
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden di lapangan basket, dan hubungan antara Aria dan Bintang telah berkembang menjadi persahabatan yang semakin erat. Mereka sering berbicara di sekolah, bertukar cerita, dan saling tertawa.
Aria merasa nyaman dengan kehadiran Bintang, dan begitu juga sebaliknya. Mereka sering bertemu di antara jam pelajaran, makan siang, dan bahkan menghabiskan waktu luang bersama-sama.
Aria merasa bahwa Bintang bukan hanya seorang atlet yang hebat, tetapi juga teman yang baik hati dan mendukung.
Tidak ada keraguan bahwa insiden bola basket yang tidak terduga itu telah membawa mereka bersama, dan kini, Aria dan Bintang telah memiliki persahabatan yang istimewa yang tumbuh dari situ.
Suatu hari, Bintang mendekati kelas Aria, 11A, ketika mereka baru selesai dengan pelajaran. Saat dia memasuki kelas, para cewek-cewek di dalam kelas langsung memperhatikannya dan bersemangat mendekatinya.
Cewek 1 "Hai, Bintang! Kamu tahu, kita sangat kagum dengan penampilanmu dalam pertandingan basket!"
Cewek 2 "Benar, Bintang! Apakah kami bisa mendapatkan tanda tanganmu?"
Cewek 3 "Bisakah kami berfoto bersamamu, Bintang?"
Para cewek-cewek itu tampaknya sangat antusias dan gembira ketika Bintang memasuki kelas mereka. Bintang dengan ramah memenuhi permintaan mereka dan tersenyum pada semua orang. Sementara Aria, yang juga berada di kelas, tersenyum melihat reaksi teman-temannya yang begitu terkesan oleh Bintang.
Maya, yang telah menjadi teman dekat Aria, memutuskan untuk berbicara dengan Aria secara pribadi setelah melihat Aria semakin dekat dengan Bintang.
Maya (berbisik dengan hati-hati) "Aria, aku dengar banyak rumor tentang Bintang. Katanya dia playboy."
Aria (terkejut) "Serius, Maya? Aku tidak pernah mendengar itu."
Maya "Ya, sepertinya banyak orang yang mengatakan hal itu. Aku hanya khawatir kamu bisa terluka jika kamu terlalu dekat dengannya."
Aria (ragu) "Tapi, Maya, dia benar-benar baik. Aku tidak yakin apa yang harus aku pikirkan."
Maya "Apa kamu yakin? Hati-hati, ya, Aria. Kadang-kadang, rumor bisa ada karena ada benarnya."
__ADS_1
Aria, setelah mendengar peringatan Maya, merasa bingung dan khawatir tentang hubungannya dengan Bintang. Dia memutuskan untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dengan cermat.
***
Bintang, yang telah menjadi teman baik Aria, memutuskan untuk mendekati Aria setelah melihatnya sedang duduk sendiri di aula sekolah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Aria?"
Aria (dengan pandangan khawatir) "Beberapa teman mengatakan hal-hal tentangmu, Bintang. Mereka bilang kamu playboy."
Bintang (dengan serius) "Aku mengerti ada banyak rumor, Aria. Tapi kamu tahu, rumor tidak selalu benar. aku ingin kamu tahu bahwa aku peduli dengan persahabatan kita."
Aria (berpikir) "Aku tahu kita sudah cukup dekat, Bintang. aku hanya khawatir tentang apa yang bisa terjadi."
"aku menghargai kejujuranmu, Aria. Jika kamu memiliki pertanyaan atau keraguan, jangan ragu untuk bertanya langsung kepada ku. aku akan selalu jujur denganmu."
Mereka berdua berbicara dengan tulus, dan Aria merasa lega mendengar pendekatan yang jujur dan peduli dari Bintang. Percakapan ini membantu memperkuat hubungan mereka, dan Aria merasa bahwa dia telah membuat pilihan yang tepat dengan menjaga persahabatan mereka.
Fauzan merasa sedikit tersisihkan, dan perasaannya campur aduk. Dia mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi antara Aria dan Bintang, dan apakah itu akan berdampak pada persahabatan mereka.
