
Saat Felix baru saja menginjakkan kakinya di teras atas, para anggota 9 bulan merah sudah berbaris untuk berlutut di hadapan Felix. Begitu juga Shania, seorang komando pasukan 9 bulan merah.
"Selamat malam, Jendral" Ucap 9 orang itu dengan serentak.
"Malam" Jawab Felix dengan sinis.
"Aku memiliki sebuah misi untuk kalian lakukan" Felix dengan tatapannya yang tajam.
"Kami pasukan 9 bulan merah siap menjalankannya." Shania menganggukkan kepalanya.
Pasukan 9 bulan merah adalah pasukan khusus rahasia yang dibentuk dari pasukan pedang berdarah. Pasukan pedang berdarah sendiri, selama ini sudah mengikuti Felix saat berperang.
Dan mereka banyak berjasa untuk Felix.
Pasukan pedang berdarah didirikan oleh Rery, ayah kandung dari Felix.
Rery menyerahkan tanggung jawab pasukan pedang berdarah pada Felix sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke-17.
Felix mengasah pasukan ini hingga bertahun-tahun lamanya dan sekarang pasukan pedang berdarah memiliki kekuatan tempur yang tidak tertandingi.
"Misi kalian kali ini adalah ikut denganku bersama Gary ke kerajaan Slayer setelah kompetisi para wanita itu." Felix menopang kepalanya.
"Maaf atas kelancangan saya tuanku, apa tujuan kita pergi ke sana?" Gideon penasaran.
Gideon, seorang pria gagah yang umurnya dua tahun lebih tua dari pada Felix. Gideon berperan sebagai pemimpin pasukan bagian pembantaian di pasukan pedang berdarah.
"Hentikan itu!" Shania melirik dengan tajamnya.
"Wanita ini memang pantas untuk ditakuti" Batin Gideon. Gideon gemetar melihat tatapan tajam dari Shania.
"Shania, kau tidak pantas bertingkah seperti itu kepada bawahanmu" Felix menengahinya.
"Maafkan saya ,tuan" Shania bersujud.
"Sudahlah lupakan itu. Jadi, Gideon aku akan memberitahumu misi kita kali ini adalah balas dendam atas kelakuan Alexander" Felix menggertak kan giginya.
"Ah.. sial Felix marah. Tidak boleh di sini Felix!" Batin Myra.
Myra, wanita bangsawan cantik yang juga teman sebaya seperti Gary. Dia menjadi Bendahara dari pasukan pedang berdarah.
"Saya mewakili semua nya, siap untuk melaksanakan perintah tuan" Myra berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Nona Myra?! Oh... aku mengerti." Batin Shania.
"Yang no.... , maksud saya yang Myra katakan benar tuanku" Shania sekali lagi bersujud.
"Lupakan itu, Sekarang berikan laporan kalian tentang pasukan pedang berdarah" Ucap Felix tegas.
"Kami bertiga badan pengawas pedang berdarah meminta izin untuk melapor" William, ketua dari badan pengawas pasukan pedang berdarah bersujud untuk memberi hormat.
"Berdiri dan mulai bacakan hasil laporan kalian bertiga. Silahkan mulai darimu, Alice" Felix menatap Alice.
"Sial.. dia menatapku. Alice tidak boleh seperti ini. Kau harus fokus." Batin Alice.
"Alice melaporkan bahwa anggota wanita di pasukan pedang berdarah sudah sedikit bertambah jumlahnya. Lalu, tidak ada satupun yang dapat saya curigai" Alice membacakan laporannya dengan tenang.
"Selanjutnya,John." Felix berusaha mengerti.
__ADS_1
"Lapor tuan, tidak ada hambatan apapun dalam anggota pria. Hanya saja, ada banyak rekrutan anggota baru. Jadi, masih ada yang belum mengerti tentang asal usul pasukan ini" John membacakan laporannya dengan sangat jelas.
"Hmm... begitu. Jadi, William sebagai ketua badan pengawas. Simpulkan dan katakan apa saranmu untukku?" Tanya Felix dengan tersenyum kecil.
"Saya menyarankan agar tuan berkesempatan hadir kembali ke markas utama dan melatih mereka. Ini bertujuan agar mereka lebih mengerti mengenai apa perlunya pasukan ini. Mohon ampun atas kelancangan saya." William bersujud.
"Berhenti bersujud! Aku akan menampung pendapatmu terlebih dahulu" Ucap Felix dengan tegas.
"Terimakasih, tuanku" William kembali menegakkan badannya.
"Alfred, tolong catat pendapat dari William tadi!" Felix menyuruh seorang pria berkacamata.
"Siap, tuanku" Alfred menulis pendapat dari William.
Alfred adalah pria tampan berkacamata yang memiliki peran besar bagi pasukan pedang berdarah maupun pasukan 9 bulan merah. Felix memberikannya posisi sebagai penasehat pasukan. Selain itu, dia juga teman sebaya seperti Myra dan Gary. Bisa dikatakan mereka berempat adalah sahabat dekat.
