
Aria tiba di rumahnya setelah seharian yang penuh kebahagiaan bersama Bintang. Senja telah berubah menjadi malam, dan cahaya remang-remang penerangan jalan menyoroti jalan pulangnya. Di dalam hatinya, dia masih merasa terbangun oleh ciuman manis yang mereka bagikan di pantai.
Dengan langkah hati-hati, Aria membuka pintu rumahnya dan memasuki koridor yang diterangi oleh cahaya lampu hangat. Dia melepas sepatunya dengan hati-hati dan membiarkannya bersama dengan jaket di dekat pintu.
Rasanya seolah-olah seluruh tubuhnya masih merasakan sentuhan Bintang, dan senyum tak tertahankan terukir di wajahnya.
Saat Aria berjalan melalui rumahnya, ingatannya terus memutar kembali momen-momen indah yang mereka lewati bersama hari ini. Mereka tertawa, berbicara, berjalan di pantai, dan berbagi perasaan mereka. Semua itu adalah kenangan yang akan dia simpan dengan hangat.
Dia berhenti sejenak di depan cermin, memandang dirinya sendiri. Wajahnya masih memancarkan kebahagiaan, dan matanya bersinar dengan cinta yang baru ditemukan. Dia merasa beruntung telah menemukan Bintang, seseorang yang membuatnya merasa begitu spesial.
Aria melangkah menuju kamar tidurnya dan berbaring di atas tempat tidur. Ponselnya bergetar, menunjukkan pesan dari Bintang. Mereka masih terus berkomunikasi, seolah-olah mereka tidak ingin momen ini berakhir. Dia membaca pesan Bintang dengan senyum, merasa begitu bersyukur atas hari yang indah ini.
Setelah membalas pesan Bintang, Aria merasa matahari yang terbenam masih menyinari hatinya. Dia tahu bahwa ini hanya awal dari kisah cinta mereka bersama, dan masa depan penuh dengan kebahagiaan yang menanti. Aria merasa bahagia dan bersyukur, dan dia tertidur dengan senyum di wajahnya, memimpikan petualangan dan momen indah bersama Bintang.
***
Maya mendekati Aria di sekolah dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit khawatir. Dia mengangguk sambil tersenyum kepada Aria, mencoba untuk memulai percakapan dengan lembut.
Maya "Hai, Aria. Bolehkah aku berbicara sebentar?"
Aria sedikit terkejut oleh ekspresi Maya yang tampak serius. Meskipun dia mencoba untuk tetap ramah, ada rasa kekhawatiran yang tumbuh di dalam dirinya. Dia mengangguk dan menjawab, "Tentu, Maya. Ada apa?"
Maya dan Aria berjalan menjauh dari keramaian koridor sekolah, mencari tempat yang lebih sepi untuk berbicara. Maya tampak agak ragu saat dia mulai berbicara.
__ADS_1
Maya "Aria, aku melihat hubunganmu dengan Bintang semakin erat akhir-akhir ini, dan aku sangat senang melihat kalian berdua bahagia bersama. Tapi, aku juga mendengar banyak rumor di sekolah yang bilang Bintang adalah playboy. Aku hanya ingin tahu apakah kamu tahu tentang ini."
Aria merasa sedikit terkejut dan bingung oleh pertanyaan Maya. Dia tahu bahwa rumor di sekolah bisa dengan mudah melebih-lebihkan hal-hal, tetapi dia juga ingin menjaga kejujurannya.
Aria "Maya, aku tahu tentang rumor itu, dan aku juga mendengar beberapa hal. Tapi, aku lebih suka memahami Bintang dari pengalamanku sendiri. Dia begitu baik padaku dan membuatku merasa istimewa. Aku tidak ingin rumor memengaruhi hubungan kami."
Maya mengangguk mengerti. "Aku mengerti, Aria. Yang penting adalah perasaanmu. Aku hanya ingin pastikan kamu tahu apa yang mungkin akan kamu hadapi. aku harap semuanya akan berjalan dengan baik ."
Aria tersenyum pada Maya, merasa bersyukur memiliki teman seperti dia yang peduli. "Terima kasih, Maya. Aku akan tetap jujur dengan perasaanku, dan kita akan melihat bagaimana segalanya berkembang."
