
Aria tetap berada di dalam toilet setelah para cewek tadi pergi. Dia merasa sedikit terkejut dan terkepung oleh tindakan mereka. Hatinya berdebar kencang karena situasi yang baru saja terjadi, dan dia mencoba untuk meredakan dirinya sendiri.
Sambil duduk di salah satu toilet, Aria mencoba untuk menenangkan diri dan memikirkan bagaimana dia harus menghadapi situasi ini. Dia merasa semakin bingung dan tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi yang semakin rumit di sekolah ini.
Bintang memasuki kelas Aria dengan hati yang gelisah. Dia merasa perlu untuk bicara lebih lanjut dengan Aria dan mencoba mengatasi ketegangan yang ada di antara mereka. Namun, ketika dia memasuki kelas, dia terkejut menemukan bahwa Aria tidak ada di sana.
Dia mencari-cari dengan pandangan, tetapi kursi Aria kosong. Bintang merasa bingung dan agak khawatir tentang keberadaan Aria.
Bintang "Mana Aria? Dia harusnya ada di sini."
Dia mencoba untuk tidak menarik perhatian banyak orang dalam kelas, tetapi teman-teman sekelasnya mulai bertanya-tanya dan memberikan pandangan tanda tanya.
Teman sekelas 1 "Apakah ada yang tahu di mana Aria?"
Teman sekelas 2 "Apa yang terjadi? Kenapa Bintang mencari Aria?"
Bintang mencoba menjawab pertanyaan mereka sebaik mungkin, tetapi dia merasa semakin bingung tentang keberadaan Aria. Dia tahu bahwa dia harus mencari tahu di mana Aria berada dan apa yang terjadi padanya.
Maya yang merasa cemas dan khawatir tentang Aria akhirnya memutuskan untuk berbicara. Dengan suara yang ragu, Maya memberitahu teman-temannya yang lain.
Maya "Mungkin... mungkin Aria pergi ke toilet sebentar, kalian tadi melihat kan dia ke sana?"
Teman sekelas yang lain merasa sedikit bingung, tetapi mereka menuruti saran Maya dan mulai merenungkan kemungkinan itu. Beberapa dari mereka mengangguk, mengingat bahwa Aria memang pergi ke toilet setelah kejadian sebelumnya.
Teman sekelas 1 "Ya, benar juga. Dia mungkin sedang di sana."
Teman sekelas 2 "Mungkin kita perlu memberikan Aria sedikit waktu."
Maya merasa lega karena teman-teman sekelasnya bersikap sabar dan memahami situasi. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas agar Aria kembali dari toilet, berharap bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.
Bintang merasa semakin khawatir dengan ketidakhadiran Aria di kelas. Dia merasa perlu untuk menemui Aria dan berbicara dengannya. Dengan langkah-langkah mantap, dia berdiri dari kursinya dan mengumumkan niatnya kepada teman-teman sekelasnya.
__ADS_1
Bintang "Maaf, aku perlu ke toilet sebentar."
Beberapa teman sekelasnya mengangguk dan mengizinkannya pergi. Mereka melihat bahwa Bintang tampak khawatir, dan mereka mendukungnya untuk menemui Aria dan mencari tahu apa yang terjadi.
Bintang keluar dari kelas dan menuju ke area toilet. Dia mencari Aria dengan harap-harap cemas dan berharap bisa menemui jawaban tentang keberadaan dan keadaannya.
Fauzan duduk di dalam kelas, tetapi pikirannya terus menerus melayang ke situasi yang terjadi di luar. Dia merasa bingung dan khawatir tentang hubungan antara Aria dan Bintang. Fauzan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan dia merasa perlu untuk mencari tahu lebih banyak.
Dia memperhatikan bahwa Bintang pergi mencari Aria dan berpikir, "Kenapa Bintang mencari Aria seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?"
Fauzan merasa cemburu dan khawatir bahwa ada kemungkinan Aria dan Bintang semakin dekat satu sama lain. Meskipun dia berusaha untuk menjaga perasaan dan memahami situasinya, dia tidak bisa menahan perasaan cemas dan bingung yang terus menghantuinya.
Dia merasa perlu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan akan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalam pikirannya.