"William,Alice,John" Panggil Felix dengan tegas.
"Siap, tuanku?" Mereka bertiga dengan serentak menegakkan badannya.
"Kalian telah menjalankan tugas kalian sebagai badan pengawas dengan sempurna. Aku pribadi, mengucapkan terimakasih kepada kalian. Kalian sekarang aku persilahkan untuk melanjutkan tugas kalian" Felix tersenyum manis.
"Tidak tuanku, ini merupakan kewajiban bagi kami" William bersujud dengan pipi yang merona.
"Sial senyumannya!" Batin William.
"Iya tuanku, ketua memang benar. Ini sudah menjadi kewajiban kami." John ikut berpendapat.
"Ya..ya... terserah kalian." Felix tertawa kecil.
"Senyuman komando adalah yang terbaik" John meleleh.
"Alice, John. Ayo kita pergi!" Ajak William.
"Siap, ketua" John dengan tanggap memnjawab ajakan William.
"Alice?" William heran.
"Senyumannya..."Alice masih terpesona dengan senyuman pertama yang diberikan Felix kepada Alice. Begitu terpesona hingga mimisan.
"Aduh, kenapa aku harus memiliki kakak yang bodoh seperti ini?" John mengeluh dalam batinnya.
"Alice?" Shania khawatir.
"Ah.. ini..ini sudah biasa, komando. Kami akan pergi. Selamat malam semuanya." William menyeret Alice dan pergi bersama John.
Setelah mereka bertiga pergi, 6 anggota lainnya dan Shania berdiri dengan tegak tanpa perintah dari Felix. Karena mereka bertujuh sangat berharga bagi Felix.
"Ahahahahah"Felix terus tertawa.
"Bodoh! Berhenti tertawa!" Alfred memukul kepala Felix.
"Aduh, sakit sekali" Felix mengerucutkan bibirnya.
"Itu salahmu!" Alfred memalingkan dirinya.
"Felix yang cemberut, benar-benar lucu" Batin Alfred.
__ADS_1
"Tsundere seperti biasa" Zane dengan muka datar.
Zane, Sepupu Felix dari keluarga ibunya. Dia masih berusia 17 tahun. Meskipun Zane terlihat polos, dia adalah pelatih anggota khusus berpedang di pedang berdarah.
"Ada apa Zane? " Tanya Victor sembari menepuk bahunya.
"Tidak ada" Zane merasa risih dengan keramahannya.
Victor, adik dari Shania. Berbeda dengan kakaknya Victor sangat ramah tapi menakutkan. Dia ahli dalam penyamaran. Felix menempatkannya sebagai pemimpin pasukan pengintai di pasukan pedang berdarah.
"Kenneth, apa kau sudah makan? Kenapa kau tidak cerewet?" Gideon menggoda Kenneth.
"Ah...kak Gideon aku hanya ...." Kenneth lesu.
"Hanya?" Gideon yang semakin bingung.
"Kakak ku menyita setengah uang jajanku" Kenneth merengek.
Kenneth, Adik kandung dari Myra sang bendahara pasukan. Dan juga adik kelas dari Felix. Kenneth memiliki ketampanan yang luar biasa dari rambut pirangnya. Tapi, tidak untuk bagian otaknya. Mata Kenneth tidak pernah salah dalam pemilihan senjata. Meskipun otaknya sedikit miring, kreativitas dalam pembuatan senjata dia adalah ahlinya.
Karena keahliannya, Kenneth di tempatkan sebagai pengawas persediaan senjata pasukan pedang berdarah.
"Myra, kau memotongnya lagi?" Gideon merasa iba.
"Biarkan saja dia seperti itu, kak Gideon" Myra sinis.
"Ah.. hentikan ini. Kenneth nanti temui aku."Felix mengedipkan matanya.
"Hah..uang jajan!" Batin Kenneth bahagia.
" Baik, kak Felix" Kenneth tersenyum manis.
"Ughh.." Felix mimisan melihat senyuman Kenneth.
"Kak Gideon, kau punya sapu tangan?" Felix menahan mimisannya.
"Kupakai!" Gideon yang juga ikut mimisan menahannya dengan sapu tangan.
"Kalian berdua ini berlebihan sekali" Myra tersenyum kecil.
"Ini kak Felix, pakai punyaku" Victor memberikan sapu tangannya.
"Victor! Pakai panggilan 'tuan'!" Teriak Shania.
"Baik,kakak" Victor menunduk lesu.
"Biarkan saja, Shania" Felix tersenyum.
"Ya, lagipula... berikan sedikit kebebasan kepada adikmu" Myra menepuk bahu Shania dengan perlahan.
"Felix, ayo kita diskusikan hal itu sekarang!" Bisik Alfred.
"Baiklah" Felix menganggukkan kepalanya.
"Shania, bisa tolong panggil Gary kemari?" Felix dengan serius.
"Tidak perlu, aku sudah di sini" Gary tersenyum jahat. Dan Gary berjalan selangkah demi selangkah menuju Felix.
__ADS_1