Kolonel Jendral , Felix Arthur.

Kolonel Jendral , Felix Arthur.
Rencana 2


__ADS_3

"Eh, sejak kapan sahabatku ini menjadi orang penting?" Felix menggodanya.


"Oy, tapi ini sangat pen-" Kalimat Gary terpotong.


"Ayo kita bicarakan di aula utama saja, ryry!" Rayu Felix dengan mengedipkan satu matanya.


"Huh? Hentikan panggilan itu!" Wajah Gary merona malu.


"Bagaimana kalau kita ke aula utama sekarang?" Tanya Wriston dengan muka kesal.


"I-iya pangeran kami yang tercinta" Felix dan Gary menundukkan kepalanya bersamaan.


Setelah itu mereka bertiga berjalan bersama-sama menuju ke aula utama.


"Sangat mencurigakan" Batin Gary.


"Tamu undangan yang terhormat, sebelumnya kami keluarga Arthur berterimakasih karena telah datang ke acara kami ini. Sebelum tamu undangan pulang, kami mempunyai kabar baik bagi seluruh gadis kerajaan ini" Ucap Dalbert dengan sopan.


"Tunggu, kenapa harus gadis saja yang merasa senang dengan kabar ini?" Batin Wriston.


"Firasat ku tidak enak" Batin Gary.


"Kami mempersilahkan, putra bungsu dari keluarga kami untuk maju ke depan" Ajak Austin menyela.


"Tunggu, jangan - jangan!" Wriston dan Gary bertatapan karena prasangka mereka.


Felix berjalan selangkah demi selangkah menuju ke depan.


"Kami akan menyelenggarakan kompetisi untuk mendapatkan calon istri dari si bungsu" Ucap Austin dengan senyumannya.


"Oh, jadi untuk pertunangan" Felix mengangguk mengerti.


"Tunggu! Pertunangan?!" Batin Felix terkejut.


"Inilah yang ingin ku beritahu dari tadi" Gary dengan muka datar.


"Hm..maafkan kami Gary" Wriston merengek.


"Sudahlah, kita tunggu keputusan Felix" Gary Cuek.


"Garrryyy~" Wriston terus merengek.


"Diamlah!" Gary memukul Wriston.


"Sakit tauu!" Wriston masih merengek.


"Maka dari itu, sekarang kunci mulutmu rapat-rapat!" Gary kesal.


"Bagaimana cara menguncinya?" Tanya Wriston.


"Huh!"Gary kesal.


"Sekarang yang di tanganku ini anggap sebuah kunci. Dan aku kunci mulut lalu ku buang kuncinya. Fuhhh..." Gary meniup tangannya.


"Sekarang duduk dan diam!" Gary kesal.


Wriston patuh seperti anjing.


"Putriku harus ikut dalam kompetisi ini" Seorang bangsawan yang mulai ribut.


"Tidak!Jendral tampan, berani ,dan berwibawa sepertinya harus menjadi menantuku" Bangsawan semakin ribut karena kabar itu.


"Pft..Felix memang tampan. Tapi, mana mungkin dia berwibawa." Gary menahan tawa.

__ADS_1


Karena susasana yang terlalu ramai, itu sangat mengganggu ketenangan Geffrey pribadi.


"Semua tamu undangan di harap tenang!" Geffrey dengan mata sinisnya.


"B-baik" Tamu undangan dengan ketakutan.


"Bagus" Ucap Geffrey.


"Menakutkan" Batin Dalbert.


" Mode gelap kak Geffrey sudah menyala" Batin Frank yang sudah berkeringat dingin.


"Bagi semua gadis kerajaan manapun, kalian berhak ikut serta dalam kompetisi calon istri dari adik bungsu kami ini" Ucap Agatha.


"Eh? Kenapa aku harus bertunangan?" Felix kesal


"Huh.." Geffrey menutup bukunya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Semua tamu undangan diharap untuk pulang karena acara sudah selesai." Geffrey dengan senyuman paksa.


"Tapi, kami masih menikmati pesta ini." Seorang bangsawan menyahut perkataan Geffrey.


"Tuan , sudah ku katakan untuk PULANG bukan?" Geffrey melototi bangsawan itu.


"B-baiklah" Bangsawan itu menunduk ketakutan.


Setelah semua tamu undangan keluar dari kediaman Arthur, Geffrey menjelaskan pada Felix tentang pertunangannya.


"Jadi, ini wasiat terakhir dari ayah?" Tanya Felix.


"Ya, aku, kak Allard dan Frank akan bertunangan di hari yang sama. Tapi, kau adalah yang istimewa. Jadi, harus ada kompetisi untuk mencari pasanganmu" Jawab Geffrey dengan hebat.


"Tapi, aku ingin membalaskan dendam ku terlebih dahulu sebelum menikah" Batin Felix kesal.


"Ah..putra mahkota kau masih di sini." Austin berusaha mengalihkan perhatian.


