
Bintang dan Aria meninggalkan Fauzan yang terluka di atas atap sekolah. Aria merasa campur aduk, masih mencerna semua yang baru saja terjadi. Bintang membawa Aria pergi ke sebuah tempat yang lebih tenang, menjauh dari keramaian sekolah dan sorotan orang-orang.
Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Suara daun yang ditiup angin memberikan sedikit ketenangan dalam situasi yang tegang. Bintang akhirnya memulai pembicaraan, tetapi suaranya penuh dengan rasa bersalah dan ketidakpastian.
"Aria, aku minta maaf. Aku tidak ingin bertindak seperti itu. Aku hanya khawatir dan marah melihat Fauzan mendekatimu. Aku merasa seperti aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri."
Aria merenung sejenak sebelum menjawab, "Aku tahu kamu khawatir, Bintang. Tapi kita semua harus menemukan cara untuk mengatasi kebingungan ini."
Bintang menatap Aria dengan matanya yang penuh penyesalan. "Aku juga tidak ingin itu terjadi, Aria. Tapi aku merasa seperti perasaanku terhadapmu semakin kuat setiap hari. Aku takut kehilanganmu."
Aria mengerti bahwa Bintang berkata jujur. Dia juga merasa perasaan yang sama terhadap Bintang, tapi juga ada perasaan yang rumit terhadap Fauzan. Dia mencoba menjelaskan, "Aku juga merasa seperti itu, Bintang. Aku sangat menghargai hubungan kita. Tapi aku merasa seperti kita perlu memberikan waktu pada diri kita sendiri untuk memahami semuanya.
Bintang mengangguk, meskipun masih terlihat bingung. "Aku mengerti, Aria. Aku akan mencoba memberikanmu ruang yang kamu butuhkan. Tapi aku berharap suatu hari kita bisa bersama."
Mereka duduk di bawah pohon dalam keheningan sejenak, merenungkan masa depan yang penuh ketidakpastian. Mereka telah memasuki dunia yang penuh perasaan, pertanyaan, dan konflik.
Aria memandang Bintang dengan rasa ragu yang mendalam. Dia tahu bahwa dia harus berbicara terbuka dan jujur dengan Bintang mengenai perasaannya terhadap Lily. Dengan suara yang bergetar, dia akhirnya mengungkapkan perasaannya,
"Bintang, aku merasa cemburu ketika melihatmu bersama Lily. Tapi aku tahu bahwa kita masih mencoba untuk memahami perasaan kita satu sama lain."
__ADS_1
Bintang mendengarkan dengan serius, menunjukkan bahwa dia mendengarkan dengan penuh perhatian. Aria melanjutkan, "Aku hanya ingin memintamu untuk tidak terlalu dekat dengan Lily, setidaknya untuk sementara waktu. Aku belum tahu bagaimana mengatasi perasaan cemburu ini, dan aku takut itu bisa merusak hubungan kita."
Bintang mengangguk dan menjawab dengan lembut, "Aku mengerti, Aria. Aku juga tidak ingin merusak hubungan kita. Aku akan mencoba untuk menjaga jarak dengan Lily jika itu membuatmu nyaman. Tapi tolong ingat bahwa kamu selalu menjadi prioritasku."
Aria tersenyum lega mendengar tanggapan Bintang. "Terima kasih, Bintang. Aku tahu ini bukan situasi yang mudah, tapi aku berharap kita bisa melewatinya bersama."
Bintang dan Aria saling tersenyum, merasa lega bahwa mereka telah membicarakan perasaan mereka dengan terbuka. Mereka tahu bahwa perjalanan hubungan mereka mungkin tidak selalu mulus, tetapi mereka berdua bersumpah untuk tetap menjaga hubungan mereka.
Setelah percakapan yang jujur di atap sekolah, Aria dan Bintang kembali ke kelas masing-masing. Mereka berdua merasa sedikit lebih ringan, karena telah mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain dan mencapai pemahaman. Namun, kelas itu tetap penuh dengan kegaduhan dan kehidupan sehari-hari.
Aria kembali ke tempat duduknya, dan Maya yang duduk di sebelahnya langsung bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Apa yang kamu bicarakan dengan Bintang di atas atap tadi?"
