
Bintang tiba di kantin sekolah dengan langkah hati-hati, mencari meja kosong untuk duduk. Setelah menemukan meja yang sesuai, dia melangkah ke loket kantin dan memesan makanan favoritnya.
"Saya ingin pesan nasi goreng dan jus jeruk, tolong."
Pelayan kantin dengan ramah mengambil pesanan Bintang dan mulai menyiapkan makanannya. Bintang duduk di meja sambil menunggu makanannya datang.
Dia mencoba untuk merenung tentang situasi yang tengah dialaminya, berharap bahwa semuanya akan segera mereda dan dia bisa menikmati makanannya dengan tenang.
Saat Bintang sudah duduk di kantin dan menunggu makanannya, Aria tiba di kantin juga. Bintang melihat Aria dan memutuskan untuk memanggilnya dengan ramah.
"Aria, duduklah di sini bersamaku!"
Namun, Aria tampak ragu dan berdiri di tempatnya, merasa bahwa perlu menjaga jarak agar rumor tentang hubungan mereka tidak semakin menjadi perbincangan.
"Maaf, Bintang, mungkin sebaiknya aku duduk di meja yang berbeda. Rumor ini tidak baik untuk kita."
Bintang merasa sedikit kecewa, tetapi dia mengerti alasan Aria. Dia tahu bahwa Aria ingin menjaga baik nama baiknya maupun nama baik Bintang. Meskipun hatinya merasa sedikit terluka, dia hanya bisa mengangguk dengan pengertian.
"Aku mengerti, Aria. Semoga semua rumor ini segera mereda."
Aria menatap Bintang dengan senyuman yang penuh harapan, sebelum pergi untuk mencari meja yang lain. Bintang duduk di kantin dengan perasaan campur aduk, berharap bahwa mereka dapat melewati situasi ini dan menjaga persahabatan mereka tetap kuat.
Ketika Aria duduk di meja yang berbeda setelah menolak ajakan Bintang, Fauzan tiba-tiba muncul di dekatnya. Dia tampak sangat serius dan ingin membicarakan hal penting.
"Aria, boleh aku bicara sebentar?"
Aria merasa sedikit terkejut oleh kehadiran Fauzan, tetapi dia mengangguk dan memberikan izin.
"Tentu, Fauzan. Ada apa?"
Fauzan mengambil kursi di sebelah Aria dan menatapnya dengan tatapan penuh perasaan.
"Aku khawatir tentangmu, Aria. Aku tahu kamu dekat dengan Bintang, dan banyak yang mengatakan bahwa dia bukan orang yang baik."
"Fauzan, aku bisa menjaga diriku sendiri."
Fauzan: "Aku hanya tidak ingin kamu terluka. Aku peduli padamu, Aria."
__ADS_1
"Terima kasih, Fauzan. Tapi aku bisa membuat keputusan sendiri. Dan aku ingin menjaga persahabatan dengan semua orang."
Fauzan merasa sulit untuk menerima jawaban Aria, tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa memaksanya untuk menjauhi Bintang. Mereka duduk bersama di kantin, dengan perasaan yang rumit dan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Saat Bintang berada di meja kantin, dia melihat Aria dan Fauzan duduk bersama di meja yang berdekatan. Meskipun dia mencoba untuk tetap tenang, dia merasa agak kesal dalam hatinya. Bintang merenung tentang apa yang bisa sedang mereka bicarakan, dan perasaan cemburu mulai muncul.
Bintang bertanya-tanya apakah Fauzan mencoba mendekati Aria dengan alasan tertentu, atau apakah mereka sedang membicarakan hubungan mereka. Meskipun dia ingin percaya pada persahabatan mereka, rasa cemburu itu sulit untuk dihindari.
Bintang berusaha untuk tetap fokus pada makanannya, tetapi pikirannya terus melayang ke arah Aria dan Fauzan. Dia merasa bahwa situasinya semakin rumit, dan dia ingin tahu apa yang sedang terjadi di meja mereka.
Sementara dia mencoba menjaga perasaan cemburunya, Bintang juga tahu bahwa dia harus memberi Aria ruang dan kebebasan untuk menjalani hubungan persahabatannya dengan siapa pun yang dia pilih. Itu adalah ujian untuknya, dan dia berusaha untuk memahami dan meredakan perasaannya.
Saat Aria dan Fauzan duduk di meja kantin bersama, Maya datang mendekati mereka dengan senyuman ramah. Dia ingin bergabung dengan mereka untuk makan siang.
"Hai, kalian! Bolehkah aku bergabung? Aku sangat lapar dan akan makan di sini"
Aria tersenyum dan memberi tahu Maya untuk duduk.
"Tentu, Maya, mari duduk. Kami baru saja memesan makanan."
Maya mengambil tempat di meja mereka, dan atmosfer menjadi lebih ceria dengan kehadirannya. Meskipun situasinya rumit, mereka mencoba untuk menjaga suasana menjadi positif dan menikmati makanan mereka bersama.