"Hari itu dilakukan saat Agatha dan Dalbert menikah, pangeran" Sambung Austin.


"Tidak ada cara lain. Felix harus mengikuti alur ini." Batin Gary.


"Wah, selamat Felix kau akan mencari pendamping hidup rupanya" Gary merangkul bahu Felix.


"Oh iya adikku Gary, kau juga akan mencari pasanganmu di kompetisi itu." Agatha tersenyum.


"Hancur sudah" Batin Wriston.


Gary dan Felix juga sempat terkejut. Tapi, Gary sudah menemukan rencana lain. Dia masih bisa mengelak untuk alasan dari kakaknya itu.


"Tidak kak, wanita yang kunikahi harus wanita yang aku cintai." Jawab Gary dengan senyum licik.


"Kau!"Agatha mengepalkan tangannya.


"Sudahlah, biarkan sesuai dengan keinginannya"Dalbert berusaha menenangkan Agatha.


"Berhasil" Batin Gary dengan bahagia.


"Felix, kau tenang saja. Kita akan memilih wanita tangguh di kompetisi itu. Cukup ikuti alurnya" Bisik Gary.


Felix mengangguk mengerti dengan apa yang dibisikkan Gary.


"Hmm..apa rencana mereka kali ini? Aku harus memantau mereka bagaimanapun juga. Mereka adalah dinding yang harus dirobohkan." Batin Wriston curiga.


Austin sangat takut dengan keputusan Felix. Tapi, Agatha selalu ada untuk menenangkan Austin.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memilih gadis yang akan kunikahi di kompetisi itu." Ucap Felix.


"Syukurlah, adik Felix kau akhirnya setuju dengan-"Kalimat Frank terpotong.


"Tapi, aku ada beberapa syarat untuk ini" Sahut Felix dengan tegas.


"Berani sekali kau ber-" Kalimat Geffrey kesal dengan pendapat Felix terpotong karena Dalbert menghentikannya dengan menepuk pundak Geffrey.


"Apa syaratmu?" Dalbert serius.


"Kak, apa-apaan ini?!" Geffrey tidak terima.


"Tenanglah, Geffrey" Tegur Dalbert.


"Syaratku yang pertama adalah kak Dalbert harus menikah terlebih dahulu dan kakak-kakak yang lain juga harus bertunangan di hari yang sama. Maka, setelah satu bulan aku akan mengadakan kompetisi itu." Ucap Felix dengan tegas.


"Baiklah, lalu ada syarat lagi bukan? Apa syaratmu selanjutnya?" Tanya Dalbert.


Dalbert semakin mendesak Felix dengan keadaan.


"Yang kedua, aku saja yang berhak memilih calon i-istriku dari kompetisi itu." Pipi Felix merona merah.


"Pft..kau ini tentu saja kau boleh melakukan itu. Justru itu kewajibanmu" Dalbert menahan tawa.


"Kukira itu sangat penting" Geffrey kembali membaca bukunya.


"Haha..adik Felix, kau ini masih sama saja seperti dulu" Agatha tertawa anggun.


"S-sudah cukup menantu jangan menertawakannya" Austin menahan tawanya.


"J-jangan tertawakan aku!" Felix merona malu.


"Maafkan kami adik Felix, sekarang istirahatlah dikamar mu" Frank menenangkan Felix.


"Kak Wriston, Gary menginapkan disini. Ini sudah larut!" Ucap Felix yang masih merona merah.


Wriston dan Gary menuruti Felix dengan senyumannya. Mereka bertiga masuk ke dalam kediaman Arthur untuk beristirahat.


"Ayahanda, Felix sudah tumbuh dewasa" Batin Frank dengan tersenyum.


"Kalian semua juga harus beristirahat bukan? Aku akan menjenguk Allard di tempatnya" Ujar Austin.


" Baik ibunda, kami akan segera menyusul" Dalbert dengan sopan.


Austin pergi menjenguk Allard yang sedang beristirahat di kamar tidurnya. Saat ini, dia hanya memiliki kelima putranya untuk dapat dipercaya.


"Kasihan sekali nyonya Arthur" Agatha mengeluh lemas.


"Ada apa denganmu, Agatha?" Dalbert panik melihat Agatha yang pucat dan akan pingsan.


"Geffrey!" Teriak Dalbert.


"Iya, aku di sini. Jangan berteriak kak, ini sudah malam!" Geffrey yang risih mendengar teriakkan kakaknya.


Geffrey memeriksa nadi Agatha. Geffrey terkejut karena keaadan Agatha yang begitu lemah.


"Kau ini calon suami yang bodoh ya, kak?" Sindir Geffrey dengan tatapan sinis.


"Apa katamu?!" Dalbert geram.


" Kakak ipar sangat kecapekan. Bagaimana kalau dia jatuh sakit?!" Jawab Geffrey dengan kesal.


"Hei, cukup kalian berdua! Jangan bertengkar di saat malam!" Frank dengan api kemarahan di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2