Aria tersenyum dan menjawab, "Kami hanya membicarakan beberapa hal yang penting, Maya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Sementara itu, di kelas Bintang, teman-teman pria Bintang yang telah menyaksikan kejadian di atap sekolah tadi mulai bertanya-tanya. Mereka berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara Bintang dan Aria. Bintang merasa sedikit tidak nyaman, tetapi dia tahu bahwa dia harus menjaga privasi Aria dan hubungan mereka.
Ketika bel berbunyi menandakan akhir pelajaran, Aria dan Bintang bertemu lagi di luar kelas. Mereka berbicara singkat sebelum berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, dengan perasaan lebih dekat satu sama lain dan harapan bahwa mereka dapat melewati setiap rintangan yang ada di depan mereka.
Meskipun banyak yang terjadi, mereka berdua tahu bahwa hubungan mereka sangat berharga dan mereka akan berjuang untuk menjaganya.
__ADS_1
Aria melihat Fauzan yang akan pulang sekolah juga. Pipi Fauzan terlihat agak lebam, mungkin akibat pukulan yang dia terima tadi. Aria merasa campur aduk. Dia khawatir tentang kondisi Fauzan, tetapi juga merasa bersalah karena insiden di atas atap sekolah.
Aria mendekati Fauzan dengan hati yang berat. "Fauzan, apa yang terjadi tadi sangat tidak diinginkan. Aku minta maaf jika itu menyakiti kamu."
Fauzan menatap Aria dengan ekspresi yang campur aduk. "Aku tahu kamu tidak ingin itu terjadi. Tapi aku perlu tahu, Aria, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Bintang?"
Aria merasa sulit menjelaskan semuanya, tetapi dia mencoba memberikan penjelasan yang jujur. "Kami hanya sedang mencoba memahami perasaan kami satu sama lain, Fauzan. Itu bukan sesuatu yang aku bisa kendalikan dengan baik."
Fauzan mengangguk, meskipun masih merasa kesal dan terluka. "Aku mengerti, Aria. Tapi kamu juga perlu menjaga perasaanku."
Mereka berdua merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Aria merasa bersalah melihat Fauzan lebam akibat perkelahian yang dia sebabkan. Fauzan merasa bingung dan marah melihat Aria dan Bintang semakin dekat. Namun, di antara semua konflik ini, mereka masih menyimpan perasaan yang dalam satu sama lain.
Saat mereka berdua berbicara, mereka menyadari bahwa mereka berada di tengah-tengah perasaan yang rumit dan hubungan yang penuh ketidakpastian.
Aria dan Bintang naik bus bersama, tetapi sesuatu terasa berbeda. Fauzan yang duduk sendiri di belakang mereka, menciptakan ketegangan di dalam bus. Aria dan Bintang berusaha untuk mempertahankan percakapan ringan, tetapi mereka merasa Fauzan yang duduk sendiri di belakang mereka adalah sebuah pengingat hidup bahwa situasi mereka tidak lagi seperti yang dulu.
Aria merasa sulit untuk menentukan apakah dia harus berbicara dengan Fauzan atau tidak. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi, tetapi dia juga tidak ingin semakin memperburuk situasi.
Fauzan sendiri, di belakang mereka, merenungkan perasaannya yang bercampur aduk. Dia merasa kesal, cemburu, dan terluka. Tapi di dalam hatinya, masih ada perasaan untuk Aria yang sulit untuk dia hilangkan. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Aria dan Bintang, tetapi dia juga merasa tidak siap untuk menghadapinya.
__ADS_1
Bus meluncur ke depan, dan suasana di dalam bus terasa tegang. Aria merasa dilema antara dua orang yang penting dalam hidupnya, dan dia merasa tidak tahu bagaimana mengatasinya. Bintang mencoba memberikan dukungan padanya, tetapi dia juga tidak tahu apa yang sebaiknya dia lakukan. Fauzan di belakang mereka merenungkan perasaannya yang rumit, dan dia tahu bahwa dia harus menemukan cara untuk mengatasi perasaan ini.
Saat bus melanjutkan perjalanan menuju tujuan mereka, ketegangan di dalam bus semakin terasa. Semua tahu bahwa perasaan dan hubungan di antara mereka semua telah berubah, dan mereka harus mencari cara untuk mengatasinya.