Bintang tiba di depan pintu toilet dengan hati yang berdebar. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melihat Aria duduk di lantai toilet membuatnya semakin khawatir.
Dia melihat Aria yang terlihat tegang dan sedikit terluka. Tanpa ragu, Bintang mendekati Aria dengan cepat.
Aria mengangkat kepala dan terkejut melihat Bintang di depannya. Meskipun masih dalam keadaan tegang, dia merasa lega melihat Bintang.
"Bintang, aku tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa cewek tadi mendekati aku, menarik ku, dan mengancam untuk menjauhiku darimu."
Bintang merasa marah mendengar apa yang terjadi pada Aria. Dia ingin melindungi dan menjaga Aria tetap aman.
"Jangan khawatir, Aria. Aku ada di sini, dan aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi."
Mereka berdua duduk di lantai toilet, mencoba untuk meredakan situasi yang rumit ini. Bintang merasa semakin bertekad untuk melindungi Aria.
Setelah mendengar apa yang terjadi pada Aria di toilet, Bintang merasa perlu untuk mengubah suasana dan memberikan Aria ketenangan. Dia memutuskan untuk mengajak Aria ke atap sekolah, tempat mereka bisa berbicara tanpa gangguan dan menenangkan suasana.
"Aria, mengapa kita tidak pergi ke atap sekolah? Kita bisa berbicara tanpa gangguan di sana dan mencoba untuk menenangkan situasi ini."
__ADS_1
Aria setuju dengan ide tersebut, dan bersama-sama, mereka menuju ke atap sekolah. Mereka naik ke tangga dan tiba di atap sekolah yang luas dan sepi. Angin sepoi-sepoi menerpa mereka, membuat suasana menjadi lebih tenang.
Mereka berdua duduk di tepi atap, menatap pemandangan kota yang terbentang di bawah mereka. Bintang merasa perlu untuk menjelaskan situasinya kepada Aria.
"Aria, aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin membuatmu merasa takut atau terancam.
Aria merasa lega mendengar kata-kata Bintang, dan dia tahu bahwa Bintang tidak bertanggung jawab atas tindakan cewek-cewek tadi.
"Aku tahu, Bintang.
Mereka duduk di atap sekolah, berbicara dengan tulus satu sama lain, dan mencoba meredakan situasi yang rumit ini. Mereka berharap bahwa percakapan mereka di atap sekolah ini akan membawa kejelasan dan kedamaian kembali ke hubungan persahabatan mereka.
Setelah beberapa waktu berbicara dan merenungkan situasi mereka di atap sekolah, Aria dan Bintang akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing. Mereka merasa bahwa mereka telah mencapai pemahaman yang lebih baik satu sama lain dan telah memutuskan untuk tetap menjaga hubungan persahabatan mereka.
Mereka berdua berdiri di tepi atap sekolah, merasa lebih tenang dan siap untuk menghadapi siswa lain di sekolah. Mereka memberikan senyuman kecil satu sama lain sebagai tanda persahabatan mereka yang kuat.
"Terima kasih, Bintang. Aku sudah merasa lega "
"Sama-sama"
Mereka kemudian turun dari atap sekolah dan kembali ke kelas masing-masing, merasa lebih kuat dan lebih dekat dalam persahabatan mereka. Meskipun ada banyak ketegangan dan situasi rumit, mereka tahu bahwa mereka dapat menghadapinya bersama-sama.
Setelah kembali ke kelas, Bintang masih merasa khawatir tentang apa yang terjadi pada Aria. Dia tidak ingin ada ketegangan lebih lanjut di antara Aria dan cewek-cewek yang mengancamnya. Dengan keberanian, Bintang bertanya kepada teman-teman sekelasnya.
Bintang "Maaf, tapi tadi siapa yang mendekati Aria di toilet?"
Cewek 1"Oh, itu Ashley, Bianca, dan Chelsea. Mereka yang mendekati Aria."
Bintang merasa lega mendengar nama-nama mereka, dan dia memutuskan untuk mengatasi masalah .
Dia berterima kasih kepada teman-teman sekelasnya atas informasi itu dan memutuskan untuk berbicara dengan cewek-cewek tersebut.
__ADS_1
Bintang ingin memastikan bahwa Aria merasa aman di sekolah dan bahwa hubungan mereka sebagai teman tetap terjaga.