Suara bel berbunyi, mengumumkan akhir istirahat. Para siswa di kantin sekolah mulai bergerak, mempersiapkan diri untuk kembali ke kelas masing-masing.
Suasana di kantin yang sebelumnya ceria dan riuh menjadi tenang seiring dengan kedekatan waktu kembali ke kelas.
Aria, Maya, Fauzan, dan Bintang juga berdiri dari meja mereka, mengetahui bahwa mereka harus kembali ke rutinitas sekolah.
Mereka berharap bahwa sisa hari sekolah ini akan berjalan dengan lancar tanpa konflik lebih lanjut dan rumor yang meresahkan.
Setelah bel berbunyi menandakan akhir istirahat, Aria memutuskan untuk meminjam buku dari Maya. Dia ingin membaca buku tersebut untuk tugas yang diberikan oleh guru mereka.
"Maya, bolehkah aku meminjam buku ini? Aku perlu membacanya untuk tugas sejarah."
Maya tersenyum ramah dan menyerahkan buku itu kepada Aria.
"Tentu saja, Aria. Silakan pinjam. Semoga membantu dengan tugasmu."
__ADS_1
Aria berterima kasih kepada Maya sambil merasa bersyukur memiliki teman yang bisa membantunya dalam urusan pelajaran. Dengan buku pinjaman dari Maya, dia bersiap kembali ke kelas untuk menyelesaikan tugas sejarahnya.
Di kelas yang berbeda, Bintang duduk di meja, tetapi pikirannya jauh dari pelajaran yang diajarkan. Dia hanya melamun, terperangah, dan terus memikirkan hubungan antara Aria dan Fauzan.
Meskipun dia tahu bahwa dia dan Aria hanya teman, perasaan cemburu dan kebingungan terus menghantuinya.
Bintang bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Aria dan Fauzan. Apakah mereka hanya teman atau apakah ada lebih dari itu?
Dia merasa bahwa situasi ini semakin rumit dan tidak bisa menghilangkan pikiran tentang Aria. Bintang merasa tertekan oleh perasaan yang rumit dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pelajaran di kelas berlangsung, tetapi pikirannya tetap terjebak dalam lamunan tentang hubungan Aria dan Fauzan.
Saat Bintang masih dalam lamunannya tentang hubungan Aria dan Fauzan, guru di kelasnya memberikan pertanyaan pada Bintang. Namun, Bintang tidak mendengar pertanyaan tersebut. Suara guru terdengar begitu jauh baginya karena dia masih terjebak dalam pikirannya yang penuh kebingungan.
Guru "Bintang, apakah kamu bisa menjawab pertanyaan ini?"
Namun, Bintang masih tidak merespons, dan guru mulai merasa agak khawatir tentang mengapa Bintang tampak begitu terganggu. Dia akhirnya berjalan mendekati Bintang dan dengan lembut mengguncang bahunya.
"Bintang, apakah kamu mendengar pertanyaan saya?"
Bintang tersentak dan akhirnya kembali ke dunia nyata. Dia merasa agak malu karena dia telah terlalu teralihkan oleh pikirannya sendiri.
"Maaf pak, saya kurang fokus tadi. Apakah bapak bisa mengulangi pertanyaan itu?"
Guru mengulangi pertanyaan dengan sabar, dan Bintang mencoba untuk lebih fokus pada pelajaran, meskipun pikirannya masih terpikirkan tentang Aria dan Fauzan.
Setelah beberapa jam yang panjang, akhirnya bel sekolah berbunyi menandakan berakhirnya hari sekolah. Suasana di kelas segera berubah menjadi ceria, dengan siswa-siswa yang bersiap-siap untuk pulang.
Bintang dan siswa lainnya bersyukur karena hari itu berakhir, dan mereka bisa pulang. Meskipun masih ada banyak pertimbangan dan ketegangan dalam pikiran Bintang, dia berharap bahwa setidaknya waktu di luar sekolah akan memberinya kesempatan untuk merenung dan meredakan perasaannya.
Saat bel berbunyi, siswa-siswa bersiap-siap meninggalkan kelas mereka dan pulang. Hari yang panjang telah berakhir, dan mereka semua merindukan kenyamanan rumah masing-masing.
Setelah bel sekolah berbunyi, Fauzan mendekati Aria dan dengan sopan mengajaknya untuk pulang bersama.
Fauzan "Aria, maukah kamu pulang bersama-sama hari ini?"
Aria merasa senang dengan ajakan Fauzan, dan dia menerima dengan senyum.
"Tentu, Fauzan. Itu adalah ide yang baik. Mari pulang bersama."
__ADS_1
Mereka berdua meninggalkan sekolah bersama, berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan obrolan yang hangat. Meskipun situasinya rumit, mereka mencoba untuk menjaga hubungan persahabatan mereka tetap kuat.