Maya dan Aria kembali ke koridor sekolah, merasa bahwa percakapan mereka telah membantu memperjelas beberapa hal.
Aria merasa lebih percaya diri dalam hubungannya dengan Bintang, dan dia siap menghadapi apa pun yang akan datang. Maya berharap yang terbaik untuk sahabatnya, dan mereka melanjutkan hari sekolah mereka dengan semangat.
Gadis itu memasuki sekolah dengan percaya diri, meskipun mungkin merasa agak terintimidasi oleh semua perhatian yang dia terima.
Para pria di sekolah langsung terpikat oleh pesonanya. Mereka mulai berbisik-bisik dan bertukar kata-kata tentang siswi baru ini. Beberapa di antara mereka bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagum di wajah mereka.
"Pernahkah kalian melihat seorang gadis seindah itu sebelumnya?" ujar seorang dari mereka.
"Gadis ini sungguh luar biasa. Aku harap aku bisa berbicara dengannya," kata pria lainnya.
Para pria bahkan mencoba untuk mendekati gadis itu dengan harapan bisa mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya. Mereka berlomba-lomba untuk memikat hati gadis itu dengan cara mereka masing-masing.
__ADS_1
Sementara itu, Aria, Maya, dan teman-teman perempuan lainnya hanya melihat pertunjukan ini dengan sedikit candaan. Mereka sudah terbiasa dengan reaksi pria ketika ada siswi baru yang cantik.
Maya berbicara dengan Aria, "Sepertinya gadis baru itu akan menjadi pusat perhatian selama beberapa minggu ke depan."
Aria tersenyum. "Ya, aku rasa begitu. Semoga dia bisa beradaptasi dengan baik di sekolah ini."
Sementara itu, siswi baru itu mungkin merasa agak terkejut oleh semua perhatian yang dia terima, tetapi dia dengan sopan menerima salam dari teman-teman baru dan berusaha untuk merasa nyaman dalam lingkungan baru. Keindahannya hanya salah satu aspek dari kepribadian dan kemampuannya yang menarik.
Siswi baru itu, yang dikenal sebagai Lily, adalah sosok yang penuh kepercayaan diri. Setelah beberapa hari di sekolah, dia mulai berbicara dan bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Namun, yang paling mengejutkan adalah saat pertemuan pertamanya dengan Bintang.
Ketika Lily secara tidak terduga bertemu dengan Bintang di koridor sekolah, semua orang termasuk Aria terkejut oleh reaksinya. Tanpa ragu sedikit pun, dia melompat ke pelukan Bintang dengan senyuman lebar di wajahnya. Mereka berdua berdiri di tengah koridor, memeluk satu sama lain dengan erat. Sebuah ungkapan kegembiraan yang begitu tulus terpancar dari wajah mereka.
Para siswa yang berada di sekitar mereka melihat adegan ini dengan mata terbelalak, termasuk Aria. Dia merasa campur aduk dengan perasaan kaget, kebingungan, dan sejumput cemburu. Aria belum pernah melihat Bintang merespons seseorang dengan begitu akrab dan hangat sejak mereka berdua menjalani hubungan mereka.
Setelah beberapa saat, Lily dan Bintang melepaskan pelukan mereka. Mereka tertawa dan terlihat sangat bahagia. Lily tampaknya sudah sangat dekat dengan Bintang dalam waktu yang singkat. Beberapa dari teman-teman Aria mulai berspekulasi tentang apa yang mungkin terjadi di antara mereka berdua.
Maya bersandar ke Aria dan berbisik, "Aku tidak pernah melihat Bintang begitu akrab dengan seseorang sebelumnya. Apa yang terjadi ?"
Aria hanya bisa menggelengkan kepala dalam kebingungan. Dia tidak tahu apa yang sedang berlangsung, dan rasa cemburunya semakin dalam. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang dan mengatasi perasaan tersebut.
Saat hari berlalu, kabar tentang kedekatan Bintang dan Lily menyebar lebih cepat dari yang bisa dibayangkan. Mereka berdua menjadi topik pembicaraan di seluruh sekolah.
Aria merasa semakin tertekan oleh situasi ini, dan dia merasa perlu untuk berbicara dengan Bintang tentang apa yang terjadi.
__ADS_1