naik bersama-sama dan mencari tempat duduk yang nyaman.
Aria duduk di jendela sambil menatap pemandangan luar, sementara Fauzan duduk di sebelahnya. Mereka berdua terlihat nyaman dan rileks, sebagai teman lama yang telah menghabiskan begitu banyak waktu bersama. Bus mulai bergerak, membawa mereka pulang dengan nyaman setelah sehari di sekolah yang panjang.
Bintang merasa sangat kesal dan frustasi ketika dia melihat Fauzan duduk di sebelah Aria di dalam bus. Perasaan cemburu dan kebingungannya semakin memuncak, dan dia merasa bahwa setiap langkah yang dia ambil untuk menjaga persahabatan mereka terasa seperti sia-sia.
Dia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, tetapi dalam hatinya, dia merasa bahwa Aria dan Fauzan mungkin lebih dekat daripada yang dia kira. Dalam keheningan bus, Bintang merasa sendirian dan terasing, meskipun dia tahu bahwa perasaan itu sebagian besar berasal dari dalam dirinya.
Setiap kali dia melihat Aria dan Fauzan tertawa atau berbicara, Bintang merasa seakan-akan mereka memperdalam hubungan mereka di depan matanya.
Rasanya sulit untuk berpura-pura seolah-olah semuanya baik-baik saja, dan perasaan kesalnya semakin menghantuinya sepanjang perjalanan pulang.
Bintang berusaha untuk memahami perasaan ini dan menenangkan dirinya sendiri, tetapi tidak bisa menghilangkan rasa sakit dan frustasi yang mendalam. Sambil duduk di dalam bus, dia merasa bahwa hidupnya semakin rumit, dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengatasi perasaan ini.
__ADS_1
Aria akhirnya tiba di rumahnya setelah perjalanan pulang yang panjang. Dia merasa sangat lelah dan lelah setelah hari yang rumit di sekolah, di mana konflik dan ketegangan merajalela.
Aria (dalam hati) "Huff, hari yang panjang. Semoga semua ini segera berakhir. Aku hanya ingin sedikit waktu untuk bersantai."
Dia melepaskan tas sekolahnya dan duduk di kamarnya. Wajahnya mencerminkan kelelahan, dan dia merasa perlu sejenak untuk merenung dan meresapi perasaannya.
Dalam hatinya, dia berharap bahwa semua ketegangan dan rumor di sekolah akan mereda sehingga dia bisa hidup dengan lebih tenang dan bahagia.
Aria memutuskan untuk tidur siang setelah tiba di rumah, karena dia merasa sangat lelah setelah hari yang melelahkan di sekolah. Dia hanya ingin sejenak merenungkan segala hal dan memulihkan energinya.
Namun, ketika dia akhirnya terbangun dari tidurnya, dia merasa sangat terkejut. Cahaya ruangan sudah redup, dan ketika dia melihat jam di sebelah tempat tidurnya, dia menyadari bahwa sudah malam. Dia merasa seperti telah tidur selama berjam-jam, dan kini keadaan sudah begitu gelap.
"Astaga, sudah malam? Bagaimana bisa aku tidur begitu lama?"
Dia merasa bingung dan terkejut dengan tidurnya yang begitu dalam hingga dia melewati sore dan masuk malam. Aria segera bangun dan mulai merasa kebingungan tentang waktu yang sudah lewat, mungkin juga merasa sedikit terlambat dalam menjalani malamnya.
Setelah mandi, dia merasa lebih segar dan siap untuk mengerjakan PR yang menumpuk. Dia mengambil buku-buku dan catatan yang diperlukan, menyalakan lampu meja belajarnya, dan mulai fokus pada tugas-tugas tersebut.
Aria memutuskan untuk berkomitmen untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dan PR ini sehingga dia bisa memulai hari berikutnya dengan lebih tenang.
Meskipun waktu tidurnya tadi mungkin sedikit terganggu, dia ingin memastikan bahwa dia bisa mengatasi segala hal dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dalam kehidupannya.
Ketika Aria sedang sibuk mengerjakan PR di kamarnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia meraih ponselnya dan melihat nama "Bintang" di layar panggilan masuk. Ini membuatnya merasa sedikit terkejut, karena biasanya Bintang tidak pernah meneleponnya secara tiba-tiba.
Aria dengan cepat menjawab panggilan itu.
"Halo, Bintang. Ada apa?"
Bintang terdengar sedikit gugup di sisi lain
__ADS_1
"Hai, Aria. Maaf jika aku mengganggu. Aku hanya ingin berbicara sebentar. Apa kamu punya waktu?"
Aria merasa sedikit penasaran dan setuju untuk berbicara dengan Bintang.
"Tentu, Bintang.apa yang ingin kamu bicarakan?"
Mereka pun mulai berbicara, dan Aria merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang ingin dibicarakan oleh Bintang. Dia siap mendengarkan dan berbicara dengan temannya, meskipun dia masih merasa sedikit bingung tentang tujuan panggilan ini.
Saat mereka berbicara melalui telepon, Bintang akhirnya mengajak Aria untuk pergi ke bioskop besok malam. Permintaan ini membuat Aria merasa bingung, karena situasi mereka yang rumit dan perasaan cemburu yang melibatkan teman-teman mereka.
Aria merasa ragu, tapi dia mencoba untuk menjaga percakapan tetap ringan.
"Oh, ke bioskop? Besok malam, ya?"
"Iya, besok malam. Aku pikir itu bisa menjadi ide yang bagus. Kita bisa menikmati film bersama."
Aria masih merasa bingung tentang bagaimana dia harus menanggapi ajakan tersebut. Dia ingin menjaga persahabatan mereka tetap kuat, tetapi juga tidak ingin menambah kerumitan pada situasi saat ini.
"Baiklah, Bintang. Besok malam di bioskop.
aria setuju dan mereka berdua merencanakan pertemuan mereka untuk besok malam. Meskipun dia masih merasa bingung, Aria berharap bahwa ini bisa menjadi langkah awal untuk menjernihkan perasaan mereka dan meredakan ketegangan ada.
Ketika Aria akhirnya menyetujui ajakan Bintang untuk pergi ke bioskop besok malam, Bintang merasa sangat senang. Perasaan senangnya tidak bisa disembunyikan dan tersirat dalam suaranya yang ceria ketika dia berbicara.
"Oh, itu sangat bagus, Aria! Aku senang kamu mau pergi ke bioskop bersamaku besok malam."
Dia merasa lega dan gembira karena Aria menerima ajakannya. Bagi Bintang, ini adalah langkah positif menuju menjaga hubungan mereka tetap kuat dan mengatasi ketegangan yang ada.
Dia berharap bahwa perjalanan ke bioskop besok malam akan menjadi kesempatan yang baik untuk menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1