Dia berusaha menyembunyikan perasaannya, tetapi khawatir tentang apa yang bisa terjadi selanjutnya, membuat Fauzan merasa cemas dan bingung. Dia tahu bahwa dia harus mencari tahu lebih banyak tentang hubungan antara Aria dan Bintang sebelum membuat keputusan lebih lanjut.
Setelah melihat Aria dan Bintang bersama, Fauzan merasa terganggu oleh perasaan cemburu dan khawatirnya. Dia merasa bahwa dia harus memberi mereka privasi dan ruang untuk berbicara, jadi dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Fauzan memberikan senyum singkat dan berkata, "Maaf, aku punya urusan yang harus segera dilakukan. Kalian berdua bisa melanjutkan pembicaraan kalian.
"Aria dan Bintang melihat Fauzan pergi dengan pandangan yang khawatir, tetapi mereka juga merasa menghargai kebijaksanaan dan sikap baik hati teman mereka tersebut. Fauzan melanjutkan perjalanannya dengan perasaan campur aduk, sambil berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja dalam persahabatan mereka.
Setelah Fauzan pergi, Bintang memutuskan untuk mengajak Aria pergi ke kantin bersama.
__ADS_1
Aria, bagaimana kalau kita pergi ke kantin dan makan siang bersama? Aku yakin kamu pasti lapar setelah tadi."
Aria (tersenyum) "Terima kasih, Bintang. Itu ide yang bagus. Aku benar-benar lapar."
Mereka berdua berjalan bersama menuju kantin dengan perasaan ceria. Saat mereka tiba di kantin, mereka memesan makanan dan mencari meja yang nyaman untuk duduk, siap untuk menikmati makan siang bersama. Mereka terus berbicara dan tertawa, merasa bahwa persahabatan mereka semakin kuat setiap harinya.
Saat Aria dan Bintang tiba di kantin, sekelompok cewek-cewek yang tampaknya sangat menggemari Bintang memperhatikan mereka. Cewek-cewek itu menggumam dan berbisik-bisik satu sama lain, dan beberapa dari mereka bahkan tersenyum ke arah Bintang.
Cewek 1 "Itu Bintang, kan?"
Cewek 2"Iya, itu dia! Dan dia bersama Aria."
Cewek 3 "Aku dengar mereka semakin dekat-barat akhir-akhir ini."
Saat Aria dan Bintang mencari tempat untuk duduk, mereka merasa ada pandangan yang mengamatinya dari sekitar kantin. Meskipun mereka mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, kehadiran cewek-cewek tersebut membuat suasana menjadi agak tegang.
Saat mereka duduk di kantin, Bintang dengan ramah menanyakan kepada Aria tentang makanan apa yang akan dipesan.
"Aria, ada yang ingin kamu pesan di sini? Apa makanan favoritmu?"
Aria (tersenyum) "Hmm, aku suka burger dan kentang goreng. Tapi kamu bisa memesan apa pun yang kamu suka."
"Burger dan kentang goreng terdengar enak. Aku akan memesan itu juga."
Mereka berdua memesan burger dan kentang goreng, sambil terus berbincang dan tertawa. Meskipun suasana di kantin agak tegang karena perhatian cewek-cewek yang mengamati mereka, Aria dan Bintang tetap berusaha untuk menikmati waktu mereka bersama.
Fauzan, dari kejauhan, memantau Aria dan Bintang yang sedang duduk bersama di kantin. Dia merasa gelisah dan cemburu, meskipun mencoba untuk tidak menunjukkan perasaan itu. Fauzan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua dan apakah ada sesuatu yang harus dia khawatirkan.
Saat dia melihat Aria dan Bintang tertawa bersama, perasaan cemburunya semakin kuat. Dia merasa bahwa dia harus mengetahui lebih banyak tentang hubungan mereka, tetapi dia juga tidak ingin melanggar privasi Aria.
__ADS_1
Fauzan terus memantau mereka dari kejauhan, dengan hati yang campur aduk dan penuh pertanyaan.