Kolonel Jendral , Felix Arthur.

Kolonel Jendral , Felix Arthur.
*15


__ADS_3

"Jika kalian bertanya-tanya siapa aku maka aku adalah wakil dari Jendral Felix" suara Gary tiba-tiba muncul di tengah-tengah pasukan pedang berdarah dan tersenyum pada Felix"


"Tukang telat" Batin Felix dengan wajah datar.


"Kalau begitu kalian semua di sini sekarang adalah pasukan pedang berdarah" ucap Felix dengan bangga.


Semuanya bersorak gembira mendengar perkataan dari Felix. Namun, Alfred tiba-tiba datang membawa selembar gulungan kertas dan membisikkan sesuatu ke Felix.


"Oh ya..ya katakan saja" Ucap Felix memundurkan langkahnya.


"Aku akan mengumumkan siapa saja 4 kapten dari divisi pembagian pedang berdarah" Ucap Alfred.


Alfred menyebutkan keempat nama dan mereka yang merasa terpanggil maju ke depan. Dia terus mengamati kapten dari divisi pasukan pedang berdarah. Felix terkejut saat melihat wanita yang memakai gelang 2 pedang.


"apa dia masih hidup?" batinnya.


Felix tanpa pemikiran panjang langsung menarik tangan perempuan itu ke ruangannya. Dia menerkam wanita itu dinding dengan alasan yang tak logis.


"siapa kamu?"


"Jendral tolong lepaskan saya dulu" ucapnya sambil menatap wajah Felix.


"Felix hentikan!" Gideon melerai mereka.


"tenanglah, Felix hanya sedang sakit kau boleh pergi" ucap Myra menenangkan wanita itu.


"Lepaskan aku" meronta.


"Apa yang kamu lakukan?!" Gideon membentak Felix untuk pertama kalinya.

__ADS_1


"kak Gideon sudah lah jangan dengan cara ini" ucap Zane.


Myra menghela nafas panjang lalu mendudukkan Felix ke sofa. Suara langkah yang berlarian semakin mendekat. Suara itu langkah kaki Gary.


"Felix, bagaimana ..dia" Ucap Gary terengah-engah.


"wanita itu di tangannya ada kalung pemberian kakek padaku waktu itu"


"apa kakak yakin?" Zane menyahuti gumamnya.


"aku yakin bahkan..."


Myra memberikan obat penenang pada Felix agar tidak memperburuk kondisinya yang saat ini sedang memburuk.Dia membaringkan badan Felix di sofa dan menaruh kepalanya di bantal.


"Yang di katakan Felix mungkin ada benarnya, seingatku kalung itu tidak ada duplikatnya dan di buat sendiri oleh tuan Arthur" Gery menyelimuti tubuh Felix dengan selimut kesayangan Felix.


"tutup mulut kalian rapat-rapat dan cepat lakukan tugas kalian!" Gary dengan tegas memberikan perintah.


Dengan cekatan mereka semua meninggalkan ruangan Felix. Gary dan Felix, hanya tersisa 2 sahabat itu di dalam ruangan.


"Aku ingin kabur"


"Felix, bertahanlah jangan menyerah lagi"


"Aku tidak bisa lagi"


"Felix"


"Ubahlah diriku seperti waktu umur ku 17 tahu. Aku lelah hidup seperti ini"

__ADS_1


Tatapan Gary dari yang khawatir menjadi kelam mendengar kata-kata itu dari mulut Felix. Dia sangat membenci Felix pada saat itu.


"Akan kah kamu mengotori tangan mu dengan darah orang yang tidak bersalah?"


"Ya, Gary lebih baik aku seperti itu"


Setelah mendengar kata-kata itu tidak ada jeda 1 detik pun, Gary langsung menampar Felix. Felix hanya terkejut dan tidak tahu apa-apa.


"Gary!"


"Apakah itu lucu bagimu?"


"Aku hanya ingin hidup dengan cara ku sendiri. Apa itu salah?!" "Tidak, tapi cara mu yang ini salah!"


"Terserah padamu"


Felix langsung melukai kedua kaki Gary dengan pedang. Gary langsung duduk berlutut tidak bisa berdiri.


"Sampaikan salam ku pada kakak dan ibunda"


Felix keluar melalui jendela dan pergi dengan kecepatan penuh. Gary hanya menangis, dia menangis bukan karena sakit tapi dia menangis karena tidak bisa menghalangi Felix.


"Gary aku membawakan mu teh... Gary!"


Myra langsung menjatuhkan gelas, langsung menolong Gary. Gary hanya menangis tidak berdaya. Badannya bergemetar dingin sedangkan Myra bersusah payah mengobati kakinya Gary.


"Berhenti menangis ceritakan padaku apa yang telah terjadi jangan menangis terus"


Gary hanya menangis tak henti-henti. Myra hanya bisa berpasrah dan tidak bisa memaksa. Myra hanya bisa berinisiatif membawa Gary ke Agatha. Agatha yang melihat keadaan adiknya langsung memeluk dan berusaha menenangkan Gary. Kakak-kakak Felix dan Austin melihat Gary dengan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


__